Unika Merawat Bhinneka Tunggal Ika
Selasa, 14 September 2021 | 17:47 WIB

Webinar Kebangsaan Merawat Kebhinekaan di Masa Pandemi secara online di Unika Soegijapranata

Untuk membekali para mahasiswa dengan karakter luhur dalam berbangsa, sesuai dengan patron Unika Soegijapranata yang notabene juga pahlawan nasional Indonesia Mgr Albertus Soegijapranata, maka pada hari Sabtu (11/9) telah diselenggarakan kegiatan Webinar Kebangsaan Merawat Kebhinekaan di Masa Pandemi secara online, melalui ruang virtual Unika dan dibagikan melalui laman youtube.

Hadir dalam kegiatan tersebut, para narsumber yang mewakili pemuka agama yaitu Romo Aloysius Budi Purnomo Pr dari Campus Ministry Unika Soegijapranata, Bapak Suwarto dari Forum Komunikasi Umat Buddha Jawa Tengah, Bapak Eko Pujianto S Ag MPd H dari Parisada Hindu Dharma Jawa Tengah, Pdt Sediyoko MSi selaku Ketua Persekutuan Gereja Kristen Semarang, dan Gus Tedi Kholudin PhD dari UIN Walisongo.

Membuka dengan sambutan dalam webinar ini, Dr V Kristina Ananingsih ST MSc selaku Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unika Soegijapranata menyatakan rasa syukur karena para narasumber bisa hadir dalam webinar kebangsaan Unika.

“Webinar yang kita selenggarakan ini merupakan penguatan dari pembekalan yang telah Unika berikan kepada para mahasiswa baru, khususnya pada sesi religion time. Dan bersyukur pada saat ini telah hadir para pemuka agama yang akan lebih menguatkan para mahasiswa sesuai tujuan pembentukan karakter KKPVT (Kritis, Kreatif, Peduli, Visioner dan Tangguh) bagi para mahasiswa yang menempuh studi di Unika Soegijapranata,” ucap Dr Kristina.

Para mahasiswa juga mendapatkan pembekalan untuk mengenal Mgr Albertus Soegijapranata yang menjadi patron Unika. Demikian juga nilai-nilai yang dihidupi dalam pendidikan tinggi di Unika Soegijapranata khususnya menyangkut tagline Unika yaitu Talenta pro Patria et Humanitate.

Juga dengan nilai-nilai keberagaman adalah karunia, yang mendorong para mahasiswa untuk hidup dalam perbedaan. Dan kemampuan untuk hidup dalam perbedaaan adalah salah satu kompetensi yang dibutuhkan dalam hidup, tegasnya.

Sedang  Pdt Sediyoko MSi dalam paparan materi kembali mengingatkan tentang pluralisme yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. “Format yang tepat untuk menyatukan berbagai perbedaan di Indonsia adalah melalui Bhinneka Tungal Ika. Karena ini adalah yang ditetapkan sebagai simbol pemersatu pluralitas bangsa Indonesia,” katanya.

Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya sebagai slogan saja tetapi sebagai falsafah yang diharapkan bisa dijiwai oleh setiap warganegara Indonesia di dalam membangun spirit nasionalisme sebagai suatu bangsa.

Dalam materi penjelasannya Bapak Suwarto dari Forum Komunikasi Umat Buddha Jawa Tengah juga mengingatkan bahwa yang bisa merawat semua elemen bangsa Indonesia  salah satunya adalah generasi muda, dalam hal ini para mahasiswa yang saat ini masih kuliah di Unika Soegijapranata.

Para generasi muda punya tanggung jawab untuk merawat kebhinnekaan, dengan langkah nyata misalnya anjangsana dan turut memperhatikan dan membagikan APD saat terjadi pandemi covid-19. Demikian juga pembagian sembako dan APD yang diperoleh melalui pengumpulan donasi dari para pengusaha dari berbagai kalangan dan latar belakang agama saat PPKM, sebanyak kurang lebih 2000 ton beras ke 44 kabupaten dan kota di Jawa Tengah serta DIY baik kerjasama dengan TNI POLRI maupun kelompok lintas agama seperti Gusdurian, FKUB Jateng, JAI, Humanity Plus dan sebagainya, tutur  Bapak Suwarto.

Bapak Eko Pujianto S Ag MPd H dari Parisada Hindu Dharma Jawa Tengah sebagai salah satu narasumber, juga memaparkan dinamika kebhinekaan sebagai umat Hindu yang mengejawantahkan dasar pemikiran terhadap sesama.

“Manusia itu hendaknya selalu merealisasikan ajaran Tat Twam Asi, dalam hidup dan kehidupan ini,” ungkapnya. Tat Twam Asi  adalah berarti aku adalah kamu, dan kamu adalah aku. Maka apabila kita menyakiti orang lain berarti sama halnya menyakiti diri kita sendiri.

Ajaran Hindu juga mengenal ‘Wasudhaiwa Kutumbhakam’ artinya kita semua bersaudara. Dengan dasar inilah maka meski ada perbedaan budaya ataupun agama, tidak membuat saling curiga dan terkotak-kotak, melainkan tetap menjadi saudara.

Sementara Gus Tedi Kholudin PhD menyoroti dengan adanya pandemi maka hubungan atau ikatan komunikasi Orangtua dengan anak justru semakin menguat. Hal tersebut karena sebelum pandemi, menurut yang diketahuinya, banyak anak-anak di negara maju yang merasa ‘Home Alone’ karena selalu ditinggal oleh Orangtuanya bekerja.

Ikatan komunikasi yang kuat tersebut juga bisa menjadi modal untuk membangun family resilience atau ketahanan keluarga, katanya.

Dan Gus Tedi dalam paparannya juga banyak mengulas tentang mengoptimalkan fungsi rumah ibadah di masa pandemi.

Sedang Romo Aloysius Budi Purnomo juga bercerita tentang kunjungan dari umat berbagai kalangan agama yang hadir untuk menguatkan dan meneguhkan pasien yang sedang sakit covid-19 dan dirawat di Rumah Dinas Wali Kota Semarang, agar bisa sembuh kembali.

“Kami bernyanyi bersama, berdoa bersama dalam keberagaman tanpa saling curiga dan prasangka buruk,” ungkapnya.

Disamping itu, jelas Romo Budi, Unika juga selalu merawat keberagaman dan Kebhinneka Tunggal Ikaan seoptimal mungkin sesuai dengan yang disampaikan oleh patron Unika Soegijapranata tentang filosofinya yang bisa diterjemahkan sebagai 100% religius apapun agama dan kepercayaannya, dan 100% nasionalis apapun kebangsaannya. (FAS)

Kategori: ,