ENERGI NUKLIR: Pelajaran Tak Pernah Usang dari Chernobyl
Rabu, 28 April 2021 | 1:05 WIB

energi nuklir Ledakan reaktor nuklir di kota Chernobyl. Ukraina, 26 April 1986, menjadi kecelakaan nuklir yang diingat  banyak orang. Ambisi kedaulatan energi tanpa persiapan matang clari pemerintahan saat itu menjadi pelajaran yang tak pernah usang.

Pembangunan Pembangkit Lstrik Tenaga Nuklir (PLTN) Chernobyl merupakan proyek ambisius Uni Soviet di bidang nuklir. Reaktor nomor satu PLTN Chernobyl dibangun pada 1977 di wilayah yang saat itu menjadi bagian dari Uni Soviet. Pada 1983, empat reaktor selesai dibangun dan penambahan dua reaktor direncanakan pada tahun-tahun berikutnya.

Namun alih-alih mencapai kedaulatan energi, proyek Chernobyl menjadi bencana yang memicu keruntuhan negara itu. Pada 26 April 1986 dini hari terjadi ledakan reaktor nomor 4 saat pengujian sistem pendingin air darurat. Selang beberapa menit, ledakan membesar berujung pada pelepasan partikel radioaktif 400 kali lebih banyak dibandingkan dengan nuklir pada born atom Hiroshima.

Kontaminasi diperkirakan menyebar hingga radius lebih dan 100.000 kilometer persegi dari Uni Soviet hingga Eropa Barat. Laporan tahun 2005 dari Forum Chernobyl Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan 50 orang tewas dalam beberapa bulan setelah kecelakaan itu dan 9.000 orang lain yang terpapar radiasi meningal akibat kanker. Pada 1995, Pemerintah Ukraina menyatakan 125.000 orang meninggal akibat efek radiasi Chernobyl.

Uni Soviet menghabiskan biaya ratusan miliar dollar AS untuk membersihkan area dari kontaminasi. Setelsh 35 tahun berselang; insiden Chernobyl masih relevan diperbincangkan. Hal itu tak lepas dari insiden nuklir pasca-Chernobyl oleh bencana alam ataupun kelalaian manusia.

Dalarn webinar "Menolak Lupa: 25 Tahun Bencana Chernobyl Tak Kunjung Usai". di Jakarta, Senin (26/4/2021), juru kampanye iklim dan energi Greenpeace Indonesia, Hindun Mulaika, menyebut, radiasi dari ledakan Chernobyl mengancam lingkungan. Kebakaran sering terjadi saat musim kemarau pada zona pembatasan Chernobyl.

Saat kebakaran besar terjadi, radioaktif dengan level tinggi terbawa asap kebakaran dan terhirup warga. Menurut sejumlah riset, kebakaran pada 2015 melepaskan radioaktif cesiun-137. strontium-90, plutonium-238. dan americium-241 ke udara dengan tingkat lebih tinggi. "Chernobyl tak bisa lagi dihuni manusia," ujarnya.

PLTN di Indonesia
Di Indonesia, soal PLTN pro dan kontra. Studi kelayakan dilakukan, antara lain, di Jawa Tengah dan Bangka Belitung. Menurut Guru Besar Teknik Elektro Universitas Indonesia Rinaldy Dalimi, PLTN tak cocok dibangun di Indonesia yang rawan gempa bumi. Apalagi, keselamatan kerja di Indonesia rendah sehingga bisa memicu kecelakaan reaktor nuklir.

Anggota Dewan Energi Nasional Herman Daniel Ibrahim menyatakan, dalam Kebijakan Energi Nasional dan Rencana Umum Energi Nasional, pembangunan PLTN di Indonesia jadi opsi terakhir mencapai ketahanan energi.

Pakar lingkungan hidup Sonny Keraf menekankan, keputusan publik harus bermanfaat besar bagi sebanyak mungkin orang serta kerugian terkecil, baik dari sisi material maupun keselamatan dan ketenangan hidup warga. Kecelakaan nuklir Chernobyl menjadi pengingat dan pelajaran bahwa sekecil apa pun kelalaian manusia dalam pengoperasian reaktor nuklir akan berdampak besar bagi lingkungan dan kelangungsungan hidup manusia. (MTK)

 

Kompas 27 April 2021 hal. 8

Kategori: