Peran Ibu untuk Bumi
Sabtu, 5 Juni 2021 | 15:38 WIB


TRB 05062021

Oleh: Amrizarois Ismail, S. Pd., M. Ling, Dosen Prodi Rekayasa Infrastruktur dan Lingkungan, UNIKA Soegijapranata Semarang.

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Seduania pada 5 Juni 2021 masih menyisakan kepahitan akan kemunculan corona virus jenis baru bernama Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) pada akhir tahun 2019. Covid-19 telah merampas ‘kemerdekaan’ dan keselamatan manusia karena secara cepat merebak dan mencuri perhatian dunia (WHO, 2019; Hui et al., 2020). Virus yang disebabkan Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2) ini juga telah menyebar ke lebih dari 215 negara termasuk Indonesia (WHO, 2020).

Bagi masyarakat dunia dan Indonesia, ancaman bencana kesehatan masih nyata dan belum bisa diatasi sepenuhnya, bahkan memasuki tahap ‘gelombang lanjutan’ dalam pandemi ini. Covid-19 sendiri bukanlah virus baru, sebelumnya jenis virus corona lebih dulu telah ada dan sempat menjadi persoalan serius dalam dunia kesehatan. Di antara virus jenis corona itu adalah Corona Virus Pneumonia (CVP) pada 2003 dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) pada 2007. Hal tersebut menunjukkan bahwa Covid-19 merupakan virus hasil mutasi genetik dari jenis virus corona sebelumnya.

Bermutasi
Mutasi genetik sendiri merupakan bentuk perubahan visiologi organisme atau senyawa biotik dalam rangka beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan lingkungan, ini dilakukan agar organisme tersebut tetap bisa survive atau bertahan. Sebagai mana Teori Charles Darwin dalam The Origin of Species yang terbit pada 1859 yaitu ‘Survivor of the Fittest’ yang menggabarkan bahwa SEMESTA bekerja dengan menyeleksi penghuninya, nampaknya tepat untuk menggambarkan kondisi tersebut (Bagja Hidayat, 2020). Adanya upaya bertahan hidup dengan bermutasi atau mengubah diri dari Virus jenis Corona menjadi Covid 19 adalah satuhal yang alamiah sebagai respon akan perubahan alam.

Salah satu yang menjadi penyebab dari berbagai upaya adaptasi kehidupan adalah adanya perubahan iklim pada Bumi. Selain mutasi genetik pada mikroba dan virus, Beberapa tahun terakhir banyak kejadian alam yang dirasakan masyarakat terkait perubahan cuaca yang tak menentu. Petani mengeluhkan datangnya musim hujan dan kemarau yang susah diprediksi sehingga menganggu musim tanam. Di tempat lain mnegeluhkan curah hujan yang berlebihan sehingga menyebabkan banjir, sementara di tempat yang lain mengeluhkan kemarau yang lebih panjang sehingga menyebabkan kekeringan. Tidak hanya itu, anomali cuaca beberapa tahun terakhir juga terindikasi menjadi penyebab maraknya bencana hidrologis yang menimpa banyak wilayah seperti Banjir di beberapa Kota di Pulau Jawa dan pulau di Indonesia lainya.

Global Warming
Global Warming atau biasa dikenal dengan pemanasan global merupakan kondisi perubahan alam yang ditandai dengan naiknya suhu di permukaan Bumi karena akumulasi gas buang dalam aktifitas konsumtif manusia. Global Warming atau pemansan global inilah yang menjadi penyebab utama terjadinya perubahan iklim. Akumulasi gas buang, diantaranya terdiri dari Carbon Monoksida (Co), Carbon Dioksida (CO2), dan Carbon Monoksida (Nox) yang terus bertumpuk menjadi lapisan penghalang yang memperlambat keluarnya paparan panas dari sinar matahari ke Bumi atau sering disebut sebagai Emisi Gas Rumah Kaca (GRK).

Dunia internasional sebetulnya telah lama menyadari akan ancaman kerusakan ligkungan oleh pemanasan global yang disebabkan tumpukan Emisi GRK tadi, dan juga telah mengupayakan berbagai langkah untuk menekan dampak kerusakan lingkungan akibat aktivitas konsumtif manusia semaksimal mungkin. Diantara langkah penting yang telah dilakukan diantaranya adalah Konferensi Kyoto, hingga Bali Action Plan pada The Conferences of Parties (COP) ke-13 United Nations Frameworks Convention on Climate Change (UNFCC), Indonesia menjadi salah satu negara yang menyetujui untuk ambil bagian atau kata lain meratifikasi hasil konvensi tersebut. Bentuk ratifikasi hasil konvensi tersebut adalah dengan membuat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2004, salah satu yang dimuat adalah Rencana Aksi Nasional Gas Rumah Kaca disingkat RAN-GRK yang berisi langkah efisiensi atau penghematan energi untuk menekan produksi Emisi GRK oleh buangan zat karbon.

Potensi Kaum Ibu
Pemanasan global yang dipicu oleh emisi Karbon Gas Rumah Kaca sendiri dihasilkan dari berbagai sektor kegiatan manusia. Yang salah satu cukup signifikan adalah sektor penggunaan energi dalam rumah tangga. Sektor energi sendiri merupakan salah satu sektor yang akan didorong untuk dapat mengurangi luaran Gas karbon sebesar 38% dari target nasional, dan tahun ini ditargetkan dapat mengurangi karbon sebesar 314 juta ton CO2 (Muhammad Ridwan, 2021).

Salah satu sektor pengguna energi yang mengalami peningkatan konsumsi energi di Masa Pandemi COVID-19 ini adalah rumah tangga, hal tersebut dikarenakan perubahan pola kegiatan harian yang awalnya dilakukan di kantor, sekolahan dan lainya, oleh kondisi New Normal secara signifikan beralih ke rumah, pola ini kemudian dikenal dengan Work From Home (WFH) dan Belajar di rumah (BDR) (Antaranews, 2020). Sehingga, penghematan konsumsi energi dari rumah tangga tentu akan memberikan pengaruh signifikan terhadap pengurangan Karbon penyebab perubahan iklim. Sudah selayaknya langkah ini segera diinisiasi dengan serius, sebelum karbon semakin tidak terkendali dan menjadi bencana yang tidak diinginkan, dan tentunya partisipasi Ibu dan perempuan sebagai manager rumah tangga akan sangat diperlukan.

Perempuan, dalam hal ini adalah Ibu sendiri dianggap memiliki potensi yang besar dalam penanggulangan bencana, termasuk juga berbagai bencana yang disebabkan perubahan iklim. Hal ini dikarenakan perempuan memiliki tingkat sensitifitas dan kepedulian lebih tinggi terhadap anggota keluarga, komunitas di sekitarnya (Ananda et al., 2019), sehingga memungkinkan perempuan lebih bijak dalam mengatur penggunaan sumber daya alam (SDA) dikarenakan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup anggota keluarga dan komunitasnya. Sayangnya, perempuan belum secara aktif dilibatkan (engage) menjadi bagian dari aktor penanggulangan bencana, dalam hal ini perubahan iklim (Suharini et al., 2019). Oleh karenanya, penguatan kapasitas dan akses perempuan sebagai upaya langkah penghematan energi untuk penurunan Emisi GRK perlu segera digiatkan.

Hemat Energi
Salah satu hal praktis yang mungkin bisa untuk perempuan memaksimalkan peranya dalam penanggulangan perubahan iklim adalah inisiasi gerakan hemat energi. Dalam rumah tangga ibu memiliki peran fital untuk mendorong laku bijak keluarga dalam menggunakan energi melalui penertiban kegiatan rutin, contoh saja membiasakan anak untuk belajar agama (mengaji) dan belajar pada jam tertentu, sehingga anak tidak menggunakan Handphone, Televisi, dan barang elektronik lainya yang memakan energi listrik dalam penggunaannya. Selain itu ada banyak hal lain yang mampu dilakukan secara maksimal oleh perempuan melihat pengaruh besarnya dalam kegiatan di rumah tangga, misal saja gerakan 3R dan Menanam Pohon.

Berbagai kegiatan tersebut akan berjalan maksimal apabila Ibu dan perempuan ditingkatkan kapasitas diri dan pengetahuannya mengenai upaya penanggulangan perubahan iklim. Dan sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian dan fasilitas kaum Ibu untuk meningkatkan kapasitasnya, contoh saja dengan kebijakan pengalokasian anggaran desa yang diperuntukkan kelompok Ibu Rumah tangga (PKK, Dawis, Jam’iyah pengajian, dll) agar dapat digunakan untuk membangun program peningkatan kapasitas terkait penghematan energi, iklim dan lainya ataupun pelibatan kelompok Ibu dan perempuan dalam program SDG’s Desa yang hari ini tengah mengemuka. Momentum hari Lingkungan Hidup Sedunia ini menjadi momentum penting dengan mengedepankan peran perempuan dalam merawat Bumi sebagai Ibu untuk Bumi.

► Tribun Jateng, hal 2, Terbit 5 Juni 2021.

Kategori: ,