Hutang Rindu Pemerintah
Sabtu, 8 Mei 2021 | 15:30 WIB

Hutang Rindu Pemerintah TRB 8_5_2021

Oleh: Amrizarois Ismail, Dosen Rekayasa Infrastruktur dan Lingkungan, Unika Soegijapranata

ATURAN pelarangan mudik telah resmi diberlakukan pertanggal 6-17 Mei 2021 sebagaimana Surat Edaran Kepala Satgas Penanganan Covid-19 Nomor 13 Tahun 2021 tentang Peniadaan Mudik pada Bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri Tahun 1442 Hijriah. Penyekatan di berbagai titik kabupaten-kota juga telah dilaksanakan pihak-pihak terkait bahkan beberapa dilaksanakan sebelum hari pelarangan Mudik yaitu 6 Mei 2021.

Kondisi ini menuai beragam pro dan kontra dan berbagai kalangan. Sebagian masyarakat bahkan menyesalkan dan berencana nekat untuk tetap pulang ke kampung halaman. Pasalnya beberapa menganggap aturan ini dirasa tidak adil dikarenakaan pelarangan tidak begitu ditekankan pada kegiatan lain yang juga berpotensi menimbulkan kerumunan seperti berbelanja dan berwisata.

Nekat Mudik
Untuk dapat lolos dan penyekatan mudik, banyak masyarakat yang mensiasati dengan berbagai ragam cara, ada yang berangkat mudik sebelum hari pelarangan, ada yang menggunakan jalur “tikus”, bahkan ada yang sengaja menggunakan moda transportrasi yang tak biasa digunakan untuk mudik seperti truk dan perahu.

Cara yang digunakan tersebut jelas tidak aman dan tidak disarankan, namun tetap saja masyarakat kita tidak bergeming demi memenuhi hasrat kerinduan terhadap keluarga dan kampung halaman. Sebuah alasan yang mungkin dianggap remeh oleh sebagian pihak apabila dibandingkan dengan alasan keselamatan jiwa dan ancaman Pandemi COVID-19 yang tengah merebak.

Lantas, mengapa masyarakat kita rela menempuh ratusan kilometer, menerobos aturan penyekatan dan mengambil resiko kesehatan akan ancaman COVID-19 hanya demi memenuhi kerinduan itu?

Dalam konsep sosial, cinta, kasih dan rindu merupakan hal ihwal, pribadi ataupun kondisi interpersonal manusia terhadap sekitarnya yang mampu menimbulkan rasa senang dan bahagia terhadap intrapersonal masing-masing yang terlibat. Secara ilmiah, dilansir dan salah satu media kesehatan (klikdokter.com) menjelaskan hasil studi Lucy Brown, seorang ahli syaraf Universitas  Yeshiva, Amerika Serikat (AS), bahwa ada beberapa proses neurokimia yang muncul pada seseorang ketika mereka sedang meradang rindu atau jatuh cinta. Selain estrogen dan testosteron, tubuh akan melepaskan adrenalin, dopamin, dan serotonin. Dopamin adalah yang menciptakan perilaku ksatria pada pria dan keterikatan yang dalam pada wanita. Hal tersebut menjadikan ketika seseorang tengah jatuh cinta atau meradang rindu, secara alami tubuh akan mempercepat produksi hormon-hormon di atas. Reaksi hormonal tersebut akan mendorong timbulnya euforia pada dirinya. Tentunya terpenuhinya rindu sebagai bentuk euforia akan menimbulkan kebahagiaan dan rasa lega yang seolah seperti lepas dari beban yang mempengaruhi totalitas dan daya fokus dalam bekerja.

Libur Pengganti
Sebuah Novel karang-an Eka Kurniawan, yang juga difilm kan oleh palari Films yang berjudul “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” seolah mencerminkan kondisi saat ini. Novel yang terbit pada tahun 2014 ini meski tidak mengulas alasan-alasan ilmiah mengenai implikasi rindu, cinta dan kondisi interpersonal lainnya, namun cukup sukses mengisahkan orang-orang yang rela melakukan apapun bahkan gila sekalipun atas dasar himpitan keadaan dan rindu yang menggebu terhadap suatu hal. Kondisi yang tengah terjadi pun seolah serupa dengan cerita dalam karangan tersebut, masyarakat yang tengah terhimpit keadaan krisis dalam banyak hal oleh Pandemi COVID-19 yang perlahan mulai berani menunjukkan nekatnya demi memenuhi hasyat kerinduan dan cintanya terhadap suatu hal di kampung halamanya.

Seperti halnya pesan yang disampaikan pada karangan tersebut, untuk menjamin perasaan bahagia hingga mendorong totalitas dan produktivitas masyarakat untuk bekerja dan berkarya, pemerintah sebagai pihak yang mengatur kebijakan pelarangan Mudik untuk kepentingan pencegahan penularan COVID-19, juga perlu memikirkan stimulan yang dapat mengganti rasa rindu masyarakat terhadap kampung halaman yang tertahan akibat aturan larangan Mudik 2021.

Jika pada tahun sebelumnya pemerintah menjanjikan beberapa stimulan pengganti mudik dan libur dalam bentuk mengganti jadwal mudik pada hari libur nasional setelah Hari Raya Idul Fitri (Kompas.com), maka alangkah bijaknya stimulan janji tersebut juga kembali diberikan pada tahun ini, agar masyarakat dapat memenuhi hasrat kerinduan dapat meningkatkan produktivitasnya hingga mendorong pertumbuhan pembangunan.

Tentunya stimulasi tersebut tidak diberikan secara “cuma-Cuma”, pemerintah dapat menjadikanya sebagai hadiah terhadap Kota/Kabupaten ataupun Provinsi yang berasil meningkatkan perilaku tertib Prokes COVID-19 di masyarakat, dan juga ditandai dengan penurunan laju penularan COVID-19.

Hutang rindu adalah suatu keniscayaan. Sambil menunggu hutang rindu terbayarkan, Pemerintah dapat menjalankan supervisi kegiatan pemutusan rantai penularan COVID-19 secara terus-menerus.

Tribun Jateng 8 Mei 2021 hal. 2

Kategori: ,