Pusat Studi TJI Unika Bahas Peran MGR Alb Soegijapranata dalam Adaptasi Gereja Di Pulau Jawa
Senin, 29 Maret 2021 | 16:07 WIB

Pelaksanaan Diskusi Series yang perdana oleh PSU TJI Unika secara virtual

Sebuah acara perdana yang diselenggarakan dalam rangka ‘Diskusi Series’ oleh Pusat Studi The Java Institute (TJI) telah diselenggarakan pada  Jumat (19/3) dengan topik “Peran MGR Albertus Soegijapranata dalam Adaptasi Gereja Di Pulau Jawa”.

TJI Unika Soegijapranata yang merupakan salah satu pusat studi di bawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unika Soegijapranata, mencoba merealisasikan apa yang menjadi impian TJI Unika Soegijapranata, seperti yang dipaparkan oleh Ketua TJI Unika Soegijapranata Dr Ekawati Marhaenny Dukut MHum saat membuka acara diskusi yang diselenggarakan secara daring melalui zoom.

“Di dalam TJI kita dapat berbicara tentang tujuh macam unsur budaya yang cukup kompleks, yaitu tentang bahasanya, sistem ilmu pengetahuannya, sistem kemasyarakatan atau organisasi sosialnya, sistem peralatan hidup, mata pencaharian, religi dan keseniannya. Dengan demikian semua fakultas di lingkungan Unika Soegijapranata ini bisa berperan dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan TJI,” kata Dr Ekawati.

Sedang founder TJI yaitu Prof Dr Ir Y Budi Widianarko MSc pernah juga menggaris bawahi bahwa TJI adalah sebuah pusat studi yang disiapkan untuk mengkaji pulau Jawa sebagai sebuah entitas keruangan, sumber daya ekologi, sosial, ekonomi, dan budaya. Dengan demikian, dapat dimaknai bahwa TJI dibuat tidak hanya untuk berbicara tentang budaya dan kesenian yang ada di Pulau Jawa, namun juga dapat berbicara tentang sumber daya ekologinya, sosial ekonominya, hukum dan politiknya, perkembangan psikologi manusianya, macam dan tampilan arsitektur dan pengaruh atau dampak iklim dari lingkungan terhadap kesehatan dari masyarakatnya yang tinggal di pulau Jawa.

Sementara mengenai tema diskusi yang dibahas dalam diskusi perdana ini adalah mengenai patron Unika Soegijapranata yaitu MGR Soegijapranata dalam berkomunikasi sehingga beliau dapat mencampurkan berbagai ilmu budaya dan pengetahuannya yang diperoleh dari Orangtuanya yang asli Jawa dan dari pengalamannya ketika berhubungan dengan orang Belanda, orang Jepang dan orang Italia dan negara lainnya sehingga menjadi strategi bagi beliau untuk mendapatkan dukungan masyarakat hingga akhirnya menjadi benteng yang sangat kuat dan dari situlah akhirnya Indonesia berhasil meraih kemerdekannya, jelasnya sambil menyebutkan dua nama narsumber yang akan berbicara dalam diskusi serial yang perdana ini.

Demikian pula Kepala LPPM Unika Soegijapranata Dr Berta Bekti Retnawati MSi juga menegaskan perlunya mengetahui dan memahami kecintaan MGR Soegijapranata terhadap tanah airnya dan budaya lokal nusantara terutama di pulau Jawa.

Mengawali paparan materinya, Ignatius Eko Budi S SPd MM sebagai pembicara pertama mengemukakan sejarah awal dari Mgr Soegijapranata yang merupakan putra dari abdi dalem keraton Surakarta yang kemudian pindah bersama keluarganya ke Yogyakarta.

“Nama kecil MGR Soegijapranata adalah Soegija, dan menambahkan kata ‘pranata’ di belakang namanya setelah ditahbiskan jadi pastor pada tanggal 15 Agustus 1931,” ucapnya.

Namun sebelumnya MGR Soegijapranata telah melewati masa-masa kecilnya dengan studi di sekolah Katolik Xaverius Muntilan karena ingin mendapatkan ilmu yang berkualitas walaupun pada awalnya beliau masih belum beragama Katolik.

Kemudian melanjutkan studinya ke Belanda pada tahun 1919 dan berhasil menyelesaikan juniorate calon biarawan Serikat Yesus dan sempat kembali di Indonesia serta menjadi guru, namun pada tahun 1928 kembali melanjutkan studi teologi di Belanda hingga ditahbiskan pada tahun 1931.

Dalam kehidupannya MGR Soegijapranata dari kecil hingga dewasa, banyak mendapat pendidikan karakter dari Bapak dan Ibunya tentang kesederhanaan, olah batin, dan kebijaksanaan hidup melalui kesenian.

Dan perhatiannya terhadap nasib bangsanya yang saat itu baru saja merdeka, ditambah kecintaannya pada tanah air telah mendorongnya untuk terlibat aktif di dalam masyarakat apalagi dengan ditunjuknya beliau menjadi vikariat apostolic Semarang semakin mendorongnya lebih banyak berkiprah dalam perjuangan kemerdekaan melalui surat-suratnya ke Vatikan, pelestarian budaya lokal dan perubahan di lingkungan gereja, diantaranya memberikan izin penggunaan gamelan dalam pelaksanaan liturgi dan bentuk kesenian ketoprak serta wayang orang yang mendapat perhatian karya misi gereja, terang  Ignatius Eko dalam paparannya.

Sementara Rikarda Ratih Saptaastuti SSos MIKom yang berkesempatan menyampaikan paparannya pada sesi kedua berfokus pada ‘MGR Alb Soegijapranata dalam Adaptasi Gereja di Pulau Jawa’.

“ Perlunya unsur adaptasi dengan budaya dan lingkungan dalam kerasulan gereja perlu diperhatikan. Dengan tujuan agar penduduk menyambut baik pewartaan injil dengan menyerahkan diri pada Kristus dan ajaranNya secara penuh tanpa merusak kepribadiannya dalam iklim kebangsaan yang menjadi milik mereka,” kata Ratih.

Demikian pula MGR Alb Soegijapranata juga memberikan semangat kepada para seniman untuk berkarya mendukung tugas kerasulan Gereja. Serta mendorong adaptasi bahasa dalam liturgi kegerejaan, sehingga tahun 1956 beliau memberikan izin di vikariatnya untuk menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa daerah, tandasnya. (FAS)

Kategori: ,