Tak Perlu Emosi Berlarut Jadi Korban Ghosting, Bangun Karakter Pribadi Lebih Mandiri
Jumat, 9 April 2021 | 10:05 WIB

image

Ghosting adalah istilah untuk menyebut suatu perilaku yang tiba-tiba menghilang, padahal masih berada dalam satu hubungan dengan pihak lain. Dalam kasus ini, sebut saja orang yang melakukan ghosting sebagai ghoster. Sedangkan orang yang di-ghosting atau menjadi korban adalah ghostee.

Dr Christin Wibhowo, S.Psi, M.Si, Dosen Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata Semarang dan Konselor Pernikahan menjelaskan seluk beluk dan segala hal mengenai ghosting ini.

Menurutnya, penyebab dari terjadinya ghosting adalah pertama, dari sudut pandang ghoster, biasanya karena tidak peka akan sinyal atau tanda-tanda untuk putus (mengakhiri hubungan). Ghostee tidak paham. Misal, si ghoster sudah memberikan sinyal dengan tidak membalas chat, tidak mengangkat telepon, membatalkan janji pertemuan, namun si ghostee tidak sadar dengan cara-cara halus ini. Maka mungkin, si ghoster tidak tega untuk menyampaikan secara langsung kalau mau putus. Akhirnya, si ghoster melakukan ghosting.

Lalu alasan kedua karena mungkin ghoster tidak mau berdebat. Ghoster memang mau putus. Ghoster bahkan sudah dengan mengatakan bahwa dirinya ingin putus. Ghoster langsung berbicara ke pasangannya atau ghostee. Namun, ghostee masih memaksa dan mengejar terus. Daripada begitu dan berdepat terus, akhirnya ghoster memilih melarikan diri saja supaya aman. Kemudian alasan ketiga karena bisa saja si ghoster sedikit Menelik gangguan kepribadian yaitu gangguan kecemasan untuk terikat.

Ghoster ini punya kepribadian menghindar. Jadi, ketika sudah mulai lekat, si ghoster ini mulai meras takut. Hal ini bisa saja disebabkan karena pengalaman masa lalu atau memang memiliki gangguan tersebut. Kondisi ini bisa saja terjadi apabila si ghoster dikejar-kejar orangtua ghostee untuk segera menikah. Padahal ghoster belum siap.

Selanjutnya, kenapa seseorang menjadi korban atau ghostee? Pertama, karena ghostee tidak siap dan peka terhadap tanda-tanda tadi oleh pasangannya. Kedua, si ghostee tidak memilik prestasi khusus (kegiatan, hobi, atau capaian). Saat berhubungan, ghostee cenderung mengikuti terus pasangannya (manutan). Hal ini tentu membuat bosen si ghoster, sehingga akhirnya si ghoster jadi jengkel dan melarikan diri.

Biasanya, ghostee orangnya cenderung nerima dan manut. Maka dari itu, anak-anak muda, baik perempuan maupun laki-laki harus mandiri dan memiliki prestasi masing-masing. Jangan jadi serba ketergantungan dengan pasangan. Lalu jangan segala hal harus berbarengan semua. Misal, menabung, berbisnis, berinvestasi, dan tinggal bersama. Sebab, ketika sudah tinggal bersama, ini dari pihak perempuan sangat dirugikan.

Sehingga kepribadiannya jadi sangat ketergantungan atau dependen. Kepribadian yang sangat ketergantungan ini juga adalah gangguan. sehingga ghoster-nya jadi bosen. Intinya, kalau terjadi adanya ghosting, maka yang salah bukan hanya pelaku atau ghoster, tetapi korban/ghostee juga punya potensi untuk di-ghosting.

Menjadi korban ghosting atau ghostee tentu bukan hal yang diinginkan. Dampak buruk perilaku ghosting terhadap ghostee banyak sekali. Dampaknya, ghostee semakin tidak memiliki harga diri. Ketika dia betul-betul menjadi korban ghosting, maka potensi-potensi gangguan ini bakal muncul. Ghostee makin tidak punya harga diri, tidak percaya diri, rentan menyakiti diri sendiri, dan suka menyalahkan diri sendiri. Ke depannya, ketika ghostee akan menjalin hubungan lagi, dia akan memiliki trauma ini.

Ghostee memang cenderung akan larut dalam suasana pasca ditinggalkan. Tipikalnya memang begitu. Saat pacaran, segala hal bersama. Hal inilah yang membuat para ghostee terlarut dalam situasi. Para ghostee harus berbenah diri. Introspeksi.

Ketika menjadi ghostee, maka dia tidak boleh hanya menyalahkan pelaku. Tetapi, ghostee harus segera introspeksi diri dan mawas diri. Terutama bagi banyak perempuan setelah memiliki pacar, kalian harus tetap untuk berprestasi. Boleh berpacaran, namun tetap fokus ke depan. Jadi, tugas saat waktu berpacaran itu adalah menjalin hubungan. Lalu, menata masa depan. Masa depannya siapa? Masa depan masing-masing, masa depan diri sendiri. Jangan semua hal tergantung pada pacar/pasangan. Hal ini harus diinstropeksi.

Begitu seseorang menjadi ghostee, maka dia harus segara introspeksi dan fokus ke masa depan. Intinya, harus terus berprestasi. Jangan berubah menjadi orang yang serba manutan, bahkan jangan berubah ketika juga sudah menikah nanti. Prestasi tetap harus ada supaya PD.

Fokus saja ke depan. Sebab, di balik setiap kesuksesan kita, selalu ada mantan yang menyesal. Nah, maka dari itu, teruslah berprestasi, introspeksi diri, dan jangan diulang lagi dengan kepribadian yang serba dependen tadi. Setelah itu, para ghostee perlu bersyukur juga. Kenapa? karena kita pada akhirnya putus atau selesai. Hubungan yang putus baik-baik itu sebenarnya tidak ada. Namanya baik-baik itu harusnya tidak putus.

Kalau putusnya pakai diskusi justru akan semakin sakit karena kita masih mengenang banyak kebaikan dari pasangan. ketika kita di-ghosting, maka kita mau ga mau harus berhenti menghubungi dia. Seiring berjalannya waktu, luka di hati pun semakin sembuh karena benar-benar sudah tidak ada hubungan. Jadi, ketika seseorang itu di-ghosting, maka langsung saja blokir semua media sosialnya si ghoster. Supaya anda tidak tau lagi kabar dia. Itu betul-betul akan menyembuhkan.

Selain harus terus mengintropeksi, berprestasi, dan fokus ke depan, para ghostee pun perlu membuat target. Targetnya harus memakai angka. Yang jelas supaya kita fokus. Kemudian, kita bersyukur karena ini justru jalan yang terbaik. Hal lainnya yang bagus untuk dilakukan diri sendiri adalah jangan lupa tetap melakukan hobi. Nah seringkali, ghostee suka lupa terhadap hobinya karena masih larut dalam suasana hati gundah gulana. Hobi itu seperti layaknya charge di HP.

Semisal masih berlanjut, silahkan hubungi pihak yang berkompeten. Tidak harus psikolog dan para ahli. Maksudnya adalah orang-orang yang diyakini bisa menyelesaikan masalah. Mungkin bisa ke orangtua, kakak, adik, dan teman. Mau pakai psikolog juga boleh. Buka lah pintu hati untuk bercerita. Misalkan malu karena takut rahasianya terungkap, justru mengungkapkan sedikit rahasia adalah kedewasaan pribadi.
Ketika para ghostee sudah melakukan hal-hal tadi, maka hindarilah perilaku-perilaku rendah diri, agresif, dan pasif.

Saat kita menjadi ghostee, yang harus ditonjolkan adalah perilaku asertif. Di dalam setiap hubungan, anda berhak menyampaikan isi pikiran dan pendapat tanpa harus menyinggung orang lain. Hal inilah yang disebut asertif. Terakhir, hindarilah kutipan-kutipan cinta yang salah.

Seperti kutipan; cinta rela berkorban dan cinta pertama tidak pernah mati. Itu sejumlah kutipan-kutipan cinta yang salah kaprah. Padahal, yang namanya pacaran itu, ada kesempatan untuk putus. Hal itu tidak salah. Banyak sekali orang yang menganggap bahwa cinta pertama itu harus sampai nikah. Kalau enggak, maka tidak ideal. Pacaran itu bukan cinta buta. Bukan pula setia buta.

sumber: https://jateng.tribunnews.com/2021/04/07/tak-perlu-emosi-berlarut-jadi-korban-ghosting-bangun-karakter-pribadi-lebih-mandiri?page=all.

Kategori: