Djoko Setijowarno Sentil Bandara Semarang Kurang Sosialisasi Dokumen Kesehatan Penumpang
Senin, 6 September 2021 | 8:51 WIB

image

Pakar Transportasi Unika Soegijapranata Djoko Setijowarno soroti pelayanan pemeriksaan dokumen kesehatan di Bandara Jenderal Ahmad Yani.

Djoko mengeluhkan  kurangnya sosialisasi terkait syarat dokumen kesehatan yang ada di bandara.

Hal ini membuatnya gagal melakukan perjalanan menggunakan pesawat menuju Padang.

"Validasi dokumen kesehatan tidak dilakukan sejak masuk bandara.  Petugas yang memeriksa surat kesehatan tidak menanyakan mau berangkat ke mana. Surat kesehatan yang saya bawa langsung ditandatangani," ujarnya, saat hendak melakukan perjalanan di Bandara Ahamd Yani Semarang, Minggu (5/9/2021).

Setelah menjalani pemeriksaan surat kesehatan, dirinya melanjutkan ke counter maskapai penerbangan.

Tidak seperti biasanya calon penumpang hanya cukup menyodorkan KTP dan surat kesehatan, namun kali ini pihak maskapai meminta bukti tiket.

"Setelah melihat surat kesehatan tiket dengan tujuan ke Padang, pihak petugas Maskapai tidak mengijinkan berangkat, karena aturannya wajib tes PCR," ujarnya.

Djoko terkejut atas pernyataan pihak maskapai tidak mengizinkan melanjutkan perjalanan.

Sebab sejak awal masuk bandara petugas yang memeriksa dokumen kesehatan tidak menanyakan lebih detail tujuan perjalanannya.

"Saya menuju meja layanan pemeriksaan surat kesehatan, menanyakan siapa petugas yang bertanggungjawab. Petugas yang dimaksud asik dengan teleponan," tuturnya.

Setelah lama menunggu, dia mengeluarkan surat  kesehatan yang sudah ditandatangani dan meminta klarifikasi karena tidak diizinkan melanjutkan perjalanan.

"Saya mendapatkan jawaban dari petugas itu mestinya semua sudah tahu aturannya. Ketika saya tanyakan, apakah sistem di komputer tidak dapat mendeteksi perjalan calon penumpang? Katanya, sistem yang ada cuma menyebutkan Semarang-Jakarta. Jadi menurut petugas tersebut mereka tidak salah yang salah sistemnya," jelasnya.

Ia memberikan solusi agar bandara memberikan papan informasi terkait aturan perjalananan.

Hal ini bertujuan agar penumpang pesawat bisa mengetahui informasi tersebut

"Jadi harus papan informasi etiap calon penumpang yang berperjalanan ke luar Jawa wajib TES PCR, sedangkan di dalam Pulau Jawa boleh dengan TES ANTIGEN. Tulisan tersebut ditempel di pembatas bening, sehingga setiap calon penumpang diminta membacanya," tandasnya.

Sementara itu Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Semarang, Aryanti mengatakan proses validasi surat kesehatan calon penumpang pesawat tidak lagi dilakukan secara manual dan ditentukan oleh KKP.

Proses validasi telah terkoneksi dengan aplikasi Pedulilindungi.

"Semua yang ada di bandara bisa akses Pedulilindungi dan bisa mengetahui apakah sudah ada tes covidnya," ujar dia.

Menurutnya, pembatalan  bisa dilakukan baik dari PT Angkasa Pura (AP) I maupun  maskapai penerbangan.

Pihak AP1 telah menyediakan aplikasi yang terkoneksi dengan pedulilindungi.

"Di bandara sudah ada bannernya dimana ada barcodenya. Jika penumpang menscan barcode melalui aplikasi pedulilindungi dan keluar tanda merah pihak maskapai bisa langsung membatalkan perjalanan calon penumpang karena tidak memenuhi syarat," terangnya.

Dikatakannya, saat ini perjalanan menggunakan pesawat khusus di Pulau Jawa dan Bali, jika calon penumpang telah mendapatkan vaksin dosis ke dua cukup melampirkan surat antigen.

Namun apabila baru mendapatkan dosis pertana penumpang pesawat harus melampirkan PCR.

"Untuk luar Jawa diwajibkan melampirkan PCR," tuturnya.

Ia menghimbau para calon penumpang pesawat wajib mempunyai aplikasi pedulilindungi.

Calon penumpang wajib scan barcode sistem yang di bandara melalui aplikasi peduli lindungi.

"Aplikasi pedulilindungi sudah mencakup data baik sertifikat vaksin maupun data kesehatan.Semua bisa dicek melalui aplikasi tersebut. Jadi tidak ada validasi manual," tutur dia.

https://jateng.tribunnews.com/2021/09/05/djoko-setijowarno-sentil-bandara-semarang-kurang-sosialisasi-dokumen-kesehatan-penumpang?page=all.

Kategori: