Dare or Double Dare, Jika Harus Berbahasa Inggris Saat Bekerja ? – Talkshow siapkerja SSCC
Kamis, 1 Juli 2021 | 15:52 WIB

Mampu berbahasa Inggris di hari gini, pasti sangat memberikan nilai plus bagi para lulusan. Namun, apakah mereka berani untuk menerapkannya di dunia kerja? Tema yang sederhana, namun menggelitik bagi para pencari kerja ataupun lulusan / calon lulusan perguruan tinggi.

Talkshow siapkerja kali ini mengusung nara sumber dari PT. MAS SUMBIRI, yang diwakili oleh Francisca Vina Oktavia, S.Psi – Executive Human Resources Development, dan juga DR. Heny Hartono – dosen Fakultas Bahasa dan Seni. Perlu diketahui pula bahwa kak Francisca adalah alumni dari Fakultas Psikologi Unika dan telah bergabung di MAS SUMBIRI sekitar 4 tahun ini. Dengan pengalamannya sebagai HR di MAS SUMBIRI, segala perkembangan dan system pembinaan perusahaan tersebut yang sekiranya dapat memberikan gambaran yang sangat jelas bagaimana perusahaan menjadi partner kerja dan pembimbing pekerja dalam berkontribusi.

Berbagai pertanyaan yang sangat baik dari para peserta tentang bagaimana mereka harus mengasah ketrampilan berbahasa Inggris dalam wawancara kerja maupun dalam pekerjaan. Salah satu yang harus dilakukan, menurut bu Dr. Heny, carilah partner untuk dapat mempraktikkan speaking – listening. Karena pada dasarnya mampu berbahasa Inggris dengan baik adalah harus praktik – praktik dan praktik. Berbahasa dengan baik dan lancar, adalah sebuah kebiasaan. Ketika terbiasa menggunakan bahasa Inggris, maka kemampuan itu akan berkembang dengan sendirinya.

Francisca sendiri menjabarkan bahwa di perusahaan tempat dia bergabung juga mempunyai pelatihan-pelatihan berbahasa Inggris, terutama bagi mereka yang terkait erat dengan operasional yang harus memahami dengan menggunakan bahasa Inggris. ” Dalam keseharian, tidak selamanya kami menggunakan bahasa Inggris. Bahkan kerap kali menggunakan bahasa Indonesia ataupun bahasa Jawa,” jelasnya sambil tertawa. Meskipun tidak menutup kemungkinan jika berkomunikasi dengan para pimpinan MAS SUMBIRI-pun bukanlah bahasa Inggris yang baku, karena mereka bukan native speaker. “Yang penting, berani untuk berbicara dengan bahasa Inggris. Andai tidak mengerti istilahnya, pakailah kata-kata lain untuk dapat menggambarkan sesuatu itu, jangan mengalihkan ke bahasa Indonesia,” ucapnya. Dr Heny mengatakan bahwa hal itu adalah salah satu cara kita berkomunikasi yang baik untuk mengungkapkan sesuatu.

Selain menjelaskan tentang arti pentingnya mampu berkomunikasi dengan bahasa Inggris dengan baik, dua narasumber ini setuju dengan sebuah penilaian bahwa melalui bahasa Inggris – suatu saat kita akan mampu melampaui apa yang kita harapkan. Berlatihlah terus dengan hearing – speaking – writing. Setiap kemahiran akan menentukan pula posisi kerja seseorang. Semua dapat dipelajari, namun berbahasa Inggris bukanlah sesuatu yang instan dengan sistem kebut semalam.

MAS SUMBIRI dalam Virtual Unika Jobfair kali ini membutuhkan banyak sekali lulusan untuk lebih dari 10 posisi. Dikatakan oleh Francisca, bahwa perusahaan tengah membuka kantor cabang baru sehingga banyak posisi penting yang masih kosong.

Sebagai moderator talkshow ini adalah Nicholas David – mahasiswa Ilmu Komunikasi semester 8, yang juga merupakan winner of SOTY (Soegijapranata Student of The Year) , mampu memandu acara dengan apik dan sangat enjoy. Berbagai pengalaman dari dua narasumber dapat tergali untuk dibagikan kepada para peserta.

Berakhir pada pukul 12.00, talkshow ini memberikan sesuatu yang sangat berarti bagi para peserta. Pencerahan dan langkah baru bagi mereka untuk mempersiapkan diri dengan lebih baik, terutama bagi mereka yang akan memasuki dunia kerja dengan kemampuan berbahasa Inggris. (yl-sscc)

Kategori: