Sertijab dan Pelantikan Dr Ferdinandus Hindiarto SPsi MSi Sebagai Rektor Unika Soegijapranata Periode 2021-2025
Rabu, 1 September 2021 | 11:16 WIB

Dr Ferdinandus Hindiarto SPsi MSi selaku Rektor Unika Soegijapranata periode 2021-2025 (nomor dua dari kiri), dengan Prof Dr F Ridwan Sanjaya MS IEC sebagai Rektor Unika periode sebelumnya (nomor dua dari kanan)

Dengan beralihnya estafet kepemimpinan Unika Soegijapranata dari Rektor sebelumnya yang dijabat oleh Prof Dr F Ridwan Sanjaya MS IEC kepada Rektor Unika Soegijapranata periode 2021-2025 yaitu Dr Ferdinandus Hindiarto SPsi MSi yang baru dilantik pada Selasa (31/8), telah memberi warna baru dalam kepemimpinan Unika Soegijapranata di masa mendatang.

Seperti yang dipaparkan oleh Prof Ridwan Sanjaya selaku Rektor periode sebelumnya dalam sambutan serah terima jabatan, menyebutkan adanya program UnikaConnect yang terakselerasi dalam empat  utama.

“Dalam periode kepemimpinan 2017-2021, program kerja yang disebut sebagai ‘UnikaConnect  merupakan pengejawantahan usaha universitas dalam menghubungkan talenta-talenta di dalamnya dengan berbagai kesempatan dan hal-hal baik di sekitar kita,” paparnya.

Dalam rencana strategis, program kerja tersebut dijabarkan dalam empat program utama, yaitu 1) Peningkatan kapasitas program studi (dosen, mahasiswa, dan tendik), 2) Pengembangan institusi dan nilai-nilai organisasi, 3) Kemitraan dan peluang-peluang baru, serta 4) Kesejahteraan dosen dan karyawan.

Sedang Dr Ferdinandus Hindiarto SPsi MSi selaku Rektor Unika Soegijapranata pada periode berikutnya  menyampaikan  program kerja ‘Inflamare Humanitatem’ artinya terus menerus menyalakan kemanusiaan, yang akan menjadi pedoman dalam periode kepemimpinan 2021 hingga 2025, untuk menjawab tantangan di masa mendatang.

“Kita dalam beberapa tahun terakhir telah terbantu dengan kehadiran teknologi informasi yang luar biasa, sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung terus di Unika. Namun kita juga menyadari bahwa dalam proses tersebut ada ruang-ruang kosong di sana. Dan di situlah akan kita ‘hadirkan kembali’ secara lebih kuat di Unika Soegijapranata,” ucapnya.

Menurutnya pendidikan adalah membentuk, menentukan dan mengubah hidup manusia. Teknologi informasi kami tempatkan untuk melengkapi proses pendidikan itu, tetapi yang utama memang harus ada kehadiran dari seluruh dosen dan tenaga kependidikan dalam menggembleng dan mendidik mahasiswa.

Mendidik atau mengajar bukan hanya cukup mentransfer ilmu pengetahuan. Sebab jika mendidik itu hanya mentransfer ilmu pengetahuan, maka saat ini sebenarnya tidak perlu lembaga pendidikan, karena para mahasiswa bisa memperoleh pengetahuan itu di dunia maya, lanjutnya.

Maka untuk menjawabnya, dosen tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan saja , tetapi dia juga harus bisa menjadi model dan roh di dalam proses pendidikan itu.

Dengan demikian akan terwujud makna filosofis yang mendasarkan pada pemikiran dari Romo Drijarkara, yaitu pendidikan adalah fundamental atau sesuatu yang sangat mendasar, dengan mengangkat manusia muda setinggi-tingginya  sehingga mereka bisa menjalankan hidup sebagai manusia yang memiliki kemerdekaan untuk memilih, menentukan sikap dan tindakannya.

“Untuk mewujudkan itu, perlu interaksi langsung, dialog, berdiskusi, role model  adalah metode yang terbaik. Lalu teknologi informasi berkolaborasi untuk melengkapi konteks yang hari ini dan masa depan,” terang Dr Ferdinandus selanjutnya.

Kemudian dijelaskan lebih lanjut oleh Dr Ferdinandus, makna lain dari pendidikan yang fundamental sebagai buah pemikiran dari Romo Drijarkara yaitu pendidikan harus mengarah pada cinta yang murni atau mengarah pada kepentingan yang dicintai yaitu mahasiswa, dan bukan kepentingan yang mencintai.

Sehingga dengan demikian kurikulum harusnya memotret pemikiran-pemikiran mahasiswanya bukan pemikiran dosennya. Lalu dosen berfungsi sebagai fasilitator yang mengarahkan, menemani dan mendampingi.

Makna  pemikiran lainnya dari Romo Drijarkara tentang pendidikan yang fundamental adalah pada hominisasi dan humanisasi. Hominisasi adalah membuat manusia muda yang kita didik, mengerti  dirinya, situasinya, kemudian bisa menentukan sikap dan perilakunya. Sedangkan humanisasi adalah menjadi mahasiswa  sebagai manusia seutuhnya, dengan menjadikan para mahasiswa memiliki pribadi yang matang dalam keilmuan maupun moral dan karakter, tandasnya. (FAS)

Kategori: ,