Tangkap Peluang Percepatan Digitalisasi
Senin, 13 September 2021 | 15:12 WIB

SM 12092021 Tangkap Peluang
CEO Educa Studio, Andi Taru Nugroho SKom MCs berpendapat, kemajuan teknologi sekarang ini mendorong orang menuju ke arah digitalisasi di segala sektor kehidupan.

Menurutnya, terlepas dari dampak buruknya bagi kesehatan dan perekonomian negara-negara terdampak, pandemi Covid-19 juga memberikan hikmah tersendiri. Salah satunya ialah akselerasi percepatan teknologi digital di setiap lini. "Pandemi ini harus menjadi peluang percepatan digitalasi. Peluang bukan hanya untuk mengembangan permainan gm, melainkan bisa juga untuk pegembangan usaha promosi produk UMKM secara digital," katanya.

Andi mencontohkan, hasil usaha pertanian atau peternakan bisa tawarkan untuk dijual melalui digital marketing melalui internet atau online. Digitalisasi ini penting untuk mengikuti tren dunia ke depan, karena majuan teknologi yang tidak bisa dihindari akibat perkembangan internet yang mampu menembus berbagai belahan dunia.

"Dulu sebelum pandemi, saya menawarkan dalam pelatihan-pelatihan UMKM untuk mencoba memasarkan produknya melalui digital atau online. Awalnya banyak yang tidak tertarik, karena tanpa pemasaran online pun banyak pembeli datang. Baru pada saat pandemi, banyak orang mengurangi kontak fisik, sehingga menyadari pentingnya pemasaran online ini," katanya.

Di masa pandemi ini, lanjut dia, masyarakat akhirnya terpaksa menerapkan kegiatan ekonomi secara digital, karena ada pembatasan pertemuan fisik guna mencegah penyebaran virus. Peluang percepatan digitalisasi ini harus dimanfaatkan masyarakat. Andi menyebut, Indonesia berpotensi untuk menangkap peluang di era digital ini. Pertama, negara kita memiliki bonus demografi yang besar. Termasuk masyarakat yang memiliki kreativitas dan bakat-bakat besar.

"Hanya, ekosistem ini yang belum bisa dibentuk. Ini memerlukan peran semua pihak, baik dunia industri, pendidikan, dan kebijakan pemerintah. Semua harus bersinergi. Kalau ini tidak dimanfaatkan, yang masuk nanti pemain luar," ungkapnya.

Jadi Produsen
Andi mendorong masyarakat Indonesia ini bukan hanya menjadi konsumen, tetapi produsen. Misal di era digital sekarang ini, yang sedang tren adalah permainan gim online. Diharapkan ke depan, banyak kreator Indonesia yang menciptakan gim online bertaraf intemasional. Bukan seperti sekarang ini, banyak pengguna gim ciptaan luar negeri yang tentunya memberikan keuntungan bagi pencipta gim itu. Atau masyarakt Indonesia perlu menciptakan bisnis-bisnis rintisan.

"Semakin banyak kreator dan proses pembimbingan yang benar, akan memberikan keuntungan. Perbanyak kretaor misalnya dari mereka yang kecanduan gim, bisa menjadi pembuat gim dan menjadi raja di negeri sendiri. Ini baru dinamakan industri bukan sekadar konsumen," ucapnya.

Educa Studio yang didirikan Andi merupakan studio gim yang berlokasi Kota Salatiga. Sejak 2011 konsisten mengembangkan berbagai macam gim bertemakan pendidikan yang unduhan aplikasinya pernah terbanyak di Indonesia. Produknya juga bertaraf intemasioal yang diniknati dari berbagai negara, juga mendapatkan penghargaan intemasional.

Pemimpin Redaksi Suara Merdeka Goenawan Permadi saat pembukaan diskusi ini menyampaikan, Suara Merdeka sebagai media arus utama terus menyampaikan kepada masyarakat untuk mengubah perilaku menjadi taat pada protokol kesehatan Covid-19, seperti memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan pakai sabun. Upaya itu antara lain dengan menggelar diskusi virtual seminggu sekali dan sudah berlangsung sejak awal pandemi tahun lalu.

 


Kompetisi Lebih Terbuka

Kompetisi di era digital saat ini lebih terbuka, terlebih setelah adanya pandemi Covid-19. Sebelum pandemi, masyarakat melakukan sesuatu secara tatap muka. Namun sekarang ini semuanya serba digital. Otomatis kompetisi menjadi lebih terbuka. "Pada awal-awal pandemi saya ingat sekali Bapak Presiden mengatakan kita bekerja dari rumah," kata Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Riset Udinus Dr Pulung Nurtantio Andono ST MKom saat Ngobrol Virtual melalui zoom meeting, kemarin.

Salain Pulung Nirtantio, acara bertajuk "Ada Pandemi, Ada Aneka Industri yang Justru Berkembang" juga menghadirkan sejumlah narasumber lain, seperti Pengamat Budaya Digital Unika Soegijapranata, Prof Dr F Ridwan Sanjaya MS IEC. Kemudian, Sekretaris Komite Ekonomi Kreatif Kota Semarang dan Pendiri Digital Talenesia Foundation Bambang Supradono dan CEO Educa Studio Andi Tarut Nugroho SKom MCs. Menurut Pulung, perubahan perekonomian di masa pandemi tak lepas dari adanya perubahan zaman. Adanya perubahan tersebut, masyarakat masih bingung karena melakukan pekerjaan dari rumah, bagaimana caranya, bagaimana teknisnya? Sebab kalau bekerja dari rumah, mindset harus ada perangkat komputer. Memang harus ada persiapan, karena mau tidak mau di zaman sekarang ini secara tidak sadar komputer sudah dalam genggaman tangan manusia.

"Telepon pintar sudah mencakup komputer. Yang dicari adalah hasil, bukan proses. Yang penting bekerja dari rumah ada hasilnya," terangnya.

Adanya kondisi tersebut, banyak bermunculan ekonomi kreatif, seperti industri startup, misalnya industri startup game yang menyasar milenial.

Ia melihat saat ini banyak industri yang berkembang, antara lain industri game. Industri ini didukung terus oleh pemerintah. Menurutnya, industri game saat ini sedang naik pesat. Namun, harus diawasi karena memiliki dua sisi seperti mata uang. Satu sisi baik, satu sisi lainnya buruk, tinggal bagaimana cara mengaturnya dan mengarahkannya.

"Utamanya yang memiliki anak harus diarahkan bahwa main game memang bagus tapi kalau berlebihan jadinya buruk. Karena itu, butuh pengawasan," katanya.

Selain itu, menjadi youtuber, konten kreator juga masuk dalam ekonomi kreatif yang menghasilkan finansial. Sudah banyak masyarakat Indonesia yang kreatif dalam memanfaatkan era digital. Misalnya memasak, menikmati menu makanan, itu bisa menjadi suatu konten. Bahkan kehidupan seseorang sehari-hari bisa menjadi konten asalkan bisa mengolah dengan baik, sehingga disukai penonton.

"Coba kalau kita melihat beberapa konten kreator juga melakukan demikian, ternyata subkribernya banyak sekali," katanya.

Menurutnya, industri-industri startup saat ini harus terus digerakkan. Ia bercerita, pada 2018 Udinus pemah memiliki startup bernama Madang. "Namun, telenta pada waktu itu belum siap akhirnya aplikasi Madang hanya bertahan setahun, meskipun sudah mendapatkan investor," terangnya.

Saat ini ada pola perubahan dari generasi muda yang dianggap sebagai generasi rebahan. Artinya di rumah raja, tidak melakukan apa-apa, tapi mendapatkan uang. Inilah yang dicari para konten kreator.


Industri Ekonomi Kreatif Naik Daun

Industri ekonomi kreatif naik daun saat masa pandemi. Terutama industri yang bergerak di bidang digitalisasi yang kini semakin masif selama pandemi virus Covid- 19.

Sekretaris Komite Ekonomi Kreatif Kota Semarang dan Pendiri Digital Talenesia Foundation Bambang Supradono menuturkan, suatu fenomena yang luar biasa di masa pandemi ini. Digitalisasi makin masif selama pandemi. Ekonomi digital menjadi panglimanya. Sebelumnya peradaban sudah mulai dibaca oleh Bill Gates saat itu, akan ada sebuah virus yang membuat sejumlah negara harus melakukan lompatan melaksanakan digitalisasi ke semua kegiatan. Negara-negara besar seperti Tiongkok, bahkan sudah melakukannya. Termasuk di negara Indonesia. Kebutuhan teknologi menjadi penting. Sejumlah industri melakukan penetrasi pasar di masa pandemi. Seperti yang dilakukan Shopee Food. Melihat potensi orang Asia yang hobi makan disusul dengan berbagai kemudahan, menjadi faktor pendorong mengapa Shopee Food banyak dipilih konsumen. Sama halnya dengan yang dilakukan Gojek dan Grab.

"Kondisi ini berkorelasi pada meningkatnya penjualan sepeda motor. Sektor informal juga mengalami peningkatan. Menyedot tenaga kerja informal di bidang digitalisasi. Pada akhirnya banyak tenaga industri kreatif yang masuk," tuturnya saat Ngobrol Virtual Suara Merdeka bertema "Ada Pandemi Ada Industri yang Berkembang" melalui Zoom Clouds Meeting, Kamis (9/9) lalu.

Dia mengatakan, sayang masih banyak kendala yang ditemui di Indonesia. Misalnya, penetrasi infrastuktur yang mendekatkan masyarakat untuk mudah mengakses internet yang masih belum optinial. Seperti di daerah pedalaman yang belum dapat mengakses teknologi dengan maksimal Infrastruktur inilah yang menjadi kendala dalam industri ekonomi kreatif. Karena selama ini hanya di kota-kota besar yang akses internetnya prima. Karena itu, pihaknya berharap kepada pemerintah untuk menyiapkan infrastruktur agar industri ekonomi kreatif ini bisa terus berkembang. Selama ini ia terus mendorong lembaga struktural komite ekonomi kreatif untuk bagaimana memanfaatkan teknologi. Pemerataan harus dilakukan dengan mengintegrasikan dan menggabungkan potensi yang ada. Kesejahteraan industri ekonomi kreatif adalah kunci. Namun harus ada pemerataan infrastruktur.

"Jadi, nantinya kita bisa melaju ke revolusi industri 4.0. Ke depan kita harus bisa mendorong itu semua. Bahkan di negara Jepang sudah memasuki Smart Society dan melaju ke Technology For Hummanity," ujarnya.

Pengamat Budaya Digital Unika Soegijapranata Prof Dr F Ridwan Sanjaya mengatakan, Word Economy Forum mengungkapkan jika dunia sekarang ini mengalami restart selama pandemi. Akan banyak aplikasi yang muncul saat pandemi. Tinggal aplikasi mana saja yang akan dimanfaatkan masyarakat selama pandemi. Berbagai layanan aplikasi ramai dimanfaatkan orang dan akhirnya menghasilkan pundi-pundi uang cukup tinggi. Budaya digital semakin marak selama pandemi. Utamanya industri startup yang begitu gencar memanfaatkan digitalisasi dalam berpromosi. Berbagai perubahan dilaksanakan dengan memanfaatkan digital. Teknologi digital dan aktivitas manusia dewasa ini sudah tidak bisa dipisahkan. Sangat naif apabila teknologi dipisahkan oleh aktivitas manusia.

►Suara Merdeka 12 September 2021 hal. 12

Kategori: