Ruang Rabu PMLP Lakukan Bedah Buku ‘PLTN Pilihan Terakhir’
Selasa, 23 Maret 2021 | 17:26 WIB

Prof Purnomo Yusgiantoro Ir MSc MA PhD saat paparkan materinya

Dalam diskusi Ruang Rabu Program Magister Lingkungan dan Perkotaan (PMLP) Unika Soegijapranata yang diselenggarakan pada Rabu (17/3) lalu bekerja sama dengan Ireem, Rektor Unika Soegijapranata Prof Dr F Ridwan Sanjaya MS IEC kembali berbagi pengalaman tentang semangat para akademisi senior yang tetap konsisten bergerak dengan hati, apa yang bisa menjadi sumbang saran dan pemikiran mereka kepada pihak yang berkepentingan atau pengambil kebijakan serta masyarakat pada umumnya.

“Satu dekade lalu saya sudah terkagum-kagum dengan para akademisi senior yang tergabung dalam ruang Rabu PMLP dan telah menyuarakan tentang PLTN melalui media massa. Selain itu, di PMLP Unika dengan jaringannya ternyata banyak orang-orang hebat di situ yang berkaitan dengan energi, juga aktif dalam hal-hal yang berkaitan dengan lingkungan, terlebih hari ini PMLP dengan acaranya telah membedah buku, maka saya yakin akan ada sesuatu yang bisa kita dapatkan. PMLP dengan Ruang Rabunya konsisten menyelenggarakan acara-acara yang membuat kita dan masyarakat bisa tercerahkan,” ucap Prof Ridwan.

Menanggapi apa yang disampaikan dalam sambutan Rektor Unika tersebut, Ketua Program Studi PMLP P Donny Danardono SH Mag Hum membuka acara Ruang Rabu PMLP dan menjelaskan tentang aktifitas yang pernah dijalani.

“Ruang Rabu adalah suatu forum diskusi di PMLP baik diskusi yang populer maupun diskusi yang sangat akademik dan sudah dilaksanakan hingga saat ini. Terlebih hari ini kita akan membahas buku yang berbicara tentang ‘PLTN Pilihan Terakhir’,” jelasnya.

Harapannya penulisan dan penerbitan buku ini dapat disambut dengan sangat baik oleh masyarakat Indonesia, mengingat problem yang akan dihadapi oleh masyarakat Rembang saat ini dan Indonesia di masa mendatang, lanjutnya membuka acara diskusi yang dilaksanakan secara virtual melalui zoom ini.

Sebagai keynote speaker Prof Purnomo Yusgiantoro Ir MSc MA PhD menyampaikan beberapa hal  mengenai Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Pilihan Terakhir.

“Indonesia memiliki Potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang cukup besar, yang didalamnya terdapat energi baru dan energi terbarukan, sedang di dalam sumber energi baru adalah sumber energi yang dapat dihasilkan oleh teknologi baru, baik yang berasal dari sumber energi terbarukan maupun sumber energi tak terbarukan, antara lain nuklir, hidrogen, gas metana batubara (coal bed methane), batubara tercairkan (liquified coal), dan batubara tergaskan (gasified coal). Jadi nuklir adalah termasuk dalam energi baru,” jelas Prof Purnomo.

Apabila dilihat secara makro nasional dan komprehensif, kira-kira keputusan politik nasional mengenai  pengembangan PLTN di Indonesia seperti apa, maka saya melihat dari peluang dan tantangannya, lanjut Prof Purnomo.

Peluang pengembangan PLTN di Indonesia bisa didasarkan pada beberapa hal, diantaranya adalah keekonomian PLTN semakin kompetitif, menjamin pasokan energi dalam skala besar, mendukung Indonesia untuk pencapaian National Determined Contribution (NDC) targetnya 29 % pengurangan karbon tahun 2030, hasil penilaian International Atomic Energy Agency (IAEA) menyebutkan 16 dari 19 infrastruktur PLTN di Indonesia dinyatakan siap, adanya PLTN generasi terbaru (Generasi 4) memiliki tingkat keamanan (safety) yang lebih tinggi, dan terdapat daerah di Indonesia yang aman dari gempa bumi yang memungkinkan pembangunan PLTN.

Sedang tantangan pengembangan PLTN di Indonesia adalah sudah ada PP no. 79 tahun 2014 yang mengatur PLTN menjadi pilihan terakhir, pertimbangan dampak bahaya radiasi dan limbah nuklir terhadap lingkungan hidup, rentan penolakan oleh masyarakat (public acceptence), bahan baku dan teknologi PLTN masih bergantung negera lain, isu nuklir saat ini masih sangat sensitif, dan ASEAN sudah menjadi kawasan yang damai, bebas serta netral.

“Jadi keputusan politik nasional PLTN membutuhkan kajian komprehensif yang cermat dan melibatkan partisipasi masyarakat multisektoral. Apabila akan dilakukan keputusan politik nasional PLTN, maka tidak hanya melibatkan pemerintah dan DPR saja, tetapi perlu melibatkan quadruple helix (pemerintah, akademisi, industri dan masyarakat),” kata Prof Purnomo menambahkan.

Sedang Prof Rinaldy Dalimi yang menjadi moderator diskusi, dalam penyampaiannya pada akhir diskusi menjelaskan beberapa poin penting, yaitu perlunya prioritas dalam pembangunan energi yakni maksimalkan pembangunan (ET) Energi Terbarukan, kurangi minyak, memaksimumkan gas, dan bahan bakar batubara yang terakhir sebagai andalan, setelah itu nuklir bisa dibangun.

“Dengan demikian nuklir harus dipersiapkan oleh BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional), tetap diteliti dan dikuasai, karena pada saatnya nanti apabila keempat tadi sudah tidak bisa memenuhi, maka kita pilih nuklir. Jangan lagi saat kita pilih nuklir baru dilakukan penelitian,” tandas Prof Rinaldy. (FAS)

Kategori: ,