Webinar Seri ke-13 FTP: Dare to Innovate, Dare to be Different
Senin, 14 Juni 2021 | 12:45 WIB

Para narasumber dari kegiatan Webinar Seri ke-13 FTP Unika

Dare to Innovate, Dare to be Different” merupakan tema webinar seri ke-13 yang diadakan oleh Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Unika Soegijapranata pada Sabtu (12/6) yang juga disiarkan melalui kanal YouTube “Food Tech Unika”.

Webinar yang diusung dalam bentuk talkshow ini merupakan salah satu rangkaian acara Dies Natalis ke-26 FTP Unika yang diikuti oleh mahasiswa serta siswa-siswi SMA.

Pada webinar ini, hadir tiga narasumber yang merupakan dosen dari rumpun Desain dan Pengembangan Produk FTP Unika. Ketiga narasumber tersebut adalah Haniel Yudiar, S.TP, M.Si (dosen dan praktisi Research and Development di industri pangan berskala nasional), Stefani Amanda H., S.TP, M.Sc (dosen dan praktisi usaha pangan produk creamy crepes), dan Dr. R. Probo Y. Nugrahedi, STP, MSc (dosen Rumpun Desain dan Pengembangan Produk yang juga merupakan Dekan FTP Unika) yang menjadi moderator dalam webinar kali ini.

Gambaran pengembangan produk pangan mulai dari ide hingga evaluasi produk dikupas pada talkshow webinar ini dari sudut pandang industri pangan berskala besar dan usaha start-up.

“Di awal tentunya kita harus dapat ide dulu. Ide itu bisa didapat dari masalah yang kita temui. Mungkin keluhan konsumen tentang produk yang sudah ada, atau dari regulasi dan peraturan yang ada,” terang Amanda menggambarkan tahap pengembangan produk.

Ide yang ada sebisa mungkin dikumpulkan sebanyak-banyaknya untuk kemudian diseleksi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. “Jika sudah terpilih, maka mulai dikembangkan konsepnya. Apakah produk yang akan kita kembangkan adalah produk oleh-oleh, atau produk boga, atau lainnya. Kemudian kita buat desain produknya, direalisasikan, dan diluncurkan ke pasar. Yang tidak kalah penting setelah itu adalah melakukan evaluasi kembali. Kira-kira bagaimana tanggapan dan masukan konsumen,” lanjut Amanda.

Dalam konteks industri pangan berskala besar, Haniel menjelaskan bahwa alur pengembangan produk yang dilakukan secara umum kurang lebih sama. Namun karena produk pada industri pangan berskala besar diproduksi dalam jumlah besar dan memiliki umur simpan lebih panjang, maka perlu dilakukan pengujian untuk memastikan kesamaan standar kualitas produk pangan.

Pengembangan Ide Produk Pangan

Ketika mulai mengembangkan ide untuk mendesain produk, penting untuk selalu melakukan riset tentang apa yang menjadi kebutuhan konsumen. “Penting untuk selalu mendengarkan suara calon konsumen. Selain itu, ide pengembangan produk juga bisa kita dapatkan dari melihat produk-produk apa yang ada di pasar, atau produk-produk sejenis yang sudah ada saat ini,” ungkap Haniel.

Inovasi dalam mengembangkan produk juga bisa dilakukan dengan memadukan tren makanan dengan tren di luar makanan yang sedang naik saat ini. “Kita nggak perlu harus selalu menciptakan tren sendiri, tetapi bisa ikut nebeng dengan tren yang sedang ada,” imbuh Amanda. Cara lainnya adalah dengan memanfaatkan jaringan relasi atau networking, sebab sesuatu yang membuat produk kita berbeda dari kompetitor tidak harus selalu soal resep, tetapi juga kekuatan networking, terang Amanda.

Sementara itu, Haniel menerangkan bagaimana suatu inovasi dan pengembangan prototype produk pangan dilakukan oleh tim Research and Development pada industri pangan berskala besar. “Lama waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan produk juga tergantung dari tingkat kesulitan produk. Kalau kebaruan prototype produk tidak terlalu banyak menyimpang dari prototype yang sudah ada sebelumnya, biasanya relatif cepat,” terang Haniel.

Tahap penting setelah produk diluncurkan adalah tahap evaluasi produk, sebab produk yang berhasil adalah produk yang mengikuti perkembangan berkelanjutan. Salah satu caranya adalah melalui saran dan masukan dari konsumen. “Seringkali kita akan mendapati masalah baru yang sebelumnya nggak muncul di awal. Nah, dari sini kita bisa kembangkan produk jadi lebih baik lagi,” ungkap Amanda.

“Kita bisa meminta dan mendapat masukan dari konsumen. Mungkin dari segi kepkraktisan kemasan, apakah kemasannya sudah menarik, atau dari segi tekstur produk, dan masih banyak lagi. Jadi evaluasi nggak hanya dilihat dari tingkat penjualannya saja, tetapi juga dari banyak sisi,” imbuhnya.

Hal yang sama pun terjadi dalam industri pangan berskala besar. Tahap evaluasi menjadi tahapan penting setelah produk diluncurkan. “Setelah launching produk tetap ada evaluasinya. Di tahap ini, kita juga perlu koordinasi dengan bagian marketing. Misalnya, apakah perlu strategi promosi? Jika iya, seperti apa cara dan strategi yang paling sesuai? Apakah ada masukan juga dari distributor? Mungkin terkait kemasan sekunder dan tersier, mungkin kemasan kardus kurang tebal sehingga ada risiko produk jadi lebih mudah hancur,” terang Haniel. Seringkali ada perubahan dan penyesuaian strategi yang perlu dilakukan pasca tahap evaluasi produk dilakukan.

Di akhir sesi webinar, seluruh peserta webinar turut memeriahkan acara dengan mengikuti kuis berhadiah seputar topik pengembangan produk pangan yang dibahas selama sesi talkshow.

(B. Agatha)

Kategori: ,