Program Pertukaran Pelajar, saatnya Belajar Tak Melulu Berada di Bangku Kelas
Sabtu, 20 Maret 2021 | 9:49 WIB

image

Implementasi kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang digadang oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) di antaranya adalah pertukaran pelajar.

Program pertukaran pelajar memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menjalani pendidikan di luar kampus atau di luar program studi yang ditempuh. Nyatanya, berbagai perguruan tinggi di Semarang sudah menjalankan program tersebut.

Rektor Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang, F Ridwan Sanjaya mengatakan, Unika berkomitmen dalam penyelenggaraan pembelajaran perkuliahan MBKM dengan menggandeng Nationwide University Network in Indonesia (NUNI) dan Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK). Termasuk dalam hal pertukaran pelajar.

"Jadi sejak 2017 itu kita sudah membangun beberapa sistem yang ada kaitannya dengan magang kerja, KKN atau KKU. Demikian pula program-program yang ada kaitannya dengan kreativitas mahasiswa serta pertukaran pelajar," kata Ridwan.

Ridwan menuturkan, Unika siap untuk menghadapi yang namanya disruptive innovation sehingga berbagai hal yang dikembangkan sejak 2017 bertujuan untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada mahasiswa, baik secara langsung maupun secara tidak langsung, misalnya dalam bentuk digital.

Wakil Rektor I Bidang Akademik Unika Soegijapranata, Cecilia Titiek Murniati menjelaskan, Unika Soegijapranata berusaha untuk mewadahi dan melaksanakan Program MBKM yang dimulai oleh pemerintah sejak awal tahun 2020 hingga sekarang.

Tentu saja hal ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kompetensi lulusan baik hardskill maupun softskill agar lebih siap dan relevan dengan kebutuhan zaman. Kemudian menyiapkan lulusan sebagai pemimpin masa depan bangsa dan memfasilitasi mahasiswa mengembangkan potensi sesuai minat dan bakat yang dimiliki.

"Unika Soegijapranata sudah melaksanakan program-program yang ada kaitannya dengan MBKM dengan memberi kesempatan baik kepada para mahasiswa di Unika maupun yang ingin belajar di Unika untuk memperluas pengetahuannya," paparnya.

Dikatakannya, program pertukaran pelajar sudah disiapkan sejak Agustus 2020 lalu bekerjasama dengan NUNI dan APTIK. Selanjutnya dari proses pendaftaran dan seleksi yang dilakukan sejak Desember 2020 hingga Februari 2021, terdapat 18 mahasiswa luar Unika yang terpilih mengikuti program tersebut dengan mengikuti perkuliahan di Unika.

Yaitu dari Universitas Bina Nusantara, Universitas Sanata Dharma,  Universitas Padjajaran, Universitas Kristen Petra, Universitas Islam Indonesia, dan Universitas Kristen Maranatha.

"Kita akan melaksanakan MBKM dalam bentuk pertukaran pelajar bersama jaringan NUNI dan APTIK," jelasnya.

Sementara untuk jaringan APTIK, katanya, ada 9 mahasiswa Unika Soegijapranata yang mengikuti pertukaran pelajar di Universitas Atmajaya Jakarta dengan mengambil mata kuliah Indonesian Culture and Multiculturalism.

Sebelum mengikuti program, para mahasiswa mendapatkan pembekalan teknis, tentang bagaimana kuliah di Unika, bagaimana presensinya, kemudian learning management systemnya seperti apa.

"Harapannya, para mahasiswa yang belajar di Unika dari perguruan tinggi lain, maupun para mahasiswa Unika yang belajar ke perguruan tinggi lain dapat merasakan manfaat dari program MBKM," harapnya.

Para mahasiswa yang pernah menjalani program pertukaran pelajaran, merasakan banyak manfaat yang diperoleh selain kesempatan menempuh pendidikan di luar kampus. Di antaranya dapat mempelajari budaya lokal.

Belajar Budaya Lokal

Mahasiswa Universitas Katolik (Unika) Soegijaptanata Semarang, Steven Fernando yang pernah mengikuti program pertukaran pelajar ke Providence University Taiwan, mengatakan, dirinya harus menyiapkan beberapa hal untuk mengikuti program tersebut.

Di antaranya proposal, pembuatan visa, kemudian penyediaan dana cadangan apabila dana dari pemberi beasiswa belum diterima. Serta pemilihan mata kuliah yang akan dipilih.

"Pengalaman yang kita dapat selama di Taiwan sangat banyak, seperti bertemu dengan orang-orang baru dari Eropa, Amerika, Australia, China, serta dari beberapa negara lain yang memiliki background yang berbeda tapi bertemu di tempat yang sama," ungkapnya.

Selain itu, dirinya juga belajar bahasa Mandarin di kelas Mandarin dan mendapatkan perkuliahan yang menarik. Kemudian juga berkesempatan belajar kebudayaan Taiwan dan budaya lainnya serta sempat mengajar bahasa Inggris di sekolah TK atau di SD di Taiwan selama beberapa hari.

"Saya mendapat koneksi dan pengetahuan yang luas selama mengikuti program student exchange (pertukaran pelajar–red)," akunya.

Sementara itu, Sekretaris Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah VI Jawa Tengah, Lukman mengatakan, adanya kampus merdeka-merdeka belajar diperlukan adanya perubahan mindset.

Dikonversi 20 SKS

Setiap program yang dilaksanakan selama 1 semester yang nantinya dikonversi sama dengan 20 SKS. Karenanya, ketika mahasiswa kuliah, harus sudah memiliki bayangan pekerjaan sejak semester awal kuliah.

"Oleh karena itu, didesain mahasiswa tidak belajar di kampus selama 3 semester. Mereka bisa menjalankan program magang, riset, pertukaran pelajar dan program lainnya. Nah program itu nanti dikonversi 20 sks," kata Lukman.

Saat ini, aplikasi kurikulum tersebut baru sebatas penerapan kurikulum. Untuk bisa menerapkan kurikulum tersebut, perguruan tinggi diharuskan mencari mitra yang digunakan untuk menjalankan berbagai program.

"Kesiapan program studi sangat penting untuk bisa menjalankan itu. Karena program studi sebagai pemberi keilmuan kepada mahasiswa. Prodi harus memetakan mahasiswanya nanti akan dibawa kemana. Yaitu dengan menyiapkan mitra sebaik

sumber: https://jateng.tribunnews.com/2021/03/19/program-pertukaran-pelajar-saatnya-belajar-tak-melulu-berada-di-bangku-kelas?page=all.

berita serupa:

https://jateng.tribunnews.com/2021/03/19/perguruan-tinggi-di-semarang-sudah-jalankan-program-pertukaran-pelajar-sebelum-adanya-mbkm

Kategori: