Menjadi jembatan Perdamaian
Rabu, 10 Maret 2021 | 9:08 WIB

TRB 10_03_2021 Sebagai Jembatan Perdamaian

Oleh: Aloys Budi Purnomo, Kepala Campus Ministry Unika Soegijapranata 

BARU-BARU ini Paus Fransiskus melakukan perjalanan ziarah kemanusiaan dan kebangsaan ke Irak 5-8 Maret 2021. Seperti dijelaskan melalui video sehari sebelum keberangkatannya ke Irak (Vatican.va, 4/3), Paus Fransiskus mengatakan bahwa perjalanan ke Irak adalah perjalanan untuk perdamaian. Menarik bahwa salah satu tujuan yang disasar adalah Mosul, yang pernah menjadi markas ISIS. Di atas puing-puing akibat perang itulah, Paus Fransiskus berdoa untuk perdamaian dunia. Dasarnya, semua orang adalah saudara.

Dalam perjalanan itu, Paus Fransiskus juga bersilaturahmi dengan Imam Besar Ayatollah Sayyid Ali Al-Husaymi Al-Sistani di Najaf (6/3). Perjumpaan dengan Paus Fransiskus membuat Imam Besar al-Sistani menegaskan bahwa otoritas pemimpin agama berperan penting untuk melindungi Umat Kristen di Irak. Semua harus hidup dalam perdamaian dan menikmati sukacita hak yang sama seperti warga Irak lainnya.

Paus Fransiskus pun berterima kasih kepada Ayatollah Ali al-Sistani dan umat Islam di Irak yang telah menyuarakan pembelaan terhadap yang paling lemah dan yang paling teraniaya di masa-masa paling keras dalam sejarah Irak saat ini. Paus Fransiskus juga menegaskan bahwa pesan perdamaian Imam Besar al-Sistani meneguhkan kesucian hidup manusia dan pentingnya persatuan bagi masyarakat Irak. Kunjungan bersejarah ini meneguhkan pula perlunya kerja sama dan persahabatan antara komunitas-komunitas yang berbeda secara agama.

Perjumpaan Paus Fransiskus dengan Ayatollah al-Sistani di Najaf, Irak, mengingatkan kita pada perjumpaan dan silaturahmi Paus Fransiskus dengan Sheikh Ahmad Muhammad Al-Tayyeb, Imam Besar Masjid Al-Azhar di Dubai, tanggal 3-5 Februari 2019. Kunjungan Paus Fransiskus ke Emirates Arab kala itu dan ke Irak baru-baru ini adalah kunjungan pertama seorang Paus sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma ke wilayah Semenanjung Arab.

Selama masa kepausannya sejak tahun 2013, Paus Fransiskus telah mengunjungi negara Muslim sebanyak 7 kali. Makna dasar dari kunjungan tersebut adalah implementasi pentingnya saling pengertian dalam relasi Kristen-Islam, khususnya Kristen Katolik, yang sejak Konsili Vatikan II (1962-1965) memiliki relasi yang semakin baik dan harmonis dengan Islam dibandingkan masa-masa sebelumnya.

Baik Ayatollah al-Sistani maupun Sheikh al-Tayyeb, menyambut kunjungan Paus Fransiskus dengan spirit Islam sebagai rahmatan lil alamin. Di tengah pergolakan sosial politik di Turki maupun di Mesir, al-Sistani maupun al-Tayyeb dikenal sebagai sosok Muslim yang kerap mengambil jalan perdamaian. Selama ini, al-Sistani dan al-Tayyeb aktif menangkal pengaruh ISIS dalam konteks global. Karenanya, para tokoh nomor satu di dunia, Katolik dan Islam, amatlah relevan dan signifikan untuk direfleksikan, termasuk dalam konteks Indonesia, sebagai negara terbesar berpenduduk beragama Islam terbesar di dunia.

Perdamaian
Perjumpaan Paus Fransiskus dengan Ayatollah al-Sistani dan Sheikh al-Tayyeb mengukir sejarah perdamaian dunia melalui kerukunan dan kemanusiaan. Perjumpaan mereka menjadi ungkapan simbolik amat signifikan dalam memutus rantai konflik yang pernah terjadi, bahkan menyembuhkan luka dengan empati dan saling pengertian.

Baik perjumpaan Paus Fransiskus dengan Ayatollah al-Sistarii maupun Sheikh Al-Tayyeb amat signifikan mengingat di tingkat global, Islam dan Katolisitas (termasuk Kristianitas) merupakan agama yang paling banyak dianut umat manusia. Ketika realitas mayoritas mengusung perdamaian bersama, dapat dipastikan bahwa perdamaian pun akan menguasai percaturan global.

Silaturahmi Paus Fransiskus dengan Ayotollah al-Sistani dan Sheikh al-Tayyeb menegaskan pentingnya keberpihakan kepada kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel (KLMTD). Sesuai agama masing-masing, iman menuntun umatnya untuk memandang dalam diri sesamanya sebagai saudari-saudara yang saling mendukung dan mengasihi.

Semua Bersaudara
Kunjungan Paus ke Irak, perjumpaan dengan Ayatollah al-Sistani dan Sheikh al-Tayyeb bertajuk, "Kita semua bersaudara. Diajarkan pula bahwa agama seharusnya mengidentifikasikan diri dengan KLMTD. Dengan demikian, keadilan dan kerahiman bukanlah sekadar efek samping dari iman, melainkan buah dan landasannya. Paus Fransiskus, al-Sistani dan al-Tayyeb menyerukan, pentingnya persaudaraan dan perlindungan kaum lemah. Persaudaraan berlaku untuk semua orang di sepanjang jaman, melampaui suku bangsa dan agama.

Itulah persaudaraan insani yang ditandai sikap saling merangkul, menyatukan, dan menjadikan manusia setara. Perang menghancurkan, perdamaian memulihkAn kemanu-siaan yang terkoyak ekstremisme, intoleransi, perpecahan, kapitalisme tak terkendali, dan kecenderungan ideologis penuh kebencian yang memanipulasi.

Dalam arus krisis modernitas karena persoalan sosio-ekonomi dan moral-religius; kita semua diundang untuk menyembuhkan ketidakpekaan nurani. Problem modernitas dan moralitas harus mendorong kita meneguhkan persaudaraan insani. Dengan cara itu, keadilan, kesejahteraan, dan kerukunan pun dapat diwujudkan sebagai peradaban kasih persaudaraan insani.

Persis itulah yang dalam konteks Indonesia menjadi tantangan bersama, yakni peluang memperkuat persaudaraan nasional berdasarkan kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kebijaksaaan dalam musyawarah-rnufakat demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dengan landasan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Makna persaudaraan insani bagi Indonesia tidak lain adalah hidup berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, dijiwai semangat Bhinneka Tunggal Ika dalam bingkai NKRI.

Kesatuan dalam keberagaman merupakan sebuah keniscayaan bagi terwujudnya persaudaraan insani di negeri ini. Perjumpaan silaturahim antara Paus Fransiskus dan Ayatollah al-Sistani maupun Sheikh Ahmad al-Tayyeb merupakan peneguhan bagi realitas Indonesia yang sepanjang sejarahnya sudah ber-DNA persaudaraan insani.

sumber: Tribun Jateng 10 Maret 2021 hal. 2

Kategori: ,