Paskah Menyelamatkan Kehidupan
Senin, 5 April 2021 | 10:58 WIB

SM01042021 Paskah Menyelamatkan Kehidupan

Oleh: Aloys Budi Purnomo Pr, kepala Campus Ministry dan mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan Unika Soegijapranata, moderator Keadilan Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan Semarang 

PADA hari pertama Pekan Suci menjelang Paskah, tak hanya umat kristiani, melainkan seluruh warga masyarakat dunia dikejutkan aksi bom bunuh diri di salah satu area pintu masuk Gereja Katedral Makassar (Minggu, 28/3/2021). Tentu, kita semua prihatin atas aksi bom bunuh diri tersebut, yang bahkan terjadi di masa pandemi. Ketika semua orang berusaha merawat dan menyalamatkan kehidupan, justru ada oknum-oknum raja tega menghabisi hidupnya sendiri. Apalagi, aksi tersebut, selalu terarah pada korban lain yang menjadi sasaran. Di area Gereja Makassar, yang tewas hanya pelaku saja. Kematian konyol dan sia-sia! Mengapa?

Karena pelaku tewas tanpa makna dalam kesia-siaan terorisme yang gagal membuat kita ketakutan. Di era sekarang ini, kematian konyol aksi teror bom bunuh diri bahkan dipandang sinis, dan menjadi bahan tertawaan.

Kematian akibat teror bom bunuh diri adalah jualan yang tidak laku ketika banyak orang justru berupaya merawat kehidupan. Sebagaimana direnungkan dan dihayati umat kristiani di seluruh dunia, kehidupan tak hanya harus dirawat, me;lainkan diselamatkan. Itulah pesan utama Pekan Suci dari Minggu Palma (28/3/2021) hingga Minggu Paskah (4/4/2021) sebagai puncaknya.

Inti Pekan Suci adalah mengenang sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus. Namun, kematian-Nya bukanlah kematian yang konyol. Kematian itu menebus kehidupan manusia yang dibelenggu kejahatan dan dosa.

Sekitar lima abad sebelum peristiwa sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus, Nabi Yesaya sudah menyampaikan nubuatnya bahwa derita kitalah yang ditanggungnya, sengsara kitalah yang dipikulnya. Ia ditikam karena kedurhakaan kita dan dihancurkan karena kejahatan kita. Siksaan yang menimpa dia membawa perdamaian bagi kita, dan kita sembuh berkat bilur-bilur tubuhnya (Yesaya 55:4-5).

Maka, kematian Yesus Kristus yang dikenangkan miliaran umat kristiani di seluruh dunia pada hari Jumat Agung (2/4/2021) bukanlah kematian konyol. Berbeda bumi langit dengan kematian sia-sia pelaku teror born bunuh diri, meski pelakunya mendasarkan aksinya pada ayat-ayat suci sesuai penafsirannya sendiri.

Kematian Yesus adalah kematian yang menyelamatkan manusia dan semesta. Sedangkan kematian pelaku bom bunuh diri adalah kematian sia-sia yang membahayakan sesama. Kalaupun kematian itu dianggap mendatangkan kebahagiaan, kebahagiaan itu hanya sejauh yang dipikirkan sang pelaku, tidak berdampak pada kebahagiaan sesamanya. Itu pun kalau benar bahwa pelaku bom bunuh diri mati bahagia, sebab faktanya, mereka selalu hancur dimakan api. Tubuhnya tercabik-cabik atas sesat pikirnya sendiri. Maka, sia-sialah belaka!

Pemurnian Persaudaraan
Di masa lalu, ketika kita mendengar kabar tenor bom bunuh diri, kita terguncang, karena selalu dengan korban masyarakat warga yang tak bersalah. Dalam keterguncangan itu, gaya hidup kita ditantang untuk melewati ambang batas, baik buruknya kebenaran iman dan akal sehat.

Kini, keterguncangan itu tak sehebat dulu, bukan karena penghargaan kehidupan telah pudar, melainkan karena setiap aksi teror selalu membangkitakan solidaritas, bukan terhadap pelaku, melainkan terhadap korban. Pascaaksi teror selalu marak aksi solidaritas yang tersebar tak hanya di tempat kejadian melainkan di seluas muka bumi ini. Sebagai contoh, pascaaksi teror bom bunuh diri di Makassar, upaya untuk merajut persaudaraan justru kian menguat. Silaturahmi terus bersemi. Bahkan di masa pandemi, misalnya, para aktivis kerukunan dan persaudaraan lintas agama justru menyambangi gereja-gereja untuk menyatakan empati dan simpati. Tak terkecuali di Gereja Katedral Semarang, meski aksi teror terjadi di Makassar.

Di sinilah pemurnian persaudaraan insani terjadi. Tentu, persaudaraan tak boleh hanya bersifat lamis sekadar reaksi atas aksi bom bunuh diri yang terjadi. Persaudaraan harus terus dikembangkan, entah ada aksi tenor entah tidak, sebab tujuan utama dari setiap rajutan persaudaraan tidak lain adalah merawat dan menyelamatkan kehidupan. Dan situlah umat manusia dalam keberagaman agama dan kepercayaan saling menghormati dan menghargai sebagai panggilan sesuai ajaran agama rnasing-masing secara sehat.

Dalam setiap aksi teror apapun bentuknya, kehidupan manusialah yang terancam dan terbahayakan. Maka, semua orang pun mengalami masa pencobaan. Namun semakin kita sadari pula bahwa begitulah cara kita harus bertumbuh dalam persaudaraan yang sejati. Bahkan, persaudaraan yang sejati justru semakin dimurnikan ketika tetap bisa dipertahankan tanpa aksi tenor dan kekerasan. Aksi teror bom bunuh diri yang terjadi di Makassar menjelang Paskah harus dimaknai sebagai momentum pemurnian persaudaraan sejati di negeri ini. Sebagaimana selalu kita imani, dalarn pencobaan hidup, kita mengungkapkan hati: seberapa kuat dan berbelaskasihan kepada sesama. Hati kita pun diuji, untuk dapat selalu merasakan hadirat Tuhan, yang setia, dalam setiap perjumpaan kita dengan sesama yang berbeda agama, kepercayaan, suku, budaya, bangsa, dan mazab politiknya

Persaudaraan harus terus dikembangkan, entah ada aksi teror entah tidak, sebab tujuan utama dari setiap rajutan persaudaraan tidak lain adalah merawat dan menyelamatkan kehidupan.

Seraya merajut persaudaraan yang selalu terancam dalam setiap aksi kekerasan, mari kita rayakan Paskah di masa pandemi Covid-19 ini dengan mengenang para dokter, perawat, relawan, dan siapa saja yang meninggal karena virus korona. Mereka jauh lebih mulia dibanding kematian pelaku bom bunuh diri yang sia-sia!

Selamat Paskah bagi yang merayakannya. Mari kita saling merawat dan menyelamatkan kehidupan kita yang anugerah yang berharga.

Wacana: Suara Merdeka 1 April 2021 hal. 4

Kategori: ,