Menyelaraskan Kesehatan-Ekonomi
Senin, 16 Agustus 2021 | 12:32 WIB

SM/Dok

Oleh: Andreas Lako, Ketua Program Doktor Ilmu Lingkungan (PDIL) Unika Soegijapranata

KENDATI lebih rendah dari pertumbuhan nasional sebesar 7,07 persen, namun banyak kalangan menyambut gembira rilis Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyatakan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah (Jateng) pada Triwulan II 2021 sebesar 5,56 persen.

Di tengah lilitan pandemik Covid-19 yang kian serius, rilis tersebut merupakan suatu berita gembira (good news) yang melegakan. Gubernur Jateng mensyukuri pertumbuhan itu karena hal itu tak lepas dari pengeluaran konsumsi pemerintah yang terus di genjot (Kompas,11/8/2021).

Sementara itu, sejumlah kalangan menilai pertumbuhan sebesar itu menandakan bahwa perekonomian Jateng sedang menuju ke era pemulihan. Namun, sejumlah ekonom mengingatkan pemerintah agar hati-hati dalam mensikapi pertumbuhan itu dan tak perlu eforia. Alasannya, pertumbuhan sebesar itu disebabkan periode pembandingnya adalah Triwulan II Tahun 2020 yang pertumbuhan ekonominya adalah minus 5,91 persen. Selain itu, pertumbuhan itu belum memperhitungkan dampak penerapan PPKM selama Juli-Agustus 2021 pada banyak wilayah kabupaten/- kota di Jateng. Kalau diperhitungkan, pertumbuhannya bisa jadi jauh lebih rendah. Peringatan ini tentu saja membuat masyarakat awan bingung dan bertanya mana yang benar.

Sinyal Pemulihan

Saya menilai, rilis angka pertumbuhan ekonomi Jateng sebesar 5,56 persen pada triwulan II 2021 patut direspons positif dan disyukuri.

Dari deretan angka-anga tersebut, terlihat pertumbuhan ekonomi Jateng sedang menuju ke fase pemulihan. Kedua, secara semesteran (yoy), pertumbuhan ekonomi Jateng pada semester I (Januari-Juni) 2021 adalah 2,33 persen dibanding periode yang sama pada 2020 sebesar minus 1,73 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa kinerja perekonomian Jateng selama Januari-Juni 2021 sudah jauh lebih baik daripada periode yang sama pada 2020.

Membaiknya kinerja perekonomian itu berdampak positif pada penurunan jumlah kemiskinan dan pengangguran terbuka. Rilis BPS pada Juli 2021 lalu menunjukkan hal tersebut. Ketiga, dari sisi permintaan dan penawaran ekonomi terlihat fundamental perekonomian Jateng sudah mulai membaik.

Dari sisi permintaan, terlihat Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PKRT), Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PKP), Penanaman Modal Tetap Bruto (PMTB), Ekspor dan Impor pada semester I/2021 mulai bertumbuh positif dan meningkat. Kenaikan permintaan tersebut juga diikuti dengan peningkatan penawaran.

Sejumlah sektor fundamental ekonomi Jateng, seperti Pertanian, Industri Pengolahan, Perdagangan, Konstruksi, Penyediaan Akomodasi dan Makananminuman, Jasa Pendidikan sektor-sektor pendukung lainnya terus bertumbuh positif.

Tren pertumbuhan positif tersebut tentu berdampak positif pada penyerapan tenaga kerja dan penurunan kemiskinan. Penulis berharap, dalam rilis BPS selanjutnya, angka kemiskinan penduduk dan penggangguran terbuka pada September 2021 akan semakin menurun.

Kesehatan Ekonomi

Dari sejumlah indikator ekonomi di atas terlihat bahwa perekonomian Jateng dari Januari-Juni 2021 sesungguhnya telah memasuki ke fase pemulihan karena telah bertumbuh positif. Hal ini memang patut disyukuri.

Faktor pendorong yang mendukung pemulihan tersebut adalah faktor lingkungan regional, nasional dan global yang kian kondusif. Hal ini bisa dilihat dari kian meningkatnya pertumbuhan ekonomi dari sisi permintaan ekonomi. Selain itu, juga dari terus membaiknya neraca perdagangan (ekspor-impor) Provinsi Jateng pada semester I/2021.

Seiring dengan pemulihan ekonomi pada sejumlah negara mitra ekonomi, kinerja ekspor-impor Jateng juga semakin bagus. Meningkatnya impor pada Juni 2021 juga memberi optimisme bahwa kinerja sektor industri pengolahan, perdagangan, pertanian dan lainnya ke depan akan semakin baik.

Faktor pendorong lainnya adalah tatakelola pemerintahan yang semakin baik dalam menyeleraskan pengendalian Covid-19 dengan kehidupan perekonomian masyarakat dan dunia usaha. Selama Januari-Juni 2021, pemerintah daerah Jateng, yang dimotori Gubernur Jateng dapat dinilai cukup berhasil dalam melakukan pengendalian dan penyelarasan tersebut.

Keberhasilan tersebut berdampak positif pada kinerja perekonomian daerah. Namun, akibat sikap menganggap remeh atau ceroboh dari sebagian masyarakat pada sejumlah wilayah dan juga munculnya varian baru Covid-19 yang lebih agresif, maka pada Juli-Agustus kasus Covid-19 meningkat tajam. Jateng menjadi salah satu episentrum kasus Covid- 19 nasional.

Pemerintah terpaksa memberlakukan PPKM pada sebagian wilayah kabupaten/kota di Jateng. Hal ini tentu akan berdampak negatif pada kinerja perekonomian pada sejumlah daerah kabupaten/kota. Sangat mungkin, pertumbuhan ekonomi Jateng pada Triwulan III 2021 akan lebih rendah daripada pertumbuhan ekonomi Triwulan II/2021.

Berkenaan dengan hal itu, maka faktor kunci untuk pemulihan pertumbuhan ekonomi Jateng pada semester II/2021 adalah pada penyelerasan pengendalian Covid-19 dan pertumbuhan ekonomi. Artinya, pengendalian terhadap laju kasus Covid-19 di suatu daerah harus bisa diselaraskan dengan pertimbangan kebutuhan ekonomi masyarakat setempat untuk bisa bertahan hidup.

Jangan sampai pengendalian Covid- 19 mengorbankan kebutuhan ekonomi masyarakat luas dan dunia usaha. Demikian pula sebaliknya. Jangan sampai kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomii, lalu melonggarkan protokol kesehatan.

Belajar dari pengalaman fluktuasi kasus Covid-19 dan pertumbuhan ekonomi selama Maret 2020-Juni 2021, maka penyelerasan pengendalian Covid-19 dan pertumbuhan ekonomi (penyelarasan kesehatan-ekonomi) menjadi sangat penting bagi pemerintah provinsi dan kabupaten/kota dalam pengelolaan daerah selama semester II/2021.

Konsekunesinya, laju Covid-19 dan pertumbuhan ekonomi daerah mungkin akan terjadi secara moderat.

https://www.suaramerdeka.com/nasional/pr-04850452/menyelaraskan-kesehatan-ekonomi?page=all

Kategori: ,