LPPM Unika Bekerja Sama dengan Forkom LPPM Jateng Selenggarakan Workshop Secara Online
Kamis, 20 Mei 2021 | 19:15 WIB

Kepala LLDIKTI Wilayah VI Jawa Tengah Prof Dr Ir Muhammad Zainuri DEA, saat memberikan sambutan dalam acara Workshop

Sebuah kegiatan workshop penyusunan proposal hibah Kemendikbud Ristek tahun 2021 untuk tahun anggaran 2022 telah diselenggarakan oleh LPPM Unika Soegijapranata bekerja sama dengan Forkom LPPM Jateng, pada hari Rabu (19/5) melalui ruang virtual Unika Soegijapranata.

Dalam sambutan pembuka acara workshop, Rektor Unika Soegijapranata Prof Dr F Ridwan Sanjaya MS IEC menyampaikan apresiasi atas semangat baru yang selalu memotivasi dan memicu untuk menjadi lebih baik seperti yang telah dilakukan oleh Forkom LPPM Jawa Tengah.

” Acara-acara seperti ini merupakan suatu bukti bahwa kita tidak hanya sendiri dan tidak memikirkan persaingan semata, tetapi juga berkolaborasi dalam kebersamaan dan solidaritas antara perguruan tinggi yang satu dengan perguruan tinggi yang lainnya agar bisa terangkat bersama-sama,” papar Prof Ridwan.

Memang satu hal yang menarik karena ada yang baru di tahun ini berupa panduan-panduan yang harus kita refresh kembali, dimana profil untuk seorang dosen akan  ditentukan dari hasil-hasil yang didapatkan dalam penelitian dan pengabdian pada masyarakat.

Hibah dari Dikti terkait dengan penelitian maupun pengabdian masyarakat ini sangat membantu, terutama bagi perguruan tinggi swasta dalam membangun rekam jejak karir agar dapat menapak jenjang karirnya menjadi lebih tinggi.

Reviewer yang  ada dan langsung dari sumbernya membuat semakin percaya diri dan semakin yakin bahwa proposal-proposal yang dihasilkan dapat memiliki kemungkinan lebih besar untuk lolos di Dikti nantinya, lanjutnya.

“Kita selalu melakukan benchmarking antara perguruan tinggi yang satu dengan perguruan tinggi yang lain terkait aktifitas-aktifitas penelitian dan pengabdian masyarakat. Besar harapannya dengan workshop hari ini, perguruan tinggi yang mengirimkan proposalnya untuk di review itu, bisa menghasilkan proposal-proposal yang memiliki daya gempur lebih besar untuk masuk dalam Kemendikbud Ristek,” tandas Prof Ridwan.

Sementara Kepala LLDIKTI Wilayah VI Jawa Tengah Prof Dr Ir Muhammad Zainuri DEA juga menegaskan bahwa LLDikti telah bisa memfasilitasi kurang lebih 782 staf pengajar untuk mendapatkan jabatan fungsional asisten ahli dan lektor dengan peserta SK Inpassing sejumlah 1664.

” Masih ada 4192 staf pengajar yang masih belum punya jabatan fungsional, salah satu sebabnya adalah karena belum punya publikasi. Oleh karena itu itu kami menyampaikan apresiasi kepada Forkom LPPM yang telah mengadakan workshop penyusunan proposal hibah Kemendikbud Ristek pada hari ini,” papar Prof Muhammad Zainuri.

Sedang narasumber yang menyampaikan materi dalam acara workshop ini adalah Dr Drajat Tri Kartono MSi selaku Reviewer Penelitian Kemendikbud Ristek, Dr Met Vet Drh R Wisnu Nurcahyo sebagai Reviewer Pengabdian Kemendikbud Ristek, dan Prof Dr Ir Y Budi Widianarko MSc yaitu sebagai Penerima Hibah Kemendikbud Ristek.

Mengawali paparan materinya Dr Drajat Tri Kartono mencoba menjelaskan adanya perubahan pada pedoman 13 pada panduan yang sedang disusun.

“Ada beberapa perubahan yang perlu kita perhatikan, yang pertama adalah bahwa kekuatan penekanan pada Prioritas Riset Nasional (PRN) dan RIRN. Yang kedua adalah adanya tema kearifan lokal baik kearifan lokal lama maupun baru. Yang ketiga adalah tema GESI (Gender Equity and Social Inclusion). Dan fokus lainnya adalah seluruh penelitian diharapkan memiliki mitra, baik itu penelitian dasar, penelitian terapan dan penelitian pengembangan, dengan skema yang berbeda,” papar Dr Drajat.

Seperti misalnya penelitian dasar itu mitranya adalah sesama peneliti atau peneliti dari perguruan lain yang mempunyai keunggulan atau laboratorium. Kalau penelitian terapan itu adalah pengguna, sedangkan untuk penelitian pengembangan, mitranya adalah investor, imbuhnya.

Mengenai skema yang akan dirubah atau digeser adalah penelitian pengembangan. Yaitu yang akan digeser ke penelitian penugasan, sehingga nantinya siapa yang akan mendapat penelitian ini akan bergantung pada penugasan yang diberikan Bapak Menteri maupun Bapak Dirjen.

Disamping itu juga akan dilihat dari penelitian terapan, yang memang sudah bisa menunjukkan hasil yang bagus dan roadmap ke arah pengembangan, maka nanti akan ada monev di akhir itu. Untuk penelitian terapan yang bagus akan diberi penugasan. Sehingga artinya, tidak hanya selalu universitas yang besar yang hanya mendapat penugasan, tetapi seluruh universitas yang memiliki potensi dari penelitian terapannya diajukan ke arah industri itu akan mendapatkan penugasan. Dan saat ia mendapatkan  penugasan, ia akan mengkoordinir perguruan tinggi yang lain untuk bersama-sama menyelesaikan inovasi-inovasi yang diindustrialisasikan. Jadi arah roadmapnya adalah ke pengembangan.

Selanjutnya adalah syarat impassing jurnal internasional terindex langsung nilai 40, sedangkan karya monumental lebih dari tiga akan disamakan dengan jurnal internasional dengan nilai 40, jelasnya.

“Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pengajuan proposal adalah kelayakan administrasi yang memiliki bobot sekitar 60%. Yang terdiri dari kesesuaian panduan (jumlah kata), publikasi terindek bereputasi dan syarat lainnya,” tambah Dr Drajat.

Multidisiplin Ilmu

Pada narasumber kedua yang disampaikan oleh Dr Met Vet Drh R Wisnu Nurcahyo, dipaparkan tentang sumber kegiatan pengabdian yang banyak terdapat di masyarakat.

“Penilaian utama pada pengabdian masyarakat adalah pada kolaborasi multidisiplin ilmu, maka diupayakan pengabdian masyarakat tidak monodisiplin ilmu,” ucapnya.

Dengan perkembangan ilmu dan teknologi maka pengabdian masyarakat juga berkembang melalui tahap Industri 4.0 Smartization, Society 5.0 dan adanya covid-19, sehingga diharapkan pasca covid-19 akan ada kebangkitan berbagai sektor, sehingga perlu peran pengabdian masyarakat dengan mengkombinasikan ketiga hal tadi.

Informasi program pengabdian kepada masyarakat juga bisa didapat dalam DRPM SIMLITABMAS, PDTM-PPTTG-UKM Indonesia Bangkit, dan MBKM-DIKTI yaitu pada Kedaireka, matching fund, PPKM, P2HD serta Desa Wira.

“Tahapan dalam pengabdian kepada masyarakat berangkat dari analisis situasi dalam masyarakat, hal ini berbeda dengan penelitian. Dari situ kemudian mengerucut menjadi permasalahan, solusi, implementasi, kemudian metodenya dari berbagai macam kegiatan yang nantinya bisa diaplikasikan,” tambahnya.

Yang penting diperhatikan pula bahwa para dosen yang akan mengajukan proposal pengabdian perlu merubah mindset terutama jangan mengajukan proposal yang tidak didanai, maka perlu diperbaiki supaya proposal menjadi inovatif dan berkualitas.

Kemudian juga gunakan tema-tema yang berbasis keunikan pada kekuatan sosial budaya dan lingkungan setempat dan topik topiknya tidak seperti yang didaur ulang.

Luaran juga berkualitas sehingga perlu peningkatan kinerja pengabdian masyarakat di perguruan tinggi. Selanjutnya ada sinergi dan networking atau kemitraan antara perguruan tinggi, masyarakat, UKM, Pemda dan industri serta yang terakhir adalah literasi teknologi yang perlu dikemas dalam literasi digital, pemahaman barcoding, literasi data dan literasi sosial, tuturnya.

Microplastics

Sedangkan Prof Dr Ir Y Budi Widianarko MSc  sebagai narasumber ketiga mengulas tentang bagaimana seorang dosen  harus bisa seimbang dalam pengamalan tri dharma yaitu  di bidang pendidikan dan pengajaran, penelitian dan  pengabdian kepada masyarakat, meskipun sebelumnya pernah terlibat dalam struktural universitas.

” Unika Soegijaoranata meletakkan ketahanan pangan sebagai bagian atau salah satu dari enam bidang unggulan pada roadmap penelitian dan pengabdian Universitas sampai sekarang. Jadi karena hal tersebut kami beruntung bekerja di Prodi Teknologi Pangan,” ungkap Prof Budi.

Di Fakultas Teknologi Pertanian yang terdiri dari dua prodi, memiliki lima rumpun penelitian dengan tema besarnya adalah sistem pangan yang berkelanjutan. Kelima rumpun tersebut adalah rumpun mikrobiologi dan bioteknologi pangan, rumpun nutrisi dan pangan fungsional,  rumpun keamanan dan integritas pangan, rumpun rekayasa dan proses pengolahan pangan, dan  rumpun desain dan pengembangan produk.

Dalam rumpun tersebut sifatnya adalah fungsional dan tidak struktural, akan tetapi ada pengelompokan-pengelompokan atas dasar minat. Dalam rumpun tersebut idealnya dipimpin oleh seorang profesor namun jika tidak ada, maka sudah disepakati sejak awal boleh dipimpin oleh seorang doktor.

Secara periodik, kami mereview topik-topik kajian yang bukan hanya diterjemahkan sebagai materi kuliah tetapi juga penelitian sekaligus pengabdian kepada masyarakat, salah satunya adalah rumpun keamanan dan integritas pangan.

Dalam rumpun keamanan dan integritas pangan fokus pada empat  kajian yaitu ekologi pangan, toksikologi dan keamanan pangan, penjaminan mutu pangan, serta integritas dan forensik pangan.

“Dan salah satu topik penelitian dalam rumpun keamanan dan integritas pangan adalah tentang microplastics dan nanoplastics. Sementara penelitian microplastics di dunia sangat gencar saat ini sehingga penelitian microplastics tidak mudah tetapi manfaatnya sangat luarbiasa, salah satunya dari sisi kolaborasi penelitian kita berhasil berkolaborasi dengan Open University (Belanda), Radboud University (Belanda), dan Hasselt University (Belgia),” jelas Prof Budi.

Kemudian dari sisi pengembangan lab dan metode, kita beruntung selain bekerja sama dengan Hasselt University (Belgia), PT Ditek Jaya, Shimadzu Asia Pasific, maka kita juga berkolaborasi dengan QUASEMEME PROJECT (Konsorsium 59 Lab).

Menurut saya keuntungan memilih topik yang Novel (microplastics) adalah kesempatan berinteraksi dengan orang-orang yang meneliti tentang itu. Kemudian dari sisi publikasi ilmiah kami beruntung karena mendapat 14 partner yang terdiri dari delapan perguruan tinggi dari luar negeri dan tujuh perguruan tinggi dari dalam negeri, ungkap Prof Budi. (FAS)

Kategori: ,