Wawancara Khusus dengan Ferdinandus Hindiarto, Rektor Terpilih Unika Soegijapranata
Senin, 23 Agustus 2021 | 8:37 WIB

image

Teknologi berkembang pesat di era Revolusi Industri 4.0 seperti sekarang ini. Digitalisasi dan otomatisasi menjadi denyut nyawa aktivitas yang menggerakan roda kehidupan sehari-hari.

Seolah-olah disrupsi teknologi dipercepat dengan adanya pandemi Covid-19. Dimana, segala aktivitas kegiatan manusia dituntut menggunakan teknologi untuk mencegah penularan covid.

Misalnya, aktivitas pembelajaran jarak jauh untuk pelajar, aktivitas bekerja di rumah (work from home) untuk masyarakat pekerja, dan sebagainya.

Pada fase keempat ini, ilmu robotika, kecerdasan buatan (artificial inteligence), otomatisasi mesin mencapai puncak pemanfaatan.

Segala pekerjaan apa saja menjadi mudah dengan menggunakan Internet of Things (IoT).

Namun demikian, seorang guru besar dan juga penulis buku best seller, Yuval Noah Harari mengatakan, dengan berkembang pesatnya teknologi digital yang merasuk ke dalam sendi-sendi kehidupan, ia bertanya: masih adakah makna hidup?

Harari melihat perkembangan teknologi yang begitu masif justru berbahaya. Di sisi lain, dalam kacamata Martin Heidegger, seorang filsuf dari Jerman di dalam karyanya Being and Time (1927) mengungkapkan teknologi mengancam otentisitas manusia.

Cerita soal teknologi ini mendukung penuturan Rektor terpilih Unika Soegijapranata, Ferdinandus Hindiarto dalam wawancara khusus dengan Tribun Jateng baru-baru ini. Ia akan resmi menjabat Rektor Unika mulai September 2021 mendatang.

Pria yang menempuh pendidikan S1 hingga S3 di Psikologi Universitas Gajah Mada (UGM) ini mengusung tema ‘Inflammare Humanitatem’ atau menyalakan kemanusiaan dalam pengelolaan kampus Katolik yang ada di Kota Semarang ini.

Dalam penjabaran tema tersebut, pria yang hobi bermain bulutangkis ini mengatakan, hubungan antara teknologi dengan relasi antar-sesama manusia. Lalu menerangkan bagaimana manusia ‘menjadi manusia’ di era kebudayaan digital seperti sekarang ini.

"Sekarang hidup, banyak orang mengatakan tidak ada keselamatan di luar teknologi. Seolah olah kalau tidak ada teknologi akan mati. Misalnya, handphone (ponsel) saat ketinggalan itu rasanya, wow, panik. Apa iya sih harus seperti itu? Mari kembali ke kemanusiaan kita. Bahwa relasi antarmanusia itu lebih kuat kalau komunikasi langsung," ucapnya.

Pernyataannya ini tidak berarti menghakimi dirinya anti-teknologi. Ia menegaskan tidak mengesampingkan teknologi. Teknologi dalam kehidupan, termasuk dalam kehidupan kampus, hanya sebagai alat atau instrumen, bukan segalanya.

Ini penuturan lengkap dari pria yang pernah menduduki jabatan penting di tim sepakbola PSIS Semarang ini.

Setelah ditetapkan sebagai rektor terpilih pada 5 Agustus, dengan masa jabatan 2021-2025, apa kesibukan saat ini?

Kesibukannya pekan ini menyusun kabinet. Tapi tidak mengganggu aktivitas rutin.

Ceritakan pengalaman anda sebagai akademisi dan juga pegiat olahraga?

Perjalanannya cukup lika-liku. Kuliah di Fakultas Psikologi UGM S1, S2, hingga S3. Loyalis garis keras UGM (tertawa). Bergabung dengan Unika Soegijapranata pada 1996 tepat 25 tahun yang lalu.

Dari awal kemudian kesana kemari, semua tugas dijalani dari Sekretaris Redaksi Majalah Ilmiah hingga mengurus KKN dan Wakil Rektor 3 sampai 10 tahun.

Pernah tersesat di PSIS Semarang jadi GM (general manager), lalu Direktur Bisnis PSIS Semarang.

Kemarin teman-teman memberi amanah menjadi rektor. Mungkin Rektor Unika harus unik, lalu ketemu saya (tertawa).

Ketika ditetapkan menjadi rektor terpilih, perasaan anda bagaimana?

Perasaan santai karena sejak awal saya berangkat santai. Diminta mendaftar menyanggupi menjadi calon rektor bagi saya juga bukan hal yang istimewa, tapi harus disikapi dengan serius. Tidak ada ketegangan gitu sih, santai saja.

Di kampus saya dikenal sosok yang suka ngekek (tertawa terbahak-bahak red.) ya sampai sekarang terus ngekek. Nggak bisa spaneng. Kalau mikir yang serius saya nggak kuat.

Termasuk ketika diminta foto profil pemilihan rektor, ya saya kirimkan foto pas main bola sama PWI (Persatuan Wartawan Indonesia). Ditolak pula. (katanya) pak yang serius?. Lah serius saya begitu. Bicara sepak bola, tagline saya kan dibutuhkan playmaker agar tim bermain dengan benar.

Ketika diumumkan (menjadi rektor), oke saya terima tanggung jawab ini. Biasanya kalau saya melakukan sesuatu akan total. Itu ciri khas saya. Semuanya yang saya punya, yang saya bisa, akan semua saya berikan untuk tugas itu.

Supaya bisa total dan konsisten kan butuh refreshing, nah tekanan harus dimainkan dengan guyon-guyon (becanda).

Bagaimana respon keluarga ketika mengetahui anda merupakan rektor terpilih?

Saat mendaftar saya tidak bilang ke anak istri. Baru saat poster pemilihan rektor keluar, baru lah anak istri tahu dari medsos (media sosial). Mereka kaget, (katanya) bapak kurang ajar nggak ngasih tahu. Ya yang namanya hidup kan harus ada surprise.

Kebetulan anak saya sudah gede. Yang paling gede juga kuliah psikologi di UGM. Yang kecil SMA kelas 12 juga akan masuk psikologi UGM.

Saya mengisi formulir kesanggupan juga diam diam. Teman-teman di kampus tidak ada yang tahu. Beberapa orang kaget saat nama diumumkan.

Program apa yang akan dijalankan dalam mengelola Unika?

Ada beberapa WA (Whatsapp/aplikasi pesan) dari teman rektor kampus lain. (katanya) selamat mas, selamat dek jadi rektor di masa badai dan topan alias pandemi. Ya saya jawab, ya kebetulan rektornya Ali Topan Anak Jalanan jadi pas saja.

Ini tantangan berat, situasi pandemi jelas berdampak pada semua aspek kehidupan. Termasuk calon mahasiswa yang orangtuanya terdampak secara ekonomi. Lalu membangun jaringan untuk pembelajaran e-learning.

Saya pikir semua menarik, kompetisi semakin rapat. Kampus luar negeri menjamah Semarang. Saya mengusung tema untuk mengelola Unika 4 tahun ke depan yakni inflammare humanitatem yang berarti menyalakan terus kemanusiaan.

Kenapa? jujur, sekarang hidup banyak orang mengatakan tidak ada keselamatan di luar teknologi, tanda petik. Seolah-olah kalau tidak ada teknologi akan mati. Kalau handphone (ponsel) ketinggalan saja rasanya wow, panik. Apa iya sih? Mari kembali ke kemanusiaan kita.

Bahwa relasi antarmanusia itu lebih kuat kalau komunikasi langsung. Bahwa teknologi tetap saya tempatkan sebagai alat bantu, tetapi bukan segalanya.

Karena di universitas semua subjek manusia, dengan perilaku kemanusiaanya. Pelakunya dosen dan tenaga kependidikan dengan semua macam kemanusiaan. Jadi orientasi saya fokus di sumber daya manusia, baik mahasiswa, dosen, maupun tenaga kependidikan.

Maka inflammare humanitarian itu saya hidupkan kembali. Tetapi bukan untuk menyingkirkan teknologi, tidak.

Kadang-kadang perlu mengambil jarak, nikmatilah ketika sehari anda tanpa handphone. Kayanya hidup kita agak beda, lebih akan bahagia. Kalau ada yang mengatakan ‘woo aku nggak bisa, itu bohong’. Coba nikmati hidup.

Saya pernah mengatakan kepada mahasiswa, ketika jaringanmu di luar Jawa, di pelosok, mengakibatkan tidak bisa join (bergabung) dengan pembelajaran, bukan berarti kehilangan kesempatan untuk belajar. Silakan belajar dengan cara yang macam-macam. Artinya tidak boleh hidup kita 100 persen bergantung dengan teknologi. Kira-kira itu yang akan saya bawa ke depan.

Unika merupakan kampus swasta terbaik di Jateng, strategi apa untuk mempertahankan itu?

Tentu bukan berarti pekerjaan ringan, mempertahankan. Katanya lebih sulit daripada membangun, klise banget ya, pejabat. Tapi saya berusaha semaksimal mungkin dengan tim yang sedang saya susun.

Saya sih memasang target lebih tinggi dari yang sekarang. Saya terbiasa membangun sebuah mimpi, tapi mimpi yang dihidupi.

Karena dengan segala kemanusiaan tadi, saya optimis bersama-sama bisa meningkat dari yang sekarang. Terimakasih kepada pemimpin sebelumnya yang membangun pondasi, saya tentu harus melanjutkan itu lebih baik dan lebih tinggi.

Saya akan kembali ke nilai-nilai atau values, itu sesuatu yang penting. Dalam organisasi pun values itu yang saya prioritas. Harus dipertahankan dalam konteks hari ini.

Kami menguat, berakar pada nilai-nilai, bertekun pada proses, berbuat pada kualitas. Ada gambar pohon dengan akar kuat itu nilai-nilai, bertekun pada proses itu di batang, lalu daun dan buah merupakan kualitas. Saya pikir harus optimis dan percaya berbuah pada kualitas.

Seperti apa rencana pengembangan Kampus Unika baru yang ada di BSB?

Satu unit sudah jadi Gedung Fransiscus, Juni kemarin diresmikan. Ada dua unit lagi yang sedang dibangun, Fakultas Kedokteran dan rumah sakitnya. Gedung sudah dipakai pada semester ini oleh Teknologi Pertanian, pindah ke sana.

Akan jadi lokasi klaster program inovatif. Program inovasi ini menjawab kebutuhan hari ini, contoh ada program digital accounting, ada big data, dan artificial inteligence. Lalu ada International Undergraduate Program (IUP) di kampus BSB.

Gedung sudah siap, sekitar 80 persen tinggal beberapa ruang interior dalam pengerjaan. Ini satu gedung cukup besar, dibangun dengan konteks hari ini, ditata tidak konvensional, ada banyak lounge dan breakout room. Jadi bisa nongkrong sambil googling dan ngopi serta menikmati emandangan cukup indah di BSB.

Ruang dosen disusun seperti co-working space, tidak kotak-kotak. Perpustakaan juga model baru tidak dengan rak-rak buku, tapi e-Library lengkap dengan koleksi yang banyak. Konsepnya banyak tempat untuk diskusi, bisa serius, bisa ngobrol, bisa cerita habis diputus pacarnya boleh, di-php pacarnya juga boleh.

Bagaimana menurut anda untuk meningkatkan kualitas dosen?

Nomor satu harus berakar pada nilai. Mendasarkan semua hal yang dikerjakan pada perutusan. Saya bekerja di Unika tidak sekedar bekerja, kami diutus. Karena universitas katolik kami diutus oleh tuhan.

Untuk apa? satu menggembleng generasi muda dengan ilmu pengetahuan dan moral karakter dewasa, supaya mereka berani mengambil peran sebagai pemimpin. Jadi dosen juga tidak sekedar mengajar, tapi berbicara moral dan karakter agar mahasiswanya siap menjadi pemimpin.

Kedua, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan demi lebih baiknya kehidupan manusia. Tidak sekedar mengajar setiap hari rutin, penelitian yang menjalani rutinitas, tidak, kami harus mengembangkan dan menyebarluaskan. Tribun akan kami panggil untuk mempublikasikan hasil riset para dosen yang aplikatif yang bisa langsung dipakai masyarakat demi semakin baiknya kehidupan.

Kami dorong skripsi dan tugas akhir yang bermanfaat bagi martabat kehidupan manusia agar lebih baik. Dosen didorong ke sana. Bukan rutinitas, masuk ke kelas membawa perutusan, saya sebut perutusan yang luhur dan mulia.

Bagaimana dengan kerja sama dengan universitas lain?

Kerja sama, kami bergabung banyak asosiasi dan universitas di dalam dan luar negeri. Di Indonesia ada namanya Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik se-Indonesia, itu tentu kami bergabung. Tahun depan, kami tuan rumah kongres.

Lalu banyak juga dosen yang bergabung dengan program fellowship. Tentu banyak program dengan kampus Jepang dan Amerika. Bekerja sama dengan kampus Taiwan, Filipina, dan Korea dalam bentuk konkret.

Lalu visiting profesor, dosen kami menajar di sana, dosen sini mengajar di sana. Riset bareng dengan beberapa kampus di Belanda. Hampir semua fakultas kami dorong, bukan untuk iklan tapi betul betul menambah wawasan, keluar dari wawasan terbatas, berkolaborasi.

Mahasiswa membuat tugas akhir bareng, mereka datang ke sini belajar tentang herbal dan jamu. Ada petukaran pelajar, KKN bersama, KKN di negara lain.

Dosen melakukan penelitian artinya mempunyai utang kepada masyarakat. Tema diambil dari masyarakat, subjek dari masyarakat, ditulis di jurnal internasional, masyarakat tidak pernah dikasih. Makanya nanti kami tentu bekerja sama dengan media rutin reguler untuk publikasi riset yang bisa di-share. Ini utang yang harus dibayar.

Pesan apa yang ingin anda sampaikan untuk Tribunners?

Jangan ragu bergabung dengan Unika. Talenta propatria et humanitati artinya setiap mahasiswa punya talenta potensi dan bakat. Di tempat kami bakat dikembangkan sepenuhnya. Untuk apa? tujuan akhirnya untuk negara dan kemanusiaan.

Universitas mengembangkan mahasiswa berbasis pada nilai nilai. Mohon maaf kalau cari ijazah jangan cari di Unika, agak susah, bukan mempersulit, tapi mendidik supaya menghasilkan kualitas.

Sesuatu yang saya nikmati tidak ada jarak dengan mahasiswa. Jadi cara mendidik sangat moral personalis, care pada personal. Mari membangun hope di tengah situasi sulit. Karena harapan yang membangkitkan optimisme. Selalu semangat.

https://jateng.tribunnews.com/2021/08/22/wawancara-khusus-dengan-ferdinandus-hindiarto-rektor-terpilih-unika-soegijapranata?page=all.

Kategori: