FAD Unika Gelar Serial Diskusi SDAD Ke-3
Jumat, 23 Juli 2021 | 17:11 WIB

 

Moderator webinar SDAD Serial ke-3 Ratih Dian Saraswati ST M.Eng (kiri) dengan dua narasumber yaitu MD Nestri Kiswari ST MSc (tengah) dan Ir Supriyono MT (paling kanan)

Sebuah acara webinar Serial Diskusi Arsitektur dan Desain (SDAD) ke-3 Fakultas Arsitektur dan Desain (FAD) Unika Soegijapranata, telah diselenggarakan pada hari Jumat (23/7) di ruang virtual Unika Soegijapranata.

Dengan tema besar “Rekreasi Dalam Wajah Kota”, acara webinar ini menghadirkan dua narasumber yaitu Ir Supriyono MT dengan topik ‘Perilaku pengunjung Taman Kota Semarang era Covid-19’, dan MD Nestri Kiswari ST MSc yang membahas topik ‘Identifikasi Potensi Kota Muntok sebagai Obyek Wisata’.

Mengawali paparan materinya, Ir Supriyono MT menjelaskan perubahan yang terjadi pada masa pandemi covid-19 di dunia. “Perubahan di masa pandemi terhadap wajah dunia, terjadi seperti tidak pernah terlihat sebelumnya. Tempat-tempat publik sepi, dan dengan protokol kesehatan maka orang-orang menjaga jarak, terutama bagi mereka menjalani karantina menimbulkan rasa jenuh bagi manusia yang menjadi mahluk sosial,” terangnya.

Sedangkan tempat publik seperti misalnya taman kota, juga menghadapi permasalahan pada masa new normal akibat pandemi covid-19. Permasalahan yang terjadi adalah pengguna perlu beradaptasi terhadap taman kota, adanya pembatasan jarak fisik akan mempengaruhi adanya personal space antar individu, faktor kesesakan juga menjadi persoalan karena sebagian orang suka dengan kesesakan tersebut, dan adanya pengunjung yang sifatnya tetap, apalagi yang datang secara kelompok juga akan menimbulkan teritorialitas.

Maka diperlukan beberapa solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu dengan menyesuaikan tempat berinteraksi untuk mengurangi interaksi antar individu, dan harus menyesuaikan jarak, serta memecah kerumunan.

Kemudian juga penyesuaian lebar jalan setapak, yang sebelum pandemi cukup sekitar 1,20 meter sekarang minimal menjadi sekitar 2,20 meter, kalau perlu diberi pembatas. Selain itu perlu disediakan pula tempat cuci tangan di beberapa titik, tandasnya.

Narasumber kedua, MD Nestri Kiswari ST MSc banyak mengulas potensi kota Muntok sebagai obyek wisata. “Muntok sebagai ibukota Kabupaten Bangka Barat Provinsi Bangka Belitung, memiliki kondisi alam yang terdiri dari dataran rendah, pesisir dan dataran tinggi,” paparnya.

Di daerah dataran rendah dan pesisir sebagian besar banyak dihuni oleh orang Cina dan Melayu, sedangkan di daerah tinggi, pemukiman banyak dihuni oleh orang-orang Eropa saat zaman kolonial, sehingga kota Muntok sering dikenal Kampung Cina, Kampung Melayu dan Kampung Eropa. Area kampung tersebut ditandai dengan gaya arsitektur bangunan sesuai nama kampungnya, baik itu gaya arsitektur Melayu, Cina atau Eropa atau kolonial.

Sedangkan wisata alam di daerah Muntok ada beberapa seperti telaga biru, air terjun pait jaya, mangrove leguk bulan, batu balai, pantai tanjung kalian, pantai tanjung ular, dan pantai batu rakit.

Sementara untuk wisata budaya atau sejarah, Kota Muntok memiliki lima tempat wisata yang saling berdekatan di kota atas yaitu pesanggrahan Muntok, museum timah Muntok, Klenteng Kong Fuk Miau, Masjid Jami, rumah mayor dan pesanggrahan manumbing.

Dan untuk wisata budaya dengan kategori ruang terbuka publik, Muntok memiliki wisata taman wilhelmina, taman juliana, lapangan gelora muntok, dan makam kute seribu.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti yang terdiri dari tiga orang yaitu MD Nestri Kiswari ST MSc, Ir Etty Endang Listiati MT, dan Ir IM Tri Hesti Mulyani MT, diketahui bahwa obyek wisata yang memiliki skor tertinggi untuk daya tarik wisata dan citra destinasi adalah pantai Tanjung Kelian, museum timah, kampung Cina dan lapangan gelora.

Sebaliknya yang mendapatkan skor terendah adalah pada tourist leisure recreation dan tourist infrastructure, artinya hampir di setiap destinasi masih sulit untuk mendapatkan sesuatu yang bisa dibeli untuk kenang-kenangan atau souvenir.

“Dengan demikian ada beberapa hal yang bisa disimpulkan bahwa Muntok memiliki potensi yang kuat dalam bidang wisata, perlu ada pengembangan infrastruktur pariwisata di Muntok, serta perlu dikembangkan spot-spot fasilitas pariwisata pada jalur Pangkalpinang menuju ke Muntok,”pungkasnya. (FAS)

Kategori: ,