Saya Tidak Punya Banyak Bakat – Christin Pilih Focus pada Psikologi
Senin, 6 September 2021 | 11:24 WIB

TRB 05092021 -lkp
BANYAK orang mengatakan bahwa masa-masa terindah adalah ketika berada di bangku SMA. Namun, tidak demikian dengan Christin Wibhowo, Baginya masa paling indah justru ketika kuliah. Bukan karena mulai bisa bebas atau tidak lagi memakai seragam, melainkan akhirnya ia bisa mempelajari sesuatu yang diidam-idamkannya sejak kecil.

Xtine, begitu biasa ia disapa, sedari dulu sekali belajar ilmu psikologi. Keinginan Xtine itu terinspirasi dari sebuah film lawas berjudul Nakalnya Anak-anak. Xtine ingat kala itu ia menonton film tersebut ketika masih ber seragam SMP. Film tentang seorang guru yang tak hanya menjadi teladan di kelas saja, tetapi di kehidinpan sehari-hari.

"Guru itu tidak hanya memberi pelajaran, tetapi rnengajarkan bagaimana kehidupan juga. Waktu SMP saya belum tahu istilah untuk seseorang guru seperti itu. Tapi yang jelas, saya ingin seperti guru itu. Guru yang mengajarkan soal hidup. Ketika SMA barulah saya tahu bahwa itu adalah psikologi." kata perempuan berusia 50 taliun ini.

Pada awalnya, Xtine ingin menjadi seorang guru. Tak heran, Xtine kecil sangat antusias dengan film hasil adaptasi dari The Sound of Music itu. Sejak dulu bahkan sebelum SMP, Xtine terobsesi menjadi seorang guru. Ia senang sekali menirukan gelagat gura-gurunya mengajar.

Saking, terobsesinya, Xtine sampai mengundang teman-teman sebayanya ke rumah. Ia berlagak menjadi guru dan mengajari mereka. Yang Xtine ajarkanpun bebas, apa saja yang ia tahu. Keinginan itu terus terpupuk hingga akhirnya ia belajar ilnu psikologi.

“Awal kuliah tahun 1989. Pas milih psikologi, ini lo yang saya senangi. Jujur ketika SMP SMA dulu, saya tidak menikmati sekolah banget karena saya tidak pintar pintar amat. Remidi terus. Makanya, saya yang paling indah justru di masa kuliah karena senang dengan yang dipelajarinya. Ilmu yang saya idam-idamkan dari dulu. Jadi sejak itu, saya konsisten terus di psikologi sampai sekarang," cerita ibu dari tiga anak perempuan ini.

Kini Xtine tercatat sudah 26 tahun lamanya menjadi seorang dosen ataupun psikolog. Ya, Xtine sendiri adalah seorang dosen dari Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata Semarang. Dia sudah mengajar di sana sejak tahun 1995, tak lama setelah lulus kuliah S1 di kampus yang sama. TRB 05092021_0005

Konselor pernikahan
Kesibukan Xtine bisa dibilang begitu-begitu saja. Tak ada yang berubah dari tahun ke tahun. Selain dosen sejak dulu, ia juga aktif menjadi pembicara dalam banyak seminar dengan tema seputar keluarga, parenting, dan pernikahan, Kebetulan spesialisasi Xtine adalah psikologi klinis orang clewasa.

Di sarnping itu, ia juga rutin rnengisi acara yang bernama Buah Hati Anda (Bunda) pada stasiun radio, www.rhemaradio.com 88,6 FM. Acara Bunda yang ia bawakan sendiri sudah berjalan sejak 2013.

"Sampai sekarang ada, acaranya tiap Senin jam 18.00 WIB. Selain itu, kesibukan saya sehari-hari juga rutin sebagai konselor pernikahan di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Semarang. GKI ini ada kelas namanya Bina Pranikah dan saya konselor di sana. Biasanya kelasnya dibuka setahun dua kali," ungkapnya.

Dulu, ia sempat membuka tempat praktik pribadi. Tempat itu ia beri nama Expresi. Huruf X sesuai dengan nama panggilannya. Namun karena jadwal mengajar kian padat, belum lagi undangan-undangan seminar di berbagai acara komunitas, akhirnya Xtine sekarang lebih membantu konseling pada poliklinik yang dimiliki GKI Peterongan Semarang saja.

Sedari dulu Xtine konsisten dengan satu ilmu yang ia sukai dan pelajari. Mungkin banyak orang bilang bahwa hidupnya membosankan dan kurang dinamis. Ia mengakui itu. Warga kelahiran Banjarnegara ini juga bahkan mengakui bahwa dirinya tak banyak memiliki bakat, seperti orang lain. Oleh karena itu, Xtine hanya bisa fokus untuk satu hal.

"Mungkin ada beberapa orang yang kecerdasannya menyebar, semacam multitalented. Kalau saya mungkin hanya satu, tetapi mendalam. Satu saja linier. Jadi, saya memang bukan tipe orang yang memiliki bakat banyak sih. Tapi ya itu, saya berusaha untuk satu ini, tapi mendalam. Kalau dibilang bosan? Sebenarnya tidak bosan karena yang ditemui orangnya beda-beda. Jadi, energinya juga berbeda antara satu dengan yang lainnya," ujar penyuka masakan Jawa dan Cina ini.

Meneruskan Seperti dalam film Nakalnya Anak anak , Xtine ingin sekali menjadi seorang guru. Menjadi seorang guru yang dapat mengajarkan dan memberi nilai-nilai kepada generasi penerus. Film tahun 1980 itu memang sangat berarti bagi Xtine. Film ini menjadi salah satu alasan ia ingin menjadi psikolog, terutama memperdalam soal klinis orang dewasa.

"Penjurusan psikologi itu banyak, Semuanya penting. Tetapi klinis dewasa ini juga penting karena mereka akan meneruskan kepada generasi berikutnva. orang dewasanya ini benar, maka generasi berikutnya juga akan benar. Begitu pula sebaliknya. Makanya saya pilih klinis dewasa dengan salah satu alasannya seperti itu,”  Tutur Xtine.


Sangat Terbantu Teknologi

PSIKOLOGI klinis orang dewasa tentu berkaitan juga dengan masalah-masalah anak muda. Dalam hal ini, Christin Wibhowo seringkali membahas masalah karier dan mencari pasangan ideal. Umumnya, kata Xtine, sapaan akrabnya, hal ini biasa terjadi ketika seseorang sudah mengarungi seperempat abad hidupnya atau santer disebut quarter life krisis.

"Pertanyaan utamanya biasanya adalah bagaimana membangun karir dan mempersiapkan kehidupan rumah tangga. Masalah anak muda dan dewasa yang paling banyak Ibu (Christin—Red) temukan ya tidak jauh-jauh dari hal itu. Dan dari dua pertanyaan utamanya itu, turunan masalahnya juga bermacam-macam," ujar anak sulung dari tiga bersaudara ini.

Dia mencontohkan, soal kriteria calon pasangan. la menyadari, permasalahan yang berakar dari hubungan asmara, pernikahan, dan sejenisnya tak pernah ada habisnya. Undangan-undangan seminar untuk membahas hal-hal ini pun sering Xtine terima. Apalagi di Instagram (IG), banyak pengikut Xtine berbagi konselingnya lewat fitur Live IG.

Kalau pun tidak di IG, ia juga rutin membahas hal serupa melalui Zoom ataupun Google Meet pada banyak seminar dan konseling. Xtine mengaku, berbagai teknologi tersebut amat membantunya. Apalagi di tengah jadwal mengajar, konseling, dan undangan seminar yang terus berdatangan. Mungkin jika sebelum pandemi Covid-19 dulu, bisa saja Xtine tak sanggup karena harus hadir bertemu langsung sesuai lokasi. Namun dengan adanya Google Meet, Zoom, maupun Live IG, semuanya bisa ia lakukan tanpa perlu mendatangi satu per satu lokasi acara.

"Intinya kudu update dan upgrade. Jujur, teknologi sekarang ini benar-benar membantu sekali. Walau acara padat, mulai dari konseling, seminar, hingga kelas, semua itu tak perlu berhenti atau ditunda kalau ada caranya. Ya, caranya itu pakai teknologi. Pakai Gmeet, Zoom, Live IG atau sejenisnya," papar perempuan kelahiran Januari 1971 ini.


Ke Mana-mana Ingin Bersama Keluarga

KETIKA sibuk melanda, keluarga adalah senyaman-nyamannya tempat peristirahatan. Seperti itulah keluarga di mata Christin Wibhowo. Bagi Xtine, tanpa keluarga di sampingnya ibarat sebuah hukuman berat.

Ke mana pun ia pergi, Xtine ingin selalu bersama ketiga anak-anaknya dan sang suami. Jika tidak, ia lebih baik di rumah saja membersamai mereka. Jika sedang hangout keluar pun, ia tetap ingin selalu ditemani, minimal oleh salah satu anaknya.

"Karena tidak boleh berkerumun, akhirnya sekarang ini saya suka ngajak satu-satu main ke mal. Ke sana ya paling sekadar makan lalu pulang. Jatahnya digilir bergantian biar tidak saling iri. Kemarin anak kedua, sekarang anak pertama, besoknya si bungsu. Waktu luang terbaik saya ya bersama mereka," kata lulusan S2 dan S3 UGM ini.

Menurut Xtine, kesempatan membersamai keluarga tak perlu sampai menunggu hari libur. Sebab, nantinya jadi repot jika menunggu weekend, mengingat Xtine tiap akhir pekan rutin mendapatkan undangan untuk menjadi pembicara seminar.

Oleh karena itu, ia lebih suka memanfaatkan kesempatan tersebut ketika waktu luang, di sela-sela kesibukannya. Jika ada waktu luang, ia lebih memilih berkegiatan dengan anak-anak dan sang suami. Di mana pun dan kapan pun tak masalah bagi Xtine, esalkan bisa bersama keluarga.

"Karena cita-cita saya selain jadi psikolog, saya juga senang sekali dengan film Little House on the Prairie. Yang lalu diadaptasi oleh Arswendo jadi Keluarga Cemara. Dari kecil, saya kepingin punya keluarga yang seperti itu dan, puji Tuhan, terkabul. Saya kini punya anak tiga, perempuan semua. Kayak di Keluarga Cemara ta? Buat saya, kalau pergi-pergi tanpa mereka, ya itu bukan hiburan. Malah jadinya hukuman," katanya. (gum)

 

►Tribun Jateng 5 September 2021, hal. 3

serupa:

https://jateng.tribunnews.com/2021/09/06/christin-terobsesi-jadi-guru-pilih-perdalami-psikologi-kini-dikenal-sebagai-konselor-pernikahan?page=all

Kategori: