PDIL Unika Hadirkan Dua Narasumber dari Nederland dan Belgia Bahas Polusi Plastik
Rabu, 10 Maret 2021 | 17:22 WIB

Dr Ansje J Lohr dari Open University Netherlands saat paparkan materinya

Program Doktor Ilmu Lingkungan (PDIL) Unika Soegijapranata pada Jumat lalu (5/3) telah menghadirkan dua narasumber Dr Ansje J Lohr dari Open University Netherlands dan Dr Fank Van Belleghem dari Hasselt University Belgium, dalam serial diskusinya yang kali ini membahas topik “The PDIL International Discussion Series on The Ecological Challege of Plastic  Pollusion.”

Acara yang dimoderatori oleh Prof Dr Y Budi Widianarko MSc ini diikuti oleh dosen dan mahasiswa  S3 PDIL Unika Soegijapranata dan pemerhati lingkungan.

Dalam paparannya, Dr Ansje J Lohr yang menyampaikan materi pada sesi awal, tampak menjelaskan status terakhir pencemaran sampah plastik di dunia, termasuk diantaranya di Indonesia sebagai negara peringkat dua atau nomor dua di dunia setelah Cina, penghasil sampah plastik ke lautan.

“Pencemaran plastik di dunia belum ada tanda-tanda menurun karena kemelekatan manusia dengan plastik, tetapi juga sudah banyak aktifitas atau kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing negara di dunia, untuk berusaha mengurangi limbah plastik,” jelasnya.

Khusus untuk Indonesia, Dr Lohr menyinggung bahwa komitmen pemerintah Indonesia untuk mereduksi limbah plastik merupakan hal yang positif. Namun implementasi dari komitmen tersebut masih memerlukan waktu atau belum ideal.

Padahal pencemaran limbah plastik itu akan berujung pada terurainya limbah plastik menjadi partikel-partikel plastik yang berukuran kecil, microplastics dan nanoplastics, imbuhnya.

Kemudian partikel renik plastik yang kecil tadi, jika tidak dikendalikan akan berdampak pada ekosistem dan kesehatan manusia, maka menurutnya diperlukan kerjasama antar negara dan antar bidang ilmu serta antar aktor baik eksekutif, legislatif atau peneliti di dalam masyarakat untuk mereduksi pencemaran plastik.

Sedangkan Dr Fank Van Belleghem memaparkan dengan sangat jelas resiko pencemaran microplastics terhadap ekosistem dan kesehatan manusia. Dalam ceramahnya, Dr Frank mengungkapkan hasil penelitian terbarunya menggunakan sel manusia yang dipaparkan pada partikel microplastics.

Salah satu temuan yang paling penting dan memunculkan keprihatinan ternyata partikel yang berukuran kecil mampu menembus saluran pencernaan.

“Temuan ini sangat serius karena berpeluang untuk terjadinya penyebaran microplastics ke dalam peredaran darah dan organ-organ tubuh seperti ginjal dan hati,” ucapnya.

Kontaminasi partikel plastik di dalam tubuh manusia itu terkait dengan tiga skenario peracunan (toksisitas) yaitu (1) toksisitas oleh partikel (2) toksisitas oleh bahan kimia plastik, dan (3) toksisitas senyawa-senyawa pencemar yang menempel pada partikel plastik.

Penelitian Dr Frank tentang efek microplastics terhadap kesehatan manusia tersebut melibatkan sejumlah perguruan tinggi di Belanda dan Unika Soegijapranata.

Kerja sama antara Dr Ansje J Lohr dan Dr Fank Van Belleghem dengan Unika telah berlangsung dalam lima tahun terakhir, khusus untuk Dr Lohr pernah bekerja di Unika Soegijapranata selama menyelesaikan program S3 nya beberapa tahun yang lalu.

Dalam kesempatan tersebut, peserta diskusi diundang untuk terlibat dalam kolaborasi riset dan advokasi pencemaran microplastics. Dan kesimpulan dari diskusi tersebut bahwa pencemaran microplastics seolah-olah seperti “Bom Waktu” kimia, yang bisa punya konsekuensi sangat serius apabila tidak dikendalikan sesegera mungkin, terutama di negera-negara yang padat penduduk seperti Indonesia dengan penggunaan plastik yang masih tinggi.

Dan persoalan plastik tidak hanya menjadi persoalan pemerintah dan para peneliti saja tetapi perlu juga melibatkan semua pihak dalam masyarakat termasuk industri dan dunia bisnis.

Sedangkan bagi masyarakat diharapkan bisa melakukan hal-hal sederhana yang bisa turut mengurangi limbah plastik dengan (1) menghemat atau mengurangi penggunaan plastik dengan cara tidak menggunakan plastik sekali pakai (single-use plastics), (2) memperbaiki dan mengoptimalkan proses pengumpulan sampah plastik sehingga tidak masuk ke badan air seperti sungai dan laut, tutup Prof Budi mengakhiri diskusi yang dilakukan secara online tersebut.

Kategori: ,