Diskusi Serial # 3 TJI Unika Bahas Rest Area KM 429
Kamis, 3 Juni 2021 | 11:47 WIB

Pelaksanaan diskusi Serial #3 TJI Unika tentang Rest Area 429

Sebuah diskusi serial yang terlaksana sebagai realisasi dari penelitian yang sedang berjalan dan diketuai oleh Dr Ir Lindayani  MP dari Fakultas Teknologi Pertanian Unika Soegijapranata tentang Jalan Tol khususnya Rest area yang ada di KM 429, telah diselenggarakan secara online melalui ruang virtual Unika Soegijapranata pada Jumat (28/5), demikian disampaikan oleh Ketua Pusat Studi The Java Institute (TJI) Dr Ekawati Marhaenny Dukut MHum pada sesi pembukaan kegiatan Serial Diskusi TJI yang ke-3.

Diterangkan lebih lanjut, bahwa apa yang terjadi pada jalan tol di pulau Jawa ini perlu diteliti lebih lanjut dan ini dilakukan oleh tim peneliti yang diketuai oleh Dr Lindayani.

Selain itu, diharapkan pula dapat berlanjut lagi dalam penelitian yang lebih besar bahkan merangkul juga bapak ibu dari Jasa Marga untuk terlibat di situ, karena memang kepentingan dari TJI ini tidak hanya tertutup pada fakultas-fakultas di Unika saja, tetapi lebih luas lagi kita ingin melakukan sesuatu bagi masyarakat.

Maka kesempatan ini sangat terbuka, dan  mudah-mudahan dapat terwujud sehingga selanjutnya tidak hanya penelitian tapi juga bisa dalam bentuk kegiatan pengabdian yang nantinya manfaatnya bisa kita rasakan bersama, ungkapnya.

Sementara Kepala LPPM Unika Soegijapranata Dr Berta Bekti Retnawati mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh tim TJI karena selalu adaptif dan kreatif dalam melaksanakan kegiatan di tengah pandemi.

“Terkait dengan jalan tol yang hampir tersambung dari ujung barat hingga ujung timur pulau Jawa, sangat menarik untuk diteliti, dan ternyata TJI ini dapat menangkap peluang. Sehingga saya berharap di ujung kegiatan diskusi serial ini, akan terbit  buku tentang makanan di rest area dari ujung barat hingga ujung timur dengan kelebihan-kelebihannya yang ikonik dari masing-masing daerah,” papar Dr Berta.

Mengawali sesi diskusi serial dengan topik ‘Penjaminan Mutu Makanan Rest area Tol KM 429 dengan Keamanan Pangan’, Dr Lindayani mengemukakan tentang latar belakang penelitian yang dilakukan di rest area tol KM 429.

“Berdasarkan peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat nomor 10/PRT/M/2018 tentang Tempat Istirahat dan Pelayanan (TIP) pada jalan tol disebutkan bahwa tempat istirahat dan pelayanan adalah suatu tempat istirahat yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas umum bagi pengguna jalan tol sehingga pengemudi, penumpang, maupun kendaraannya dapat beristirahat untuk sementara,” ucap Dr Lindayani.

Sedangkan Rest area Km 429 yang kami teliti ini adalah rest area dengan klasifikasi tipe A. Seperti diketahui bahwa klasifikasi tipe A ini adalah tipe rest area yang paling lengkap yaitu terdapat area parkir yang luas, tempat ibadah, toilet yang besar, juga ada ada tempat pujasera dan fasilitas lainnya.

Sedangkan topik yang kami pilih adalah tentang keamanan pangan sehingga apabila kita berbicara tentang keamanan pangan, maka pasti ada jaminan mutu yang menjadi standar harga produk yang dibeli oleh konsumen, tanpa ada rasa khawatir dan penggunaannya dalam waktu yang lama dengan rasa kepuasan, tutur Dr Lindayani.

“Berdasarkan observasi yang kami lakukan, ada tiga hal yang menjadi sumber penentu keamanan pangan yaitu (1) kebersihan lingkungan, (2) tempat makan dan (3) jenis makanan. Dengan demikian makanan yang aman adalah termasuk di dalamnya adalah makanan yang sehat yaitu terbebas dari kontaminasi mikroorganisme fisik dan kimia,” jelasnya.

Higienitas Makanan

Sedang pembicara kedua dalam diskusi serial ini adalah Dr Laksmi Hartajanie MP dari Fakultas Teknologi Pertanian Unika, dengan topik bahasannya mengenai Penjaminan Mutu Makanan Rest area Tol KM 429 dengan Higienitas Makanan.

Dalam paparannya Dr Laksmi menyampaikan hasil pengamatan dari tenant yang ada di rest area yang dibagi menjadi tiga kelas yaitu yang pertama adalah middle high end atau kelas atas, yang kedua adalah kelas menengah atau up dan kelas bawah atau low. Dari ketiga kelas tenan tadi, semuanya mempunyai masakan yang bisa dimasak sesuai pesanan dan siap saji.

Namun yang menjadi pertimbangan adalah bagaimana dengan kebersihan dari tenant-tenant itu yang pertama yang masih dipertimbangkan adalah adanya kontaminasi dari udara dan dari penjual atau pembeli.

Kontaminan bisa kita hilangkan atau kita cegah dengan penyimpanan bahan makanan yang belum diolah melalui cara  yang memadai atau lemari pendingin. Kemudian makanan diletakkan di etalase tertutup serta makanan dibungkus menggunakan daun atau plastik, dan untuk masa pandemi saat ini orang yang membawa makanan atau penyaji makanan dari dapur menuju pemesan harus menggunakan masker, tuturnya.

Dengan demikian tadi yang kita lihat di Rest area KM429 beberapa tenant makanan belum terjamin keamanannya karena belum disiapkan dengan baik pengamanan makanannya dari kontaminan, tegas Dr Laksmi.

Budaya Populer

Adapun pembicara ketiga dalam diskusi serial ini disampaikan oleh Dr Ekawati Marhaenny Dukut MHum melalui paparannya dengan topik”Penjaminan Mutu Makanan Rest area Tol KM 429 dengan Fasilitas Budaya Populer.”

Makanan yang tersedia di rest area itu variasinya banyak, salah satunya adalah makanan yang dikenal dengan tenant Kedai Bunda yang menyajikan  ‘Jumat Berkah’ dimana disitu kita bisa makan sepuasnya dan bayar seikhlasnya. Dan tidak hanya itu ternyata di kedai ini juga tersedia fasilitas yang lengkap untuk keperluan kita sehari-hari mulai dari tisu, Aqua, sabun, pasta gigi, sikat gigi, bedak, pot tanaman, mushola dan ruang tempat untuk menyusui serta banyak hal yang lain

“Rest area KM 429 ini cukup memenuhi kriteria budaya populer diantaranya adalah dapat menimbulkan rasa puas atau senang bagi penggunanya, makanan mudah didapat karena diproduksi secara massal sehingga dapat tersedia dimana saja dengan variasi yang macam-macam, mempunyai sifat manipulatif, mempunyai harga yang murah atau terjangkau, menciptakan gaya hidup yang global-lokal sehingga tercapai suatu simbol status, mencerminkan kehidupan sehari-hari masyarakat, merupakan cerminan kurun waktu tertentu, mempunyai sifat yang sementara dan kepraktisan serta bertujuan untuk mendatangkan uang,” jelas Dr Ekawati.

Dalam rest area ini juga diketahui berdasarkan wawancara, bahwa generasi muda lebih memilih susu atau coklat sebagai produk global-lokal dan generasi tua memilih kopi murni yang menunjukkan kebiasaan sehari-hari.

Menurutnya ada beberapa kriteria makanan cepat saji yang bisa kita ketahui yang pertama adalah (1) price and quantity, (2) service, (3) cleanliness and  conducive atmosphere, (4) food quality, (5) health, (6) variety, (7) convenience dan (8) brand image.

Persepsi Generasi Z

Berikutnya dalam sesi akhir dalam diskusi serial TJI ini adalah pembicara dari Fakultas Psikologi Unika, yaitu Dr Christine Wibhowo yang memilih topik “Hubungan Persepsi terhadap Jalan Tol dengan Perilaku Makan  Generasi Z.”

Salah satu ciri dari generasi Z adalah usia yang dibawah 26 tahun dan motif sosialnya yaitu proses mengabadikan makanan dan minuman serta mengunggahnya ke media sosial. Hal itu dilakukan demi kepentingan terwujudnya motif komunikasi maka terhadap generasi Z ini apabila rest area ingin ramai, harus banyak disediakan spot-spot selfie bagi generasi Z,” ungkap Dr Christine.

Sedangkan untuk perilaku makan generasi Z ada beberapa aspek yang perlu diketahui jika menginginkan di rest area banyak pengunjung yaitu dengan terpenuhinya beberapa aspek berikut (1) tersedianya makanan pada waktu pagi, siang dan malam sebagai bentuk wujud keteraturan makan, (2)  cara makan dan tempat makan harus bagus dan instagramable serta (3) bisa mengundang rasa lapar dan bisa membuat para remaja generasi Z merasa bahwa ada gengsi ketika makan di rest area dan fotonya bertebaran di media sosial.

Selain itu juga dipengaruhi oleh persepsi orang terhadap Rest area jalan tol persepsi ini penilaiannya ada dua yaitu penilaian kognisi (proses berpikir atau problem solving) dan afeksi ( perasaan atau emosi).

Hal lain berdasarkan hasil survei diketahui bahwa generasi Z persepsinya terhadap rest area dan jalan tol baik, sehingga dengan demikian perilaku makan generasi Z di rest area juga baik, pungkas Dr Christine. (FAS)

Kategori: ,