Kampus Ini Tak Luluskan Mahasiswa Plagiat Tugas, Bangun Integritas Akademik
Kamis, 23 September 2021 | 10:08 WIB

image

Membangun budaya integritas akademik di era pembelajaran jarak jauh (PJJ) saat ini menjadi topik yang semakin hangat di kalangan akademisi.

Praktik plagiarisme menjadi isu yang kerap muncul, seiring dengan bertambah mudahnya mahasiswa dalam mengakses konten digital.

Perguruan tinggi kini tak hanya memiliki tanggung jawab untuk mencetak mahasiswa yang sukses mencapai hasil belajar dan memenuhi persyaratan kelulusan, namun juga tanggung jawab untuk membangun integritas akademik.

Tanpa integritas, penguasaan disiplin ilmu mahasiswa di perguruan tinggi untuk kemudian menjalankan profesi dan tugas terkait pekerjaannya pasca kelulusan, bisa dipertanyakan.

Urgensi membangun integritas akademik, selain menjadi bagian dari literasi digital, juga untuk menghindari diri dari self-claim atau mengakui karya orang lain seakan-akan pernah membuatnya.

Filiana Santoso, Rektor Swiss German University mengatakan bahwa integritas akademik sudah harus diperkenalkan kepada anak-anak tingkat SMA dan SMP karena mereka sudah mulai menulis karya ilmiah.

“Contoh-contoh pelanggaran akademik seperti menyontek, plagiarisme, falsifikasi dan fabrikasi. Untuk mencegah mahasiswa menyontek, di SGU ada peraturan bahwa mahasiswa yang menyontek dan yang memberi contekan akan dinyatakan tidak lulus pada semester tersebut dan harus mengulang seluruh mata kuliah di semester berikutnya," ujarnya saat menjadi narasumber pada webinar bertajuk Mengapa Kita Harus Peduli Membangun Integritas Akademik Pada Mahasiswa Sedini Mungkin? yang diselenggarakan oleh Turnitin, Rabu (22/9/2021).

"Meski misalnya dia hanya menyontek di mata kuliah Matematika, bukan di mata kuliah lain, tetap tidak lulus. Sebab fokus kami adalah membangun karakter, sebab integritas mencakup semuanya,” imbuh dia.

Sedangkan untuk mencegah plagiarisme, kata Filiana, mahasiswa dan dosen wajib melampirkan hasil Turnitin untuk setiap karya ilmiah yang dibuat.

“Pada 2017, level plagiarisme di SGU mencapai 29,16 persen. Lalu di tahun berikutnya turun menjadi 23.48 persen, dan tahun 2021 ini sudah mencapai 13.46 persen. Target 2022 levelnya sudah mencapai 10 persen.”

Dosen yang banyak memublikasikan karya ilmiah di tingkat internasional ini pun mengatakan bahwa untuk membangun integritas akademik, maka harus membuat peraturan yang jelas, sering melakukan evaluasi, perbaikan peraturan dan SOP.

“Juga mengintegrasikan Turnitin ke dalam kegiatan akademik,” ujarnya.

Di kesempatan yang sama, Guru Besar Bidang Sistem Informasi Unika, Soegijapranata Ridwan Sanjaya mengatakan bahwa ekosistem perguruan tinggi dibutuhkan mendukung terwujudnya integritas akademik. Seperti literasi pustaka dan literasi digital yang dilakukan sejak awal masuk dan menjadi bagian dari kurikulum.

“Perguruan tinggi bukan hanya memberikan pengetahuan dan menyiapkan pedoman perilaku, tapi juga sarana pencegahan dan wawasan. Di Unika Soegijapranata, tugas harian dan tugas akhir selalu terkoneksi dengan pemeriksa anti-plagiasi,” tuturnya.

Menurutnya, prinsip-prinsip moral integritas akademik mencakup kebenaran, keadilan, kejujuran dan penghargaan, yaitu jujur dan adil dalam menilai karya sendiri atau orang lain, mengakui dan menghargai karya orang lain serta benar dalam menyebutkan sumber karya yang dijadikan rujukan.

"Integritas akademik juga membangun kreativitas, menghasilkan ide lainnya, menggabungkan ide-ide dan menggunakan metode yang berbeda,” jelasnya.

https://www.kompas.com/edu/read/2021/09/22/163804371/kampus-ini-tak-luluskan-mahasiswa-plagiat-tugas-bangun-integritas-akademik?page=all#page2.

Kategori: