Rayakan Dies Natalis ke-37, Fakultas Psikologi Unika Gelar Bazar Intelektual
Kamis, 15 Juli 2021 | 15:10 WIB

Universitas Katolik Soegijapranata (Unika) mengadakan acara yang digelar secara daring tajuk “Bazar Intelektual”, Sabtu 10 Juli 2021 . Acara ini diselenggarakan Fakultas Psikologi untuk memperingati Dies Natalis ke-37 Unika.

Bazar Intelektual itu menawarkan berbagai topik menarik dari enam bidang konsentrasi yang dimiliki oleh Fakultas Psikologi. Masing-masing materi akan dibawakan pula oleh para narasumber dari dosen Fakultas Psikologi yang memiliki dasar kompetensi yang kuat pada bidang ilmunya masing-masing.

Keenam topik yang diberikan antara lain adalah: “Relasi Keluarga Di Era New Normal” oleh Psikologi Perkembangan, “Menumbuhkan Tepo Seliro di Sekolah Dalam Masa Pandemi” dari Psikologi Pendidikan, “Pendekatan Modern Dan Tradisional Dalam Kesehatan Mental Remaja” disampaikan oleh Psikologi Klinis.

Kemudian ada juga materi, “Sinergi Antar Generasi Dalam Masa Transisi,” oleh Psikologi Industri Organisasi, “Slametan, Media Transformatif Mewujudkan Kedamaian & Keadilan di Era Disruptif” dari Psikologi Sosial, dan “Jogo Tonggo: From Zero to Hero” dibawakan oleh Psikologi Kesehatan.

Ketua Panitia Dies Natalis Fakultas Psikologi ke-37 Unika Soegijapranata Dr Ferdinandus Hindiarto SPsi Msi memaparkan jika bazaar intelektual ini bertujuan untuk berbagi pengetahuan  dan hasil riset.

“Temanya masih seputar kearifan lokal sebagai kekuatan kolektif untuk menghadapi masa transisi kepada masyarakat melalui webinar,” ujarnya.

Se;ain itu lanjut Ferdinandus, Fakultas Psikologi juga mengemban perutusan untuk dapat menyebarkan ilmu pengetahuan. Penyelenggaraan Bazar Intelektual ini sebagai bentuk wujud perutusan yang cukup aplikatuf.

Sementara Dr Endang Widyorini MS dari bidang Psikologi Perkembangan yang membahas tentang Relasi Keluarga Di Era New Normal. Menurutnya masing masing-masing generasi mempunyai karakteristik sendiri-sendiri, sehingga seringkali mereka melihat tentang suatu hal dari sudut pandang yang berbeda.

“Oleh karena itu perlu untuk bisa saling menghargai dan perlu ada tatanan dalam keluarga,” jelasnya.

Terlebih dalam masa new normal ini banyak stressor yang dialami oleh seorang anak maupun orangtua. Seperti misalnya stressor yang dialami anak adalah pergaulan dengan teman menjadi terbatas, lebih banyak di rumah, sekolah harus daring, dan banyak pegang device.

Sedangkan yang dialami orangtua biasanya adalah harus kerja WFH atau WFO, bersih-bersih rumah, mencuci, memasak dan tugas rumah lainnya, kemudian bertugas sebagai guru, dan penghasilan berkurang.

Maka stressor ini harus bisa dikelola. Sebab jika tidak akan memicu deperesi dan mudah marah. Namun di sisi lain stressor bisa jadi sesuatu yang menguatkan baik mental maupun religiusitas.

Kemudian dari Dra Sri Sumijati MSi dalam paparan materinya lebih banyak membahas relasi keluarga dengan Lansia. Katanya karakteristik lansia adalah banyak pengalaman, bijaksana, banyak waktu luang, mengalami penurunan fisik, mental, sosial dan ekonomi.

“Sebab lansia dengan karakteristik yang dimiliki tentu membutuhkan perhatian dari anak cucu, namun demikian diharapkan tetap menjaga kondisi mereka supaya selalu sehat dan bahagia melalui tiga kearifan lokal yang bisa dijadikan pedoman,” paparnya.

https://m.ayosemarang.com/read/2021/07/15/80968/rayakan-dies-natalis-ke-37-fakultas-psikologi-unika-gelar-bazar-intelektual

berita serupa

https://mediaini.com/info-terkini/2021/07/15/42928/webinar-dies-natalis-psikologi-tawarkan-bazar-intelektual/

https://jateng.tribunnews.com/2021/07/15/hasil-riset-tema-kearifan-lokal-ditampilkan-dalam-bazar-intelektual-psikologi-unika

Kategori: