Rapor Pendidikan
Selasa, 14 September 2021 | 10:33 WIB

image

Oleh: JC Tukiman Taruna, Pengajar Program Doktor Ilmu Lingkungan (PDIL) dan Ketua Dewan Penyantun Unika Soegijapranata Semarang

AN selayaknya sangat kuat berdasarkan dan merekam pengalaman empirik siswa, guru, dan juga kepala sekolah; supaya rapor pendidikan yang kelak dihasilkan, benar-benar membuktikan satunya hasil dengan kebijakan pemerintah.

Gebrakan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim selama ini sudah ”sangat” banyak, terbaru penghapusan Badan Standar Nasional Pendidikan dan berikutnya asesmen nasional yang kelak akan menghasilkan rapor pendidikan bagi sekolah dan dinas pendidikan.

Pengukur tingkat kepercayaan publik pada Kemendikbudristek saat ini cukuplah satu saja, yaitu yang penulis sebut contra ac dicta sunt; berlawanan dengan yang dikatakan atau tidak. Tegasnya, adakah satu kata dan perbuatan; adakah bukti atas apa yang diwacanakan.

Karena itu, sampai 2021 ini berakhir (empat bulan lagi), sebaiknya Kemendikbudristek membuktikan dulu adanya sinyal-sinyal keberhasilan dari apa yang selama ini diwacanakan lewat berbagai kebijakan, sebelum ada gebrakan lain.

Asesmen nasional (AN) yang terdiri dari asesmen kompetensi minimum dan survei lingkungan diharapkan sebagai langkah tepat memetakan kualitas pendidikan Indonesia di tengah pandemi Covid-19. Hasil AN akan dimuat dalam sebuah platform bernama Rapor Pendidikan.

Rapor ini kelak akan diberikan kepada kepala sekolah dan dinas pendidikan sebagai ”dokumen rahasia,” Maksudnya, pembagian atau pengumuman hasil AN tidak dapat diakses secara luas dan hanya pihak sekolah (satuan pendidikan) bersangkutan yang dapat melihat hasil AN miliknya.

Kemendikbudristek mengatur, hanya kepala dinas pendidikan yang bisa melihat hasil AN seluruh sekolah di wilayahnya. Atas rapor pendidikan itulah, selanjutnya kepala sekolah dan kepala dinas pendidikan bisa merencanakan tindak lanjut peningkatan kualitas pendidikan di wilayah masing-masing.

Rapor pendidikan juga tidak akan memuat baik skor individu murid sebagai subyek asesmen, apalagi rankingnya, skor setiap guru, maupun skor sekolah. Rapor pendidikan juga tidak akan dipublikasikan; dan hal itu dilakukan antara lain untuk menghindari adanya ”hukuman” atau ”sangsi sosial” terhadap sekolah, bahkan mungkin terhadap guru dan peserta didik.

Pada tahap awal ”turunnya” rapor pendidikan, Kemendikbudristek berharap setiap sekolah merefleksikan diri, bercermin dan tergerak untuk merencanakan peta perbaikan sekolahnya.

Mengapa hasil AN berupa rapor pendidikan harus dirahasiakan sedemikian rupa, padahal arahnya adalah untuk pemetaan kualitas pendidikan sekolah dan wilayah? Mampukah hanya kepala sekolah dan kepala dinas pendidikan saja kelak membuat pemetaan itu?

Sengaja akan dimatikankah peran serta masyarakat untuk menyumbangkan pemikiran dalam penyusunan peta peningkatan kualitas pendidikan? Dan, pada zaman seperti ini, siapa dapat menjamin kerahasiaan apa pun atau siapa pun?

Satu kata dan perbuatan

Ada contoh kuno, tetapi bagus terkait tokoh yang berpegang pada satunya kata dan perbuatan. Adalah Francis Bacon (1561-1626), filsuf Perancis yang menggebrak dominasi mazhab Skolastik yang sangat kuat mengakar dengan metode deduktifnya. Gebrakannya harus ia bayar sampai masuk penjara dan kena denda 40.000 franc. Memang tak berapa lama ia di penjara, karena dilepaskan dengan janji agar sisa hidupnya harus berada di pengasingan dan hanya boleh menulis buku.

Konsisten dan konsekuen dengan janjinya, Bacon berhasil menulis sejumlah buku, antara lain Novum Organum, Advancement of Learning dan New Atlantis, semuanya bercorak menentang metode deduktif kaum Skolastik. Sebagai ganti dan buktinya, Bacon menawarkan metode induktif eksperimental; dia melakukan sendiri eksperimennya dengan mengadakan percobaan pendinginan ayam dengan salju. Namun, justru di situlah Bacon meninggal karena terpaan musim dan hawa dingin yang luar biasa.

Apa yang mendasari metode induktif eksperimental Bacon? Ia memikirkan serius bagaimana caranya mengubah metafisika yang spekulatif dengan yang ilmiah eksperimental; karena itu pikiran kita harus mampu mengalihkan ke arah penyelidikan dan melihat kenyataan-kenyataan empirik.

Akal manusia, kata Bacon, harus digunakan untuk mendapatkan kebenaran, karena knowledge is power (Endang Daruni Asdi dan Husnan Aksa, 1981).

Bisa dipastikan AN menerapkan metode induktif, bahkan bisa dikategorikan eksperimental mengingat asesmen kompetensi minimum (terutama bagi peserta didik) sebaiknya menggunakan uji coba dulu, baik instrumen maupun siswanya. Uji coba sangat penting karena instrumen yang baik hanya mungkin tersusun jika diperkaya pengalaman empirik.

Ketika kami berempat (di bawah pimpinan seorang profesor peneliti dari Selandia Baru) melaksanakan tes EGRA (early grade reading assessment) di Sumba (2016), dalam bacaan yang kami sodorkan, ada kata warung yang tak dikenal oleh satu siswa pun. Untung ketidaktahuan itu, kami ketahui pada saat uji coba instrumen, yang tentu saja segera kami ganti dengan kata kios (lazim dipergunakan dalam percakapan sehari-hari) ketika EGRA yang sesungguhnya kami lakukan bagi siswa kelas II SD.

Simpulan singkatnya, AN selayaknya sangat kuat berdasarkan dan merekam pengalaman empirik siswa, guru, dan juga kepala sekolahnya; supaya rapor pendidikan yang kelak dihasilkan benar-benar membuktikan satunya hasil dengan kebijakan Kemendikbudristek sebagaimana diharapkan agar memenuhi syarat untuk membuat pemetaan kualitas pendidikan Indonesia.

►Kompas 13 September 2021 hal. 6
https://www.kompas.id/baca/opini/2021/09/13/rapor-pendidikan/

image

Kategori: , ,