Kematian yang Menghadirkan Kerahiman
Senin, 5 April 2021 | 10:12 WIB

TRB 01042021 Kematian yang Menghadirkan Kerahiman

Oleh: Aloys Budi Purnomo, Kapal Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang

DALAM tradisi Kristiani, mulai hari Kamis hingga Minggu (2-4/4/2021) disebut Tri Hari Suci. Kamis disebut Kamis Putih, ditandai pembasuhan kaki dan perjamuan suci sebagai simbol pelayanan dalam pengorbanan dan penyerahan Jumatnya disebut Jumat Agung, untuk mengenang wafat Yesus Kristus, yang pada hari Kamis memberi tanda kepada para murid-Nya dalam pembasuhan kaki dan perjamuan suci.

Pelayanan dalam pengorbanan itu dilaksanakan bukan sebagal basa-basi, namun dibuktikan dalam sengsara dan wafat-Nya, serta pemakaman-Nya. Minggunya disebut Minggu Paskah, sebagai kenangan akan kebangkitan Yesus Kristus.

Paskah disebut puncak Tri Hari Suci, sebab pelayanan dalam pengorbanan yang ditandai oleh sengsara dan kematian, berbuah pada kemenangan dalam kebangkitan-Nya dari alam maut. Itulah puncak misteri iman yang dirayakan oleh Umat Kristiani sedunia. Karenanya, Tri Hari Suci menjadi hari-hari kenangan yang dirayakan oleh para pengikut Kristus di seluruh dunia, juga meski kita sedang dilanda pandemi Covid-19 yang tak kunjung berhenti.

Tri Hari Suci ditempatkan dalam satu pekan, disebut Pekan Suci, sejak Hari Minggu (28/3/2021). Sayangnya, awal Pekan Suci dinodai bom bunuh diri di salah satu pintu masuk Gereja Katedral Makassar. Bom bunuh diri seperti itu selalu masuk dalam kategori terorisme. Tujuannya adalah menebarkan ketakutan, kecemasan, kecurigaan, dan kematian!

Kematian dalam Kerahiman
Berbeda dan kematian karena bom bunuh diri yang beraura negatif dalam wajah teror, takut, cemas, dan curiga; kematian Yesus yang dikenang pada Hari Jumat Agung adalah kematian dalam kerahiman. Kerahiman itu datang dari Allah Yang Maha Kuasa, namun berbelas kasih kepada umat manusia yang sedang dibelenggu oleh kejahatan dan dosa. Satu-satunya cara untuk mengatasi dan mengalahkan belenggu itu adalah kematian dalam kerahiman.

Kalau kematian akibat bom bunuh diri merupakan tujuan, kematian Yesus di puncak Golgota bukanlah tujuan, melainkan sarana dan jalan.
Tujuan utamanya adalah perwahyuan kerahiman Allah dalam peristiwa nyata kehidupan manusia(wi) yang seringkali dipenuhi oleh kecemasan, ketakutan, teror dan bahkan kematian.

Kalau kematian Yesus terjadi melalui aksi kekerasan namun menjadi berkat bagi keselamatan umat manusia dan semesta alam; kematian karena bom bunuh diri terjadi sebagal kekerasan itu sendiri, yang tanpa buah secara sosial, selain ketakutan yang mendatangkan penderitaan. Kematian Yesus menghadirkan kerahiman, kematian akibat bom bunuh diri menghadirkan kekerasan dan bahkan ketakutan.

Mengapa kematian Yesus menghadirkan kerahiman? Karena Yesus sendiri menghadirkan belas kasih Allah, Allah yang berbelas kasih. Dengan belas kasih dan kerahiman-Nya, Allah hadir menyertai kita. Kehadiran yang menyertai adalah kehadiran saat seseorang merasa sakit, menderita, cemas, dan gelisah mengalami peneguhan dan penghiburan.

Kerahiman versus Kekerasan
Bagaimana memahami kematian Yesus yang menghadirkan kerahiman dalam konteks jaman ini? Kita bisa belajar salah satunya yang paling aktual dari reaksi-reaksi kemanusiaan pada peristiwa bom bunuh diri di Makassar. Bahkan kerahiman yang pada dasarnya selalu berlawanan dengan kekerasan, pada kasus teror bom di Makassar, kita melihat fakta-fakta iman yang luar biasa istimewa yang mempertemukan kerahiman di tengah kekerasan. Beberapa contoh bisa disebutkan.

Pertama, para korban luka akibat ledakan born bunuh diri menyatakan bahwa tak hanya memaafkan melainkan mengampuni pelaku born bunuh diri. Bahkan, mereka menyatakan kasihan terhadap pelaku yang mati secara mengenaskan dan sia-sia. Sudah terluka, masih berbelas kasih pula. Itulah kerahiman versus kekerasan, bukan membalas kekerasan dengan kekerasan melainkan dengan belas kasih.

Kedua, hadirnya para pejabat pusat ke Makassar dan menyambangi para korban yang terluka dapat disebut pula sebagai sebentuk kerahiman di tengah kekerasan. Kehadiran itu sesuai dengan prinsip belas kasih yakni kehadiran yang memberi perhatian, penghiburan, dan peneguhan. Kehadiran yang demikian ibarat cahaya ditengah kegelapan.

Ketiga, benarlah pernyataan Menteri Agama Republik Indonesia, Yaqut Cholil Qoumas atau akrab disapa Gus Tutut. Sebagaimana banyak diberitakan di berbagai sumber, atas kejadian teror bom bunuh diri di Makassar, Menag mengimbau agar para tokoh agama terus meningkatkan pola pengajaran agama secara baik dan menekankan pentingnya beragama secara moderat.

Benarlah bahwa, agama apapun mengajarkan umatnya untuk menghindari aksi kekerasan. Kekerasan itu menggerus nilai-nilai kemanusiaan dan hanya mendatangkan kerugian kepada banyak pihak. Kekerasan ini pulalah yang rawan mengoyak tatanan kehidupan masyarakat yang sudah terbina dengan rukun dan baik. Karenanya, semua pihak harus mengutamakan jalan damai.

Himbauan Menag tersebutlah yang sudah dilaksanakan bahkan oleh para korban terluka dan mungkin trauma, yang kebetulan umat Kristiani. Bahkan umat Kristiani bisa melakukannya, itu disebabkan oleh keteladanan Yesus Kristus sendiri, yang selalu mengampuni dan menyatakan kerahiman, saat ia disiksa, didera, dan disalibkan di Golgota, sebagaimana dikenangkan pada Tri Hari Suci. Harapannya, semoga inspirasi serupa berguna pula bagi para pejabat dan aparat yang bertanggung jawab untuk mengusut tuntas kasus-kasus teror seperti itu. Dengan demikian, jalan perdamaian dan kemanusiaan dikedepankan, kerukunan dan persaudaraan dalam keberagaman juga diwujudkan. Kekerasan tak pernah bisa diselesaikan dengan kekerasan, melainkan kerahiman.

Selamat Paskah bagi yang merayakannya. Semoga hati kita semua dipenuhi kerahiman, kendati kekerasan demi kekerasan terjadi dalam kehidupan kita.

Sumber: Tribun Jateng 1 April 2021 hal. 2

Kategori: ,