Merajut Persaudaraan Tanpa Diskriminasi
Senin, 12 Juli 2021 | 11:47 WIB

Merajut Persaudaraan tanpa Diskriminasi

Oleh: Aloys Budi Purnomo, PR., Ketua Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan

TIDAK ada yang lebih membahagiakan dalam hidup bersama selain bisa merajut persaudaraan tanpa diskriminasi dalam komunitas basis manusiawi yang saling menghargai dan meneguhkan satu terhadap yang lain. Bahkan Justru karena berbeda dari sisi apa pun, agama, budaya, suku, dan bahasa. Itulah yang mendominasi dalam 25 tahun pengalaman hidup saya dalam panggilan dan perutusan sebagai seorang rohaniwan Katolik, atau biasa disapa romo pastur Katolik.

Saya bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa boleh mengemban tugas perutusan sebagai imam sejak pentahbisan saya, 25 tahun silam. Tepatnya tanggal 8 Juli 1996. Dengan demikian, 8 Juli 2021 ini saya mensyukuri pesta perak panggilanku sebagai seorang romo pastur Katolik. Selama dua puluh lima tahun perjalanan pelayanan sebagai romo pastur, pengalaman dalam kebersamaan keberagaman untuk merajut persaudaraan sejati tanpa dIskriminasi ternyata merupakan pengalaman indah yang harus saya syukuri dalam perspektif kebangsaan, kebudayaan, kemanusiaan, dan keutuhan ciptaan.

Melalui tulisan ini, ijinkan saya berbagi pengalaman indah menghayati dua puluh tahun pelayanan imamat saya, justru karena sebagian besar dari pengalaman itu terbangun dalam kebersamaan dengan masyarakat luas, selain kebersamaan dengan sesama umat. Justru inilah yang merupakan pengalaman indah persis ketika dunia kita dengan mudah terprovokasi oleh prasangka, sikap benci, bahkan perilaku yang ditandai kekerasan dan penolakan terhadap liyan yang berbeda. Sebuah penyelenggaraan ilahi membuat saya mengalami taman keberagaman yang indah dan selayaknya disyukuri dan dlwartakan.

Inklusif
Biasanya dan memang begitulah jatidirinya, seorang romo pastur Katolik diutus melayani umat Katolik secara internal. Itu yang utama. Romo pastur menjadi pelayan rohani bagi umatnya. Disibukkan dengan reksa pastoral yang eksklusif keimanan berkasutkan semangat pelayanan dan berikatpinggangkan pengorbanan.

Narnun, dalam perjalanan waktu, saya mengalami keindahan tersendiri justru ketika pelayanan saya Udak melulu spiritual dan sakramental, melainkan juga sosial kultural. Artinya, pelayanan itu tidak hanya tertuju secara eksklusif kepada umat Katolik saja, melainkan juga secara inklusif kepada masyarakat pada umumnya. Sakramen bukan semata dirayakan di peribadatan melainkan dihidupi dalam perjuangan hidup keseharian bersama yang terluka, terlunta, dan terpinggirkan! Sakramen menjadi politik keselamatan untuk kesejahteraan bersama, perdamaian, keutuhan ciptaan, dan kelestarian llngkungan.

25 Tahun
Praktis dalam dua puluh lima tahun menjalani panggilan sebagai romo pastur, sebagian besar pelayanan saya terjadi bukan hanya di seputar altar melainkan juga dl tengah semak belukar persaudaraan sejati tanpa diskriminasi kepada siapa saja hingga terbangunlah komunitas basis manusiawi yang saling menghargai dan mengapresiasi. Liturginya adalah kebudayaan dan kesenian. Pelayanannya adalah pembelaan terhadap yang terjebak dalam stigma KLMTD, kecil leman miskin tersingkir dan difabel. Di situlah sensasi gembala berarorna domba terasa harum semerbak dalam wangi kebersamaan dalarn keberagaman.

Dalam konteks itu, saya bersyukur boleh bekerja sama dengan rekan-rekan jurnalistik dengan fokus jurnalisme damai. Syukur pula atas kerja sama dengan rekan-rekan seniman dan budayawan dalam mengembangkan bakat untuk bangsa dan kemanusiaan (talenfa pro patria et humanitate).

Persaudaraan Sejati
Dalam dua puluh lima tahun pelayanan sebagai romo pastor, saya bersyukur boleh merajut persaudaraan sejati tanpa dIskriminasi dengan siapa saja. Bersahabat dengan para almukarom Kiai Haji, Kiai, Habaib, Bante, Pandita, Pendeta dan para tokoh lintas agama melalui srawung dan silaturahmi menjadi berkat tersensirk dalam pelayanan saya.

Hidup tidak dikuasai prasangka, suuzon, curiga apalagi kebencian, melaInkan dengan kasih persahabatan dan persaudaraan sejati tanpa diskriminasi. Semua agama mengajarkan kasih sayang, perdamaian, keadilan, kerukunan, dan persaudaraan.

Persaudaraan insani yang sejati menjadi persaudaraan untuk membangun komunitas basis manuskawi yang kokoh di akar rumput. Persaudaraan sejati tanpa diskrirninasi bukan sekadar pengalaman elitis manis di bibir pahit di kenyataan melainkan sungguh-sungguh terwujud dalam kebersamaan suka dan duka.

Tanpa Diskriminasi
Kehadiran bersama yang terluka, yang mengalami ketidakadilan, yang tergusur dan tersingkir bukan untuk popularttas melainkan demi solidaritas. Landasannya adalah kepedulian dan bela rasa kepada kaum papa duafa sebagal sesama manusia.

Di situlah rajutan persaudaraan sejati tanpa diskriminast menjadi keindahan dalam keberagarnan warna-warni taman bunga kehidupan. Melalui tulisan kecil saya menghaturkan rasa syukur kepada para Guru, Sahabat, rekan sejawat, dan siapa saja yang selama ini bersinergi dalam mewujudkan persaudaraan sejati tanpa diskriminasi.

Saling memaafkan dan mengampuni adalah keutamaan personal dan Sosial. Semoga segala khilaf dan kesalahan saya pun mendapatkan maaf dan pengampunan. Mari maju bersama, terutama di masa pandemi ini merajut dan mewujudkan persaudaraan sejati dalam komunitas basis manusiawl yang adil, damai, dan sejahtera bagi sesama dan semesta.

— Tribun Jateng 8 Juli 2021 hal. 2 

Kategori: ,