Cara Unika Menangkal Wabah Intoleransi di Perguruan Tinggi – Agama, Anggap Keragaman sebagai Kurnia
Kamis, 16 September 2021 | 8:16 WIB

image

Dewi Praswida merupakan calon wisudawati pascasarjana Magister Lingkungan dan Perkotaan (PMLP) Universitas Katolik Soegijapranata Semarang. Ia akan diwisuda pada Sabtu (18/9/2021).

Perempuan berjilbab ini sempat mengambil studi sarjana jurusan Geografi di satu universitas negeri di Jawa Tengah.

Dewi sempat kaget saat pertama berkuliah di perguruan tinggi agama yang memiliki warna ciri khas ungu ini.

Pasalnya, di setiap gedung terdapat musala, tempat ibadah agama yang dia anut. "Saat saya mengambil S1 di universitas negeri, tidak semua gedung punya tempat ibadah (musala). Tapi di Unika ada," kata Dewi saat sesi diskusi civitas akademika Unika dengan awak media secara virtual, Rabu (15/9/2021).

Menurutnya, meskipun dirinya belajar di lembaga pendidikan dengan embel-embel nama agama, namun, dirinya tidak terkotak, tidak merasa terkucilkan. Toleransi tinggi justru banyak ditemukan di perguruan tinggi agama.

"Saya biasa kuliah pukul 17.00 WIB sampai pukul sekitar 20.00 WIB. Dalam sekelas, hanya saya yang Islam. Namun, saat tiba waktu salat, pas azan Maghrib, dosen berhenti dulu dan mempersilakan saya salat. Begitu juga dengan waktu Isya," ucapnya.

Ia menuturkan merasa nyaman selama menempuh pendidikan di Unika. Menurutnya, tidak salah jika Unika dikenal dengan kampus bineka atau keberagaman.

Begitulah seharusnya yang dilakukan lembaga pendidikan. Mahasiswa tidak terjebak dalam pemikiran yang eksklusif dan menutup dari golongan lain.

Endemi atau wabah intoleransi di kalangan anak muda atau perguruan tinggi harus digerus dengan sikap-sikap yang toleransi dan saling menghargai antara satu golongan dengan yang lain.

Rektor Unika Soegijapranata, Ferdinandus Hindiarto menuturkan, keberagaman adalah kurnia. Sehingga segala perbedaan harus disyukuri setiap insan manusia.

"Mgr Soegijapranata pernah menyampaikan keberagaman adalah kurnia. Itu dalam banget maknanya. Hitam semua itu jelek, putih semua itu tidak menarik," ucap Ferdi, sapaan akrabnya.

Hal itu selaras dengan slogan pengelolaan kampus yang ia terapkan: infalamare humanitatem, menyalakan terus kemanusiaan. Sebagai lembaga pendidikan, pihaknya mengusung nilai atau values, tidak berbicara agama.

"Nilai kami hidupi. Kami menajamkan hal semacam itu. Dosen di sini yang haji juga ada saya biasa panggil Pak Haji. Kami nyaman saja, karena kami tidak mengembangkan dari aspek ritual. Namun, kami tetap menyediakan fasilitasnya," jelasnya.

Ibadah, kata dia, merupakan kegiatan ritual personal antara dirinya dengan tuhannya. Kampus Unika dikembangkan dengan berlandaskan keberagaman. Ia menegaskan, anggapan bahwa selama ini Unika tidak bisa dimasuki non-Katolik itu salah.

"Masyarakat di Jateng kerap beranggapan bahwa pakai jilbab itu tidak bisa berkuliah di Unika. Ada mahasiswa saya yang merupakan seorang biksu, dia kuliah ya tetap pakai pakaian biksu itu, kami kerap becanda, dan nyaman-nyaman saja. Kami di sini menjalankan nilai Katolik yang cinta kasih, keadilan, dan kejujuran, tidak bicara ritual sama sekali," ucapnya.

Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim baru-baru ini menyebut ada tiga dosa besar yang harus dihindari perguruan tinggi.

Tiga hal yang tidak boleh terjadi di lingkungan kampus yakni intoleransi, peredaran narkoba dan miras, serta perundungan dan kekerasan seksual.

Upaya-upaya saling menghargai dan saling mendukung untuk tumbuh lebih baik harus dikembangkan di kampus. Kampus memiliki peran menjadi contoh masyarakat yang egaliter, saling asah asih asuh, dan inklusif.

https://jateng.tribunnews.com/2021/09/15/cara-unika-menangkal-wabah-intoleransi-di-perguruan-tinggi-agama-anggap-keragaman-sebagai-kurnia?page=all.

Kategori: