Memanusiakan Manusia
Senin, 27 September 2021 | 8:26 WIB

clip_image002

Ditulis oleh : Ign. Dadut Setiadi, Anggota The Soegijapranata Institute Unika Soegijapranata dan Manager GA Yayasan Sandjojo

konsep "Memanusiakan Manusia" merupakan bagian dari humanisme. Humanisme berasal dari kata Latin humanus dan mempunyai akar kata homo yang berarti manusia. Humanus berarti sifat manusiawi atau sesuai dengan kodrat manusia (A.Mangunhardjana dalam Haryanto Al-Fandi, 2011:71). Dalam situasi bangsa saat ini, terutama masa pandemi ini akar kemanusiaan yang muncul dalam hati dan pikir kita haruslah diwujudkan dalam mengedepankan membantu sesama manusia dengan lebih humanisme dengan tidak memandang perbedaan bangsa, agama, daerah, suku dan warna kulit serta lainnya.

Kata "Memanusiakan Manusia" yang lebih mendasar yakni memanusiakan manusia yang memiliki cita-cita sama ingin selalu dihormati dan dihargai. Itu adalah keinginan mendasar dari seorang manusia, terutama ingin dihargai. Terlebih dalam interaksi dengan sesama manusia termasuk orang per orangan.

Dihargai yang dimaksud dalam konteks ini adalah memberikan apresiasi kepada hasil karya seseorang terlepas dari segala kelebihan dan kekurangannya.

Menyalakan Kemanusiaan

Unika Soegijapranata salah satu perguruan tinggi swasta di Jawa Tengah melangsungkan pergantian tampuk kepemimpinan Rektor pada 31 Agustus 2021 untuk periode 2021-2025. Yang menarik untuk diperhatikan dan diikuti bukan hanya upacara pelantikan dan serah terima jabatan Rektor, namun yang sangat menarik penulis adalah kalimat dalam backdrop dan sambutan rektor baru yang selalu diucapkan berkali kali yaitu “ Inflamare Humanitatem” yang berarti menyalakan kemanusiaan. Sebuah tagline yang akan dijadikan pegangan untuk melaksanakan tugas empat tahun kedepan sebagai nahkoda Unika Soegijapranata.

Penulis tidak akan membahas permasalahan pergantian rektor Unika Soegijapranata, tetapi ingin mendalami tentang konsep yang akan dikembangkan dengan mengedepankan Inflamare Humanitatem. Kalimat ini sangatlah bermakna mendalam karena unsur manusia diangkat dan ditempatkan sebagai ciptaan Allah yang sempurna. Artinya, sebagai ciptaan Tuhan paling mulia, kebahagiaan utama adalah tatkala kita dapat menjadikan sesama manusia lebih terdidik, lebih bermartabat, lebih sukses, lebih pintar, dan lebih baik hidupnya. Di situlah baru seseorang benar-benar memperoleh ‘gelar kemanusiaannya’. Bila konsep memanusiakan manusia ini kita terapkan dalam kehidupan sehari hari ditempat kita bekerja maupun dalam kehidupan bermasyarakat, niscaya akan tercipta sebuah kehidupan yang harmonis, Sesama manusia saling menghargai.

Tidak ada tindakan yang merendahkan, mencibir atau hal lainnya yang membuat sakit hati dan sebagainya. Jika konsep memanusiakan manusia ini diterapkan dalam relasi sesama dan pelayanan publik, maka semuanya akan berjalan dengan baik dan indah pada akhirnya.

Hal yang paling mendasar dalam menerapkan memanusiakan manusia adalah adanya kecintaan dan kasih dalam diri kita kepada sesama manusia. Kecintaan dan kasih adalah pernyataan diri dan mempersatukan diri sendiri untuk menjadi satu dengan yang dikasihi, siapapun, apapun bagaimanapun yang dikasihinya. Ini melebihi dari arti Humanisme. Kasih kepada sesama berarti kita harus mampu menghargai, menghormati sesama sesuai dengan martabatnya.

Kemanusiaan itu Satu

Seorang tokoh pahlawan nasional Mgr Alb. Soegijapranata, SJ dalam masa perjuangan melawan tantara Jepang. Mgr Soegija, seorang nasionalis kemanusiaan yang mempunyai semboyan hidupnya yang terkenal 100% katolik 100% Indonesia. Mgr. Soegija pernah berucap: “Kemanusiaan itu satu, bangsa manusia itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal-usul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan satu keluarga besar (umat manusia); demikian juga kendati tampak dalam kodrat laki-laki dan perempuan. Malahan, menurut kehidupan di dunia ini, seluruh umat manusia dan bangsa-bangsa saling membutuhkan satu sama lain; kalau tidak saling bekerja sama dan saling menolong pasti tak akan lepas dari bahaya, tidak akan terjelam kesejahteraan, tak akan ada kemajuan, tak akan ada tata susila, tak ada ketentraman dan keselamatan. (Surat Kegembalaan September 1940)”. Karena manusia sebagai ciptaan Tuhan yang paling sempurna diharapkan mampu berdaya ubah dalam memandang unsusr kemanusiaan yang hakiki, sehingga akan membawa kesejahteraan dan kerukunan bagi manusia di Indonesia. Ucapan Mgr Soegija tersebut membukakan hati dan pikir kita bahwa kemanusiaan itu adalah hal yang bisa menyatukan segala perbedaan dari berbagai usul dan harapan kita semua.

Seorang tokoh nasional dan sekaligus filsuf bernama Rm. J. Driyarkara, SJ mengemukakan bahwa pembentukan manusia-manusia yang memiliki keahlian saja tidaklah cukup, keahlian manusia haruslah harus diiringi dengan pendidikan dalam jiwa dan kepribadiannya.

Gagasan ini menempatkan manusia dalam kehidupannya yang harus memanusiakan manusia lainnya dan menjadi manusia yang membudaya dalam konteks "homo homini socius" (manusia sebagai kawan bagi sesamanya).

Semoga arti kemanusiaan yang sebenarnya selalu merasuk dalam hati setiap insan manusia Indonesia sehingga akan tercipta kesatuan dan persatuan serta saling menghargai antar sesama yang saling memiliki perbedaan.

►Tribun Jateng, 25 September 2021, hal. 2

Kategori: ,