dr. Aprilia Karen Mandagie, SpKK–“Menjadi Diri Lebih Berarti bagi Sesama”
Senin, 26 April 2021 | 11:13 WIB

Rutunitas Padat Dokter Aprilia Karen tanpa Melupakan Aktivitas Sosial

TERUS berguna bagi orang di sekitar. Melakukan segala sesuatu dari hal terkecil dengan segenap hati. Meski hal-hal remeh dan receh sekalipun, sebisa mungkin Aprilia Karen Mandagie akan berbuat dengan maksimal. Begitu motto hidup perempuan yang akrab disapa April kepada Tribun Jateng belum lama ini.

Bagi April, dengan segenap hati, maka apapun pekerjaan maupun tanggung jawab yang diembannya akan terasa enjoy. Seperti kesibukannya saat ini. Ya, April sekarang merupakan seorang Dosen di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Katolik Soegijapranata (Unika) Soegijapranata.

Dia merupakan salah satu pengajar pertama di FK Unika yang baru berdiri sejak sekira Mei 2019 lalu. Selain dosen, April juga aktif sebagai dokter spesialis kulit dan kelamin di RS Pantiwilasa dr Cipto Semarang serta dokter kecantikan di Skin’n Essensial Clinic (SEC).

"Terus sebagai pembimbing UKM Mahasiswa juga di Unika. UKM paduan suara di tingkat Universitas dan baru-baru ini di Fakultas. Hobi memang bernyanyi dan main alat musik salah satunya piano. Itu hobi memang dari kecil," ungkapnya.

Tidak berhenti di situ, April turut mengikuti beragam aksi sosial bersama organisasinya yakni, Women International Club (WIC). WIC sendiri, kata April, merupakan perkumpulan yang diikuti para perempuan dari berbagai negara dengan fokus kegiatan sosial dan berbagi kultur antarnegara.

"Karena ini berkaitan dengan sosial, kita gerakannya bermacam-macam. Seperti ke para penderita HIV AIDS, penderita kusta, membagikan susu formula ke beberapa daerah yang dinilai kurang, dan banyak lagi. Kami di WIC ini semacam menyalurkan bantuan dan memberikan edukasi. Pokoknya banyak deh. WIC ini hadir di banyak daerah, salah satunya Semarang," sambungnya.

Dari sekian banyak kegiatan tersebut, tak heran jika rutinitas April sehari-hari sangat padat. Namun, hal itu lantas tidak membuat ia lelah dan mengeluh. Justru April menikmati dan bersyukur karena masih bisa berbuat banyak hal setiap harinya, terutama kepada orang-orang lain. Dalam hal ini adalah mahasiswa dan, pasien-pasiennya.

Padatnya kegiatan, diakui April, memang berdampak ke beberapa hal. Satu di antaranya adalah interaksi dalam bertukar pesan chat. Penyuka black coffee less sugar ini sering slow response, utamanya di jam-jam kerja. Pasalnya, April harus mengambil tindakan kepada para pasiennya. Bahkan, waktu makannya saja kerap terpotong karena panggilan tugas.

"Karena banyak pasien yang harus diberi tindakan oleh saya. Makanya, saya jarang sekali buka HP kalau di jam kerja. Bisanya, baru bisa saya balas malam harinya kalau sudah santai. Saya jawabin semua pesan satu persatu dari atas sampai bawah. Meski kerjaan selesai sampai jam 17.00, habis itu biasanyn saya ada jadwal lagi. Malam hari memang betul-betul sudah rileks," cerita April.

Pagi mengajar. Kemudian, siang sampai sore harinya praktek dokter. Belum lagi membimbing, dan berkegiatan sosial. Begitulah rutinitas April. Sebagian besar kesibukan April memang tak jauh kaitannya dengan dunia medis. Wanita keturunan Manado ini memang sejak dulu tertarik di bidang kedokteran.

Tahun 1998, April kuliah kedokter-an di Unissula. Sebenarnya, is saat itu mendapat PMDK di Undip. Maklum saat itu April memiliki segudang prestasi sehingga mendapatkan jatah PMDK. Ia mengingat, saat itu di sekolahnya hanya ada dua murid yang mendapatkan jatah. Keduanya ternyata sama-sama memilih Kedokteran.

"Karena yang diambil cuman satu, al-hasil saya gugur. Saya saat itu memang sudah pesimistis, tapi tetap bersih keras ingin kuliah di kedokteran, meskipun bisa kuliah di Undip dengan jurusan lain. Akhirnya, orangtua tetap support buat aku kuliah di Kedok-teran dan dipilihlah di Unissula. Saat itu, kedokter-an di Semarang memang baru ada dua, di Undip dan Unissula. Namun, ujungnya, saya tetap bisa kuliah kedokteran di Undip. Ambil S1 Profesi Spesialisasi Kulit dan Kelamin," tutur Prilly, sapaan semasa kecilnya.

Sebetulnya, April dulu banyak diragukan bisa menjadi dokter. Sebab, dia saat itu dikenal takut dengan hal-hal yang berbau darah. Melihat mayat dan tayangan operasi di film saja sudah membuat sekujur tubuh April lemas. Namun, di sisi lain, ia memiliki ketertarikan di bidang tersebut hingga akhirnya kuliah di kedokteran.

Pengalaman terus menempa April. Salah satunya saat dia mendapatkan kesempatan menjadi dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT) di salah satu posyandu di Merauke, Papua pada tahun 2005. Dia mendapat jam terbang tersebut sehabis lulus kuliah kedokteran umum. April bertugas di sebuah posyandu yang biasa disebut oleh dirinya dan teman-teman lain dengan istilah Posyandu Air.

"Itu pelayanan posyandu air. Jadi, kita melewati air dan muara saat itu. Kita harus naik di kapal yang disebut ‘belang’. Kita naik belang supaya dapat menjangkau ke sana. Salah satu alasan yang membuat saya memilih profesi spesialis kulit adalah berkat pengalaman di sana. Buat saya, penyakit kulit adalah sesuatu yang menarik. Karena di samping menyembuhkan penyakit, kita juga bisa membuat orang jadi percaya diri. Ini yang menjadi sebuah kebahagiaan juga," urainya, (gum)

Panggilan : April, Prilly, dan Karen
TTL: Semarang, 9 April 1980
Pendidikan Terakhir: S1 Profesi
Minuman Favorit : hot black coffee less sugar
Hobi: musik, menyanyi, olah raga, masak
Profesi: Dokter spesialis kulit & kelamin, dokter estetika, dan dosen pengajar FK Unika
Riwayat organisasi:
– Women’s International Club
– Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski)
Alamat: Sampangan, Gajahmungkur, Kota Semarang

 


Bersyukur Memiliki Banyak Kesempatan

MESKIKERJA di berbagai tempat, Aprilia Karen Mandagie juga membuka praktek sendiri di kediamannya yang berlokasi di Sampangan, Gajahmungkur, Kota Semarang. Namun, praktek pribadinya itu hanya berlaku seminggu sekali di hari Kamis. Itu pun ia emban sehabis bekerja reguler sebagai dosen dan dokter.

"Kalau mengajar variatif. Kadang full, kadang enggak. Lalu di Pantiwilasa 4 kali praktek. Sedangkan di SEC setiap hari. Memang padat, tapi senang. Bersyukur saja karena masih diberi kesempatan," ungkap perempuan kelahiran Semarang ini.

Walaupun padat, ia tetap berusaha mengimbangi kehidupannya antara untuk diri sendiri dan profesi. Dalam hal ini, ia tak mau jadwal olahraganya terganggu, terutama ketika di hari Rabu. Di hari itu, April biasa melakukan private gym.

Selain gym, ia juga senang bersepeda dan yoga. Olahraga merupakan salah satu bentuk me time April dalam menyeimbangkan hidup. Dari berolahraga, bentuk memanjakan diri yang sering April lainnya adalah pergi ke salon.

Lalu, bermain musik dan bernyanyi pun termasuk hobi April dalam memanjakan diri sendiri. Kesenian musik merupakan kegiatan yang telah dilakukannya sejak kecil. Maklum, neneknya yang merupakan warga negara Belanda itu menyenangi dunia seni. Alhasil, dia sejak kecil dijejeli berbagai kegiatan seni, salah satunya musik.

"Pokoknya Sabtu itu waktu me time aku. Waktu sama keluarga dan memanjakan diri. Kalau lagi jadwal kosong aku sering pakai buat ke salon dan lain-lain. Intinya memanjakan diri supaya tetap seimbang. Sekalipun harus tetap eksis, terlihat awetmuda dan tentunya sehat," pungkas sosok yang pernah memenangi dana penelitian antar mahasiswa spesialis oleh RSUP Kariadi ini. (gum)

 

►Tribun Jateng 25 April 2021 halaman 3

Menjadi Diri Lebih Berarti bagi Sesama

Kategori: