Webinar Dies Natalis Psikologi Tawarkan Bazar Intelektual
Rabu, 14 Juli 2021 | 14:41 WIB

Pelaksanaan webinar bazar intelektual Fakultas Psikologi Unika secara daring

Untuk yang ke sekian kalinya masih dalam rangkaian Dies Natalis Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata yang ke-37, pada hari Sabtu (10/7) telah diselenggarakan acara webinar yang dikemas dalam bentuk bazar intelektual yang menawarkan enam menu webinar dengan topik yang berbeda.

Bazar Intelektual tersebut menawarkan topik-topik menarik dari enam bidang konsentrasi yang dimiliki oleh Fakultas Psikologi yang dibawakan pula oleh para narasumber dari dosen Fakultas Psikologi yang memiliki dasar kompetensi yang kuat pada bidang ilmunya masing-masing.

Keenam topik yang ditawarkan dalam bazar Intelektual tersebut antara lain adalah: “Relasi Keluarga Di Era New Normal” oleh Psikologi Perkembangan, “Menumbuhkan Tepo Seliro Di Sekolah Dalam Masa Pandemic” dari Psikologi Pendidikan, “Pendekatan Modern Dan Tradisional Dalam Kesehatan Mental Remaja” disampaikan oleh Psikologi Klinis, “Sinergi Antar Generasi Dalam Masa Transisi,” oleh Psikologi Industri Organisasi, “Slametan, Media Transformatif Mewujudkan Kedamaian & Keadilan di Era Disruptif” dari Psikologi Sosial, dan “Jogo Tonggo: From Zero to Hero” dibawakan oleh Psikologi Kesehatan.

Seperti yang dipaparkan oleh Ketua Panitia Dies Natalis Fakultas Psikologi yang ke-37 Unika Soegijapranata Dr Ferdinandus Hindiarto SPsi Msi, “Bazar Intelektual ini bertujuan untuk berbagi pengetahuan dan hasil-hasil riset dengan tema kearifan lokal sebagai kekuatan kolektif menghadapi masa transisi kepada masyarakat melalui webinar,” terangnya.

Selain itu, kita juga mengemban perutusan untuk dapat mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan bagi semakin baiknya kehidupan manusia. Dan wujud nyata dari perutusan itu adalah dengan penyelenggaraan webinar dalam kemasan Bazar Intelektual yang materinya bersifat aplikatif serta sangat dibutuhkan oleh publik, imbuhnya.

Dalam kegiatan webinar intelektual ini pelaksanaannya dibagi dalam enam ruang zoom yang diselenggarakan secara bersama-sama dan simultan, salah satunya seperti yang dipaparkan oleh Dr Endang Widyorini MS dari bidang Psikologi Perkembangan yang membahas tentang Relasi Keluarga Di Era New Normal.

“Masing-masing generasi mempunyai karakteristik sendiri-sendiri, sehingga seringkali mereka melihat tentang suatu hal dari sudut pandang sendiri-sendiri, oleh karena itu perlu untuk bisa saling menghargai dan perlu ada tatanan  dalam keluarga,” jelasnya.

Terlebih dalam masa new normal ini banyak stressor yang dialami oleh seorang anak maupun orangtua. Seperti misalnya stressor yang dialami anak adalah pergaulan dengan teman menjadi terbatas, lebih banyak di rumah, sekolah harus daring, dan banyak pegang device.

Sedangkan yang dialami orangtua biasanya adalah harus kerja wfh atau wfo, bersih-bersih rumah, mencuci, memasak dan tugas rumah lainnya, kemudian bertugas sebagai guru, dan penghasilan berkurang.

Oleh karena itu stressor ini harus bisa dikelola, karena jika tidak bisa dikelola dengan baik, maka akan menjadikan orang itu depresi dan suka marah-marah. Namun demikian, stressor juga bisa menjadi sesuatu yang menguatkan, baik dalam hal kekuatan mental, maupun religius serta kebiasaan sehat.

Stressor juga bisa berakibat komunikasi antara orangtua dengan anak menjadi terganggu, karena cara orangtua dalam mengkomunikasikan sesuatu hal sering kurang pas, sehingga yang muncul adalah anak merasa orangtua tidak bisa menerima kekurangannya.

Dengan kondisi tersebut, perlu kita menggali dan kembali menggunakan kearifan lokal yang bisa dijadikan pedoman atau tatanan seperti misalnya falsafah dari Ki Hajar Dewantara mengenai tiga hal yaitu Ing Ngarsa sung Tuladha (bermakna : di depan menjadi contoh atau panutan), Ing Madya Mangun Karsa (bermakna : di tengah berbuat keseimbangan), dan Tut Wuri Handayani ( bermakna : di belakang membuat dorongan atau mendorong).

Orangtua adalah guru yang pertama dan utama, maka dengan tindakan positive parenting yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara sebagai salah satu kearifan lokal dalam mendidik anak, diharapkan menjadi solusi yang baik berkaitan dengan komunikasi antara orangtua dengan anak, terangnya.

Sementara Dra Sri Sumijati MSi dalam paparan materinya lebih banyak membahas relasi keluarga dengan Lansia. “ Karakteristik lansia adalah banyak pengalaman, bijaksana, banyak waktu luang, mengalami penurunan fisik, mental, sosial dan ekonomi,” paparnya.

Dan dalam karakteristik tersebut ada kearifan lokal yang bisa diaplikasikan seperti misalnya legawa atau berarti ikhlas, aja dumeh atau jangan mentang-mentang dan eling lan waspada yang berarti ingat Tuhan, sesama dan waspada.

Sebab lansia dengan karakteristik yang dimiliki tentu membutuhkan perhatian dari anak cucu, namun demikian diharapkan tetap menjaga kondisi mereka supaya selalu sehat dan bahagia melalui tiga kearifan lokal yang bisa dijadikan pedoman, pungkasnya. (FAS)

Kategori: ,