Kasus Danau Toba Terulang di Waduk Kedung Ombo, Pakar Transportasi Sasar Pemda dan 3 Hal Pengawasan
Rabu, 19 Mei 2021 | 9:00 WIB

Pakar transportasi yang juga Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Djoko Setijowarno, ikut bersuara perihal kecelakaan air di Waduk Kedung Ombo, Jawa Tengah.

Selain menyoroti peran pemerintah daerah (Pemda) setempat, Djoko menegaskan pentingnya kegiatan monitoring, pembinaan dan pengawasan terhadap pengelolaan alat transportasi, dalam hal ini perahu.

Setidaknya ada tiga hal yang ia sarankan dalam pengelolaan dan operasional kapal atau perahu di danau juga waduk.

Ketiganya, kata dia, dapat dikelola secara profesional oleh pihak desa.

Misalnya dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

"Yang seperti ini akan mudah dilakukan monitoring, pembinaan dan pengawasan, terutama untuk operasional perahu dengan memperhatikan aspek keselamatan," jelasnya kepada Tribunnews.com, Minggu (16/5/2021).

Dari kasus kecelakaan air di Waduk Kedung Ombo, dirinya menguraikan tiga hal yang bisa dilakukan untuk melakukan monitoring dan pengawasan transportasi perahu.

Evakuasi korban tenggelam akibat perahu terbalik di Waduk Kedung Ombo di Dukuh Bulu, Desa Wonoharjo, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, Sabtu (15/5/2021) sore. Evakuasi korban tenggelam akibat perahu terbalik di Waduk Kedung Ombo di Dukuh Bulu, Desa Wonoharjo, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, Sabtu (15/5/2021) sore. (TribunSolo.com/Agil Tri)

Pertama, memastikan penumpang yang berada di atas kapal sudah menggunakan baju penolong (life jacket) sebelum kapal diberangkatkan.

Kedua, mengecek data penumpang dalam manifest.

Ketiga, membantu memberikan informasi tentang kondisi cuaca dan menunda keberangkatan kapal apabila cuaca ekstrem.

Adapun ketiga hal tersebut perlu dilakukan untuk tercapainya aspek keselamatan penumpang.

Pasalnya menurutnya dari kasus yang pernah terjadi, faktor keselamatan belum menjadi prioritas para pelaku pariwisata danau maupun waduk.

Berkaca pada kasus kecelakaan air di Danau Toba pada 2018 lalu menenggelamkan ratusan orang penumpang KM Sinar Bangun saat libur lebaran, Senin (18/6/2018),

"Faktor keselamatan belum menjadi prioritas para pelaku pariwisata danau. Target pendapatan yang dikejar, namun mengabaikan keselamatan."

"Apalagi di musim lebaran, yang berwisata akan bertambah tak terkecuali wisata ke danau (waduk)," ucapnya.

Dia juga melihat, masih banyak ditemukan operasional kapal atau perahu di waduk atau danau yang dikelola perorangan dan kurang memperhatikan aspek keselamatan.

Lanjutnya, seolah hal ini dibiarkan oleh pemda setempat dan bahkan terkadang ditarik pungutan atau retribusi.

Untuk itu dirinya lebih menyarankan pengelolaan profesional seperti halnya yang dilakukan oleh BUMDes setempat dengan terus melakukan pengawasan.

Terkait pengamanan prosedural, Djoko menganggap ketersinambungan kegiatan sosialisasi penggunaan penggunaan baju penolong (life jacket).

Termasuk untuk kapal penumpang tradisional, setiap pelayar, juga penumpang wajib menggunakan life jacket selama pelayaran.

Aturannya sudah tertuang dari Kementerian Perhubungan, yakni PM Perhubungan Nomor 25 Tahun 2015 tentang Standar Keselamatan Transportasi Sungai, Danau dan Penyeberangan.

Penyelenggara sarana dan prasarana serta sumber daya manusia bidang transportasi sungai, danau dan penyeberangan. Standar keselamatan bidang transportasi sungai, danau dan penyeberangan merupakan acuan bagi penyelenggara sarana dan prasarana bidang transportasi sungai, danau dan penyeberangan yang meliputi (a) Sumber Daya Manusia; (b) Sarana dan/atau Prasarana; (c) Standar Operasional Prosedur; (d) Lingkungan.

https://www.tribunnews.com/regional/2021/05/16/kasus-danau-toba-terulang-di-waduk-kedung-ombo-pakar-transportasi-sasar-pemda-dan-3-hal-pengawasan?page=all.

berita serupa

Kategori: