Fakultas Ilmu Komputer Unika Bersama APTIKOM Jawa Tengah Selenggarakan Webinar MBKM
Senin, 5 Juli 2021 | 15:40 WIB

Prof Ir Nizam MSc DIC PhD IPU Asean Eng selaku Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemendikbud saat memaparkan materinya

Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer (APTIKOM) Jawa Tengah bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Komputer Unika Soegijapranata, pada hari Kamis (1/7) telah menyelenggarakan webinar secara daring melalui ruang zoom dan ditayangkan pula melalui laman youtube.

Acara tersebut menghadirkan keynote speaker Prof Ir Nizam MSc DIC PhD IPU Asean Eng selaku Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemendikbud, beserta beberapa pembicara lain, salah satunya adalah Rektor Unika Soegijapranata yang merupakan Guru Besar Sistem Informasi Fakultas Ilmu komputer Unika Soegijapranata Prof Dr F Ridwan Sanjaya MS IEC.

Tema besar dalam webinar tersebut adalah “Strategi Penyelenggaraan Kampus Merdeka, Merdeka Belajar untuk Program Studi Informatika dan Komputer,” dan kegiatan webinar ini juga merupakan salah satu rangkaian kegiatan Dies Natalis Unika Soegijapranata yang ke-39.

Dalam pengantarnya Prof Ridwan Sanjaya selaku Rektor Unika Soegijapranata mengingatkan kembali tentang kekuatan keilmuan dari teknologi digital menjadi kunci di masa pandemi saat ini.

“Kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) merupakan visi yang luar biasa dari pemerintah terutama dari Kementerian Kebudayaan. Hal tersebut merupakan peluang yang tidak bisa dilewatkan begitu saja oleh mahasiswa, dosen dan bahkan perguruan tinggi, serta pengelola pendidikan komputer yang ada di Indonesia,“ jelasnya.

Saya sangat berharap dengan adanya acara webinar kali ini bisa membuka cakrawala kita kemudian juga bisa melihat lebih dalam dan lebih jauh bahkan lebih ke depan dari kebijakan MBKM untuk keuntungan perguruan tinggi berbasis komputer yang ada di Indonesia, lanjutnya.

Sementara Prof Nizam selaku Keynote Speaker  dalam webinar tersebut, mengungkapkan proses transformasi teknologi digital di era Revolusi Indistri 4.0 terutama pengimplementasian kebijakan MBKM supaya bisa mengaselerasi transformasi digital tersebut.

“Dengan bonus demografi yang ada di negara kita, tidak ada cara lain selain kita bersama-sama bergandengan tangan, dan bergotong royong antara kampus dengan kampus kehidupan, untuk memanfaatkan berbagai macam platform dan peluang serta kesempatan untuk belajar bagi adik-adik mahasiswa melalui berbagai semesta pembelajaran,” papar Prof Nizam.

Melalui sembilan program Kampus Merdeka, kita harapkan bisa mengaselerasi keunggulan dari para mahasiswa semuanya sesuai dengan passion atau cita-cita, bakat dan aspirasinya untuk mengembangkan diri serta keluar dari lorong-lorong program studi menuju semesta belajar yang lebih luas.

Melalui MBKM, diharap perguruan tinggi tidak hanya menyiapkan SDM Unggul dari perguruan tingginya, tetapi juga membawa adik-adik mahasiswa dan dosennya untuk bersama-sama mentransformasikan masyarakat luas ke dalam transformasi digital baik transformasi ekonomi maupun sosialnya. Seperti halnya memberikan edukasi tentang bagaimana bernavigasi di media sosial, berliterasi teknologi informasi di dalam metode pembelajaran dan sebagainya.

Dengan MBKM, kita juga berharap bisa mengaselerasi penguatan konten-konten yang terkait dengan informatika maupun teknik komputer, serta bidang ilmu sejenis di perguruan tinggi kita, baik yang masuk dalam program studi APTIKOM maupun program studi yang lain.

Saya berharap APTIKOM berada di garis depan dalam mengimplementasikan kebijakan MBKM, untuk membangun SDM unggul, berbasis digital dan mewujudkan Indonesia jaya yang kita cita-citakan bersama, tandasnya.

New Normal Dunia Pendidikan Tinggi

Sedang Prof Ridwan Sanjaya yang juga menjadi pembicara dalam webinar ini, menyampaikan refleksi pengimplementasian MBKM dalam satu tahun ini di perguruan tinggi khususnya di Unika Soegijapranata.

“Sebetulnya kita tidak perlu memperdebatkan lagi tentang hal positif atau negatif dari hal-hal yang disebutkan program MBKM, karena pada dasarnya hampir tidak ada hal-hal yang baru dan sudah dilaksanakan oleh beberapa kampus,” terang Prof Ridwan.

Seperti halnya magang kerja yang hampir semua program studi telah melakukannya, terutama program studi yang berbasis komputer. Kemudian dalam hal pertukaran pelajar jika kita bergabung dengan suatu asosiasi baik dari dalam maupun luar negeri, biasanya ada penawaran-penawaran mengenai pertukaran pelajar.

Demikian pula dengan proyek desa, mengajar, tentu jika perguruan tinggi tersebut tidak menghilangkan KKN maka bukan menjadi hal baru, seperti Unika juga sudah lama menerapkan KKN meskipun pemerintahan sudah beralih dari orde baru ke orde reformasi.

Selanjutnya proyek kemanusiaan juga demikian, termasuk kewirausahaan dan penelitian banyak kampus sudah menerapkan kegiatan tersebut bagi mahasiswanya. Memang yang menjadi masalah atau perlu perhatian khusus adalah adanya besaran SKS, sedang kegiatannya sebenarnya sudah dari dulu sering kita lakukan, ungkapnya.

Melihat banyak hal yang sebenarnya sudah ada dan disiapkan serta mendapatkan pengakuan, maka kita melihat MBKM sebagai cara baru memformulasi lulusan untuk menghadapi masa depan. Hal lain, perguruan tinggi sebetulnya sudah melaksanakan melalui kerjasama asosiasi-asosiasi, namun dibutuhkan lebih banyak platform untuk lebih mempermudah.

Dan selama pelaksanaan tersebut, pengelola, dosen, dan mahasiswa mendapatkan sukacita, untuk itu perlu adanya inovasi, kebaruan, kesempatan, dan harapan. Demikian juga kesempatan menimba dan mengembangkan hal baru harus menjadi new normal dunia pendidikan tinggi, pungkas Prof Ridwan.  (FAS)

Kategori: ,