Dinamika Moderasi Beragama di Media Sosial Semarang, Solo, dan Jogja, Ini Kata Peneliti dari Unika
Selasa, 20 Juli 2021 | 21:36 WIB

image

Pusat Studi Urban (PSU) Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata mengadakan workshop penulisan karya ilmiah yang memunculkan naskah publikasi "Membangun Kota Inklusif, Sebuah Antologi" baru-baru ini.

Workshop ini kemudian menjadi latar belakang dari kolokium Metodologi Ilmu-Ilmu dalam Memotret Perubahan Sosial Kontemporer.

Ketua PSU Unika Soegijapranata, Dr Y Trihoni Nalesti Dewi, menuturkan masyarakat dan perubahannya adalah sesuatu yang dinamis.

"Pada saat merancang kegiatan ini, kami meyakini bahwa terdapat hubungan yang sangat erat antara penelitian, ilmu dan kebenaran," kata Trihoni melalui keterangan tertulis, Selasa (20/7/2021).

Ia melanjutkan, satu penelitian akan menghasilkan ilmu, dan ilmu akan menghasilkan kebenaran. Kemudian, antara penelitian dan ilmu adalah sama-sama proses yang hasilnya adalah kebenaran.

Sehingga, kata dia, dapat dipahami bahwa pangkal kebenaran adalah penelitian.

"Forum ini selain memperkaya wawasan peneliti maupun observer, juga merupakan pengujian terhadap penelitian yang sudah dilakukan," jelasnya.

Dengan begitu, penelitian yang sudah dilakukan bisa dievaluasi apakah sudah cukup dilakukan secara sistematis, dilakukan secara terkendali, konsep yang tercakup apakah terhubung secara operasional dalam dunia nyata.

Kemudian, apakah mengandung sifat kritis dengan tolok ukur (kriteria) yang dipakai untuk menentukan sesuatu dapat diterima. Misalnya, tolok ukur dalam menentukan hipotesis, besarnya sampel, memilih metode pengumpulan data, memilih alat analisis, dan sebagainya.

Forum ini menyajikan 12 paper, yang dibagi dalam 4 sesi. Satu paper yang dipaparkan yakni terkait moderasi beragama umat Kristiani melalui media sosial.

Riset dilakukan pada tiga wilayah: Semarang Raya, Solo Raya dan DIY.

Peneliti riset ini yakni Andreas Pandiangan Msi, Adrianus Bintang Hanto N MA, dan Andreas Ryan Sanjaya MA.

Andreas Pandiangan menjelaskan, apa itu moderasi beragama dan kaitannya dengan media sosial yang dalam penelitiannya yang fokus pada media sosial kelompok Whatsapp (WA) atau grup WA umat Kristiani.

"Kami mencoba menggunakan indikator penelitian ini berdasarkan indikator yang disampaikan Kementerian Agama  terkait moderasi. Yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan dan akomodatif terhadap kebudayaan lokal," katanya.

Menurutnya, moderasi beragama pada dasarnya menyangkut semua agama.

Karena moderasi beragama dipahami sebagai cara pandang, sikap dan perilaku selalu mengambil posisi di tengah, selalu bertindak adil, dan tidak ekstrem dalam beragama.

"Dalam kehidupan kita sehari-hari atau dalam realitas sosial bahkan keagamaan, sebagian besar dibawa ke dalam ruang-ruang media sosial. Oleh karena itu, dalam penelitian kami mencoba melihat hal itu," terang Andreas.

Namun, karena begitu banyaknya media sosial maka dalam penelitian ini, researcher hanya memfokuskan pada kelompok-kelompok WA berbasis gereja atau jemaat.

Dalam simpulan penelitian, dinamika dan diskusi isu-isu moderasi beragama dalam kelompok WA komunitas Kristiani berbasis gereja atau jemaat di tiga wilayah penelitian berbeda satu dengan yang lain.

"Perbedaan itu karena dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Yaitu suasana kondisi budaya, ekonomi dan politik setempat. Termasuk relasi jaringan di masing-masing komunitas internal Kristiani dengan komunitas umat non-Kristiani atau masyarakat. Serta pengelolaan dinamika maupun diskusi di dalam kelompok WA," bebernya.

Oleh karena itu, menurutnya, perlu ditingkatkan pemahaman akan moderasi beragama, khususnya di kelompok-kelompok WA.

Karena biasanya yang menonjol dalam tema materi adalah menyangkut informasi kehidupan sosial kemasyarakatan.

"Dan admin pengelola kelompok WA diharapkan tidak hanya menjadi penjaga atau pengatur lalu lintas saja. Tapi juga memiliki kemampuan dan keterampilan untuk memproduksi materi untuk kelompok WA yang menjadi tanggungj awabnya," ucapnya.

https://jateng.tribunnews.com/2021/07/20/dinamika-moderasi-beragama-di-media-sosial-semarang-solo-dan-jogja-ini-kata-peneliti-dari-unika?page=all.

Kategori: