Semarang Bakal Dahsyat – Layak Disebut Kota Turis
Rabu, 17 Maret 2021 | 13:11 WIB

SM 17_03_2021 Layak Disebut Kota Turis1

KEMAJUAN dan perkembangan dalam berbagai sektor di Kota Semarang memungkinkan kota ini disebut sebagai kota turis dan pengusaha.

Menurut pengusaha Harjanto Halim, kuncinya adalah konektivitas atau jaringan yang saling terintegrasi untuk mendukung mobilitas masyarakat berkunjung ke Kota Semarang. "Jujur kalau Semarang bisa sebagai kota turis dan pengusaha. Kuncinya konektivitas, jadi orang bisa sampai ke kota ini bisa dengan sarana apapun, seperti halnya kalau kita di luar negeri," kata Harjanto.

Ia beranggapan, definisi kota intemasional tidak lantas mengacu kota-kota besar di negara maju seperti New York, atau beberapa kota yang ada di Hong Kong.

"Patokannya juga bukan bangunan pencakar langit. Semarang ini sebetulnya sudah punya modal, tinggal cara pengelolaannya," ujarnya.

Maka perkembangan infrastruktur menjadi penfing seperti bandara, hotel, dan prasarana pendukung lainnya. Tidak kalah penting soal jaminan keamanan, terutama di jalan-jalan protokol ketika malam hari atau tengah malam.

Serupa yang disampaikan Harjanto Halim, arsitek Andy Siswanto menilai tolok ukur perkembangan kota menjadi metropolis maupun kota intemasional bukan banyaknya lalu lintas kendaraan roda empat.

"Jangan sampai kita malah bangga kalau banyak pengendara mobil yang melintas, lalu macet. Itu bukan intemasional. Kalau maju berkembang, orang akan tertarik tinggal di Semarang," paparnya.

Guru Besar Ilmu Ekonomi Undip, FX Sugiyanto mengemukakan, kota ini tidak sekadar sebagai destinasi. Lebih dari itu harus mampu memberikan sesuatu kepada individu yang berkunjung ke Semarang.

"Artinya orang ke Semarang akan dapat sesuatu. Mas Hendi sudah punya modal, apalagi Jawa Tengah ini juga punya potensi," ujamya.

Sisi lainnya, kebutuhan akan budaya juga perlu diprioritaskan. Menurutnya, prasarana pendukung untuk kebutuhan seperti pentas, teater atau kegiatan lain terkait kesenian, perlu ditingkatkan lagi.

Rektor Unika Soegijapranata Prof Ridwan Sanjaya menyatakan, identitas sebagai smart city tidak selalu menggunakan atau bergantung pada teknologi. Meski demikian, ia mengakui peran teknologi mampu mengakselerasi atau menjawab kebutuhan dengan cepat.

Sumber: Suara Merdeka 17 Maret 2021 hal. 8

Kategori: