Tim Peneliti Unika Teliti Penggunaan E-Learning di Perguruan Tinggi
Senin, 22 Februari 2021 | 14:48 WIB

Sebagai perguruan tinggi yang mendapat mandat untuk mengejawantahkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, maka Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unika Soegijapranata pada hari Rabu (3/2) lalu telah mengadakan Diseminasi Penelitian dan Pengabdian Masyarakat yang didanai oleh Ristek-BRIN tahun anggaran 2020.

Diseminasi Penelitian dan Pengabdian Masyarakat tersebut dilaksanakan secara online melalui ruang virtual Unika.

Salah satu pemateri dalam diseminasi tersebut adalah tim peneliti yang terdiri dari Dra Cecilia Titiek Murniati MA PhD, Dr Heny Hartono SS MPd, dan Albertus Dwiyoga Widiantoro SKom MKom, yang memaparkan mengenai judul penelitiannya “Pengaruh Sikap Terhadap E-Learning dan Self-Efficacy Terhadap Penggunaan E-Learning di Perguruan Tinggi”.

Dalam paparannya, Cecilia Titiek M PhD menguraikan faktor-faktor yang mempengaruhi e-learning dan penggunaannya di perguruan tinggi.

“Pada awalnya, pengusulan penelitian ini dimulai sebelum terjadinya pandemi Covid-19, dan ternyata setelah terjadi pandemi kita banyak menggunakan e-learning,” jelas Cecilia Titiek M PhD di awal paparannya.

Sebenarnya tujuan penelitian yang kami rancang ini cukup banyak, namun saya pilih yang paling utama yaitu apakah ada faktor lain yang mempengaruhi penggunaan e-learning, seperti misalnya literasi digital, tingkat kenyamanan teknologi, sikap terhadap e-learning dan e-learning  Self-Efficacy.

Dan saya tambahkan satu lagi tujuan penelitian berkaitan dengan pandemi Covid-19 dan kami buat secara kualitatif, yaitu mengetahui tantangan dan hambatan dosen mengajar di kelas daring, lanjutnya.

Peta jalan penelitian yang kami lakukan adalah pada model kebijakan penerapan e-learning. Jadi yang sekarang itu adalah tentang attitude, self-efficacy, intention to use e-learning  dan kemudian yang ingin saya lakukan setelahnya adalah organizational support, technical support for e-learning dan kemudian lebih kepada psikologi seperti self directing learning, dan yang terakhir adalah untuk mengetahui model penerapan kebijakan e-learning.  

Sedangkan mengenai metode dalam penelitian yang digunakan ada dua yaitu mixed method dengan menggunakan kualitatif terlebih dahulu pada tahun pertama, baru setelah itu menggunakan kuantitatif.

“Dengan demikian yang tahun pertama kami melakukan wawancara kemudian survei melalui daring, selanjutnya untuk tahun kedua yang dilakukan adalah melakukan survei kembali, karena pertanyaan dalam survei tahun pertama sudah diperbaiki, dan seterusnya dilakukan wawancara,” ucapnya.

Pada hasil pembahasan, ternyata kepuasan menggunakan e-learning itu banyak aspeknya sehingga kami lebih menekankan pada literasi digital, Technology Comfort Level (TCL), kepuasan mahasiswa terhadap kemampuan dosen menggunakan e-learning, dan kepuasan terhadap dukungan teknis.

“Jadi kepuasan mahasiswa dalam menggunakan e-learning itu dipengaruhi oleh dua hal yaitu sikap terhadap e-learning dan self-efficacy, yang keduanya sama-sama kuat pengaruhnya, tuturnya.

Sedangkan untuk dosen, ada sedikit perbedaan, karena ternyata integrasi e-learning di perguruan tinggi hanya dipengaruhi oleh literasi digital, sedangkan sikap terhadap e-learning dipengaruhi oleh TCL dan self-efficacy. Demikian juga self efficacy  dipengaruhi pula oleh sikap terhadap e-learning, literasi digital dan TCL. Jadi antara sikap terhadap e-learning dan self-efficacy itu sangat erat kaitannya.

Adapun hasil wawancara dengan dosen diketahui beberapa hal mengenai penggunaan e-learning dalam pembelajaran di perguruan tinggi, yaitu lebih praktis, materi bisa disimpan untuk  digunakan kemudian hari, menambah variasi dalam proses pembelajarannya, dan lebih hemat waktu dan tempat.

Sebaliknya muncul juga tantangan yang sering diutarakan oleh dosen yaitu bagaimana mengajar agar tidak membosankan, bagaimana mendorong mahasiswa untuk berpartisipasi, mahasiswa kurang ‘engaged’, kendala teknis yang tak terduga (misalnya listrik padam atau kuota terbatas), banyak distraksi, dosen tidak mengubah silabus sama sekali, dan sulit melihat dinamika kelas karena seringkali mahasiswa ‘off-cam’.

“Dalam pembahasannya, literasi digital yang tinggi dan TCL akan mendorong atau meningkatkan self-efficacy. Kemudian literasi digital dan kenyamanan terhadap penggunaan teknologi perlu diintegrasikan ke dalam kurikulum dan mata kuliah. Serta yang berikutnya adalah memberi tugas kelompok lebih banyak agar mahasiswa bisa saling belajar satu sama lain, perlunya dukungan institusi untuk implementasi e-learning, dan bantuan teknis merupakan hal yang wajib dilaksanakan,” tegasnya.

Untuk luaran dalam penelitian ini, tim sudah mempresentasikan hasil tahun pertama melalui kegiatan visiting scholar di Chang Jung Christian University ke Taiwan pada bulan Oktober 2019 untuk memberikan general lecture.

Selanjutnya untuk seminar, tim peneliti mempresentasikan hasilnya pada International Conference on Innovation in Education, konferensi kolaborasi dengan United Board, pad bulan Oktober 2019. Untuk tahun kedua, hasil penelitian dipresentasikan di ICERI, Yogyakarta, e-learning Forum Asia di Hong Kong, KLICELS di Malaysia, UICELL di Uhamka, Indonesia serta CamTESOL di Kamboja.

Luaran penelitian juga berupa 2 (dua) book chapter, 1 artikel di Jurnal of Education and Social Science yang terindeks Ebscohost dan DOAJ. 1 artikel di jurnal Cakrawala Pendidikan (terindeks Scopus, Q3) masih under review dan 1 artikel masih akan disubmit di jurnal Cakrawala Pendidikan. (FAS)

Kategori: ,