Jurus Jitu Mengubah Gaya Hidup Jadi Lebih Sehat
Kamis, 27 Mei 2021 | 14:41 WIB

image

Penulis: Katharina Ardanareswari, Program Food for Beauty and Wellness, UNIKA Soegijapranata

Seringkali kita sadar bahwa gaya hidup kita tidak sehat, tapi mengapa mengubahnya terasa sangat sulit?

Untuk menjawabnya, saya punya pengalaman yang menurut saya relevan ketika melanjutkan sekolah di Taiwan. Seperti kampus-kampus lain di sini, kampus saya cukup luas, dilengkapi dengan fasilitas olahraga luar ruang yang juga dapat digunakan oleh khalayak umum. Setiap hari, saya melihat banyak orang beragam usia berolahraga di sekeliling kampus.

Yang unik buat saya adalah, bahkan hingga pukul sepuluh malam, masih banyak mahasiswa yang berjalan mengelilingi trek lari, seringkali sambil mengobrol. Mahasiswa-mahasiswa ini saya tahu tinggal di asrama dalam kampus sehingga tidak aneh jika mereka masih ada di kampus pada jam selarut itu.

Yang memantik rasa penasaran saya adalah, mengapa mereka masih merasa ingin berjalan? Di penghujung hari? Saya sendiri memandang aktivitas berjalan hanya sebatas sarana mencapai tempat tujuan saja, bukan hal yang saya pilih untuk lakukan secara sukarela. Walau memang saya jelas lebih banyak berjalan di Taiwan dibandingkan di Indonesia karena tidak punya kendaraan pribadi.

Beberapa bulan kemudian, saya punya kesempatan pulang sebentar ke Indonesia. Waktu itu rasanya senang sekali bisa pulang, walau andaikata saya tahu pandemi Covid-19 akan menyerang tak lama kemudian, saya mungkin akan tinggal lebih lama. Di Indonesia, saya kembali ke pola hidup lama saya: rebahan dan santai-santai adalah kecintaan. Mau makan bisa langsung makan, mau nongkrong tinggal naik kendaraan dan sebentar sudah sampai. Tidak perlu lah jalan kaki jauh-jauh. Akan tetapi, ternyata badan saya yang protes. Lewat seminggu saya hidup santai bagai ratu, badan jadi linu-linu semua. Minta digerakkan.

Sekembalinya ke Taiwan, saya mulai iseng memperhatikan aplikasi penghitung langkah di telepon saya. Merasa tidak nyaman karena harus menyalakan GPS, saya mengusahakan jam pintar. Seru juga ketika melihat jumlah langkah saya di penghujung hari yang mencapai 4 ribuan langkah. Terasa kurang, karena katanya di iklan TV kan harusnya 10 ribu langkah ya. Lalu tiba-tiba saja saya menemukan diri saya di trek lari malam-malam – ikutan jalan kaki sambil mengobrol.

Dilihat dari perspektif studi perilaku kesehatan, yang terjadi pada saya adalah contoh klasik teori health belief model (HBM). HBM adalah salah satu teori pertama dalam studi perilaku kesehatan yang cocok digunakan untuk menganalisa (dan meningkatkan) kemungkinan seseorang dengan resiko/masalah kesehatan tertentu untuk mengubah gaya hidup.

Dalam teori HBM, perubahan gaya hidup tidak dicapai seseorang hanya dengan memiliki pengetahuan tentang resiko kesehatan (perceived susceptibility/severity). Perlu adanya pengetahuan tentang fungsi dan efektivitas dari perubahan gaya hidup untuk mengatasi resiko kesehatan tersebut (perceived benefit).

Batasan-batasan yang dirasakan dan dialami (perceived barrier) perlu pula ditemukan, diakui, dan diatasi. Tidak berhenti di situ, perlu upaya untuk meningkatkan kesiapan seseorang untuk berubah (cue to action), dan juga untuk meningkatkan kepercayaan diri untuk berubah (self efficacy).

Dengan jurus HBM ini, saya dapat mempersepsikan konsekuensi (perceived severity) dari gaya hidup santai saya, yaitu pegal linu encok. Saya dapat mempersepsikan keuntungan (perceived benefit) dari berjalan kaki yaitu tidak pegal linu lagi.

Masih ada keuntungan jangka panjangnya, yaitu jumlah langkah yang meningkat hingga 7500 langkah sehari (ternyata tidak perlu 10.000 langkah) ternyata beriringan dengan menurunnya tingkat kematian. Di Indonesia, saya sulit untuk aktif bergerak karena kondisi jalan tidak aman, dan transportasi umum tidak memadai (perceived barrier). Tapi, sekembalinya ke Taiwan, halangan tersebut tidak ada lagi, sehingga saya bisa meningkatkan keaktifan saya dengan bantuan jam pintar yang dapat menghitung langkah saya dan memberi selamat saat saya sudah mencapai target langkah (cue to action). Adanya teman dengan minat sama juga sangat membantu (cue of action).

Saya sadar betul, segala fasilitas yang saya punya di Taiwan adalah privilese. Apakah mungkin kita bisa lebih aktif di Indonesia? Jika kita melihat melalui kacamata teori HBM, batasan-batasan yang ada di Indonesia hanyalah satu dari sekian faktor, yang semuanya dapat diakali. Maka, saya merasa kita boleh lah merasa optimis.

Mencoba menjadi analis perilaku kesehatan dadakan, berikut tips untuk menggunakan teori HBM agar perubahan gaya hidup bisa diusahakan secara menyenangkan :

Hasil dari teori HBM seringkali personal bagi masing-masing individu. Oleh karena itu, proses ini dapat menjadi perjalanan penting untuk mengenal diri sendiri dengan segala kelemahan dan kekuatannya, dan mengakuinya untuk kemudian bertumbuh ke arah yang lebih baik. Yang terpenting adalah memastikan setiap langkah terasa menyenangkan.

https://betanews.id/2021/05/jurus-jitu-mengubah-gaya-hidup-jadi-lebih-sehat.html

Kategori: ,