Sedang Sakitkah Masyarakat Kita?
Senin, 1 Februari 2021 | 8:43 WIB

image

Oleh: Ferdinand Hindiarto, Dosen Fak. Psikologi Unika Soegijapranata Semarang

BERLEBIHANKAH judul tulisan ini? Jika kita berani jujur mengakui, maka peristiwa demonstrasi menolak UU Cipta Kerja telah menjawabnya dengan sangat jelas. Demonstrasi yang berujung tindakan anarkis dan kriminal itu telah mengirim pesan kuat bahwa masyarakat kita memang sedang sakit.

Tindakan anarkis dan kriminal para demonstran hanya merupakan permukaan saja. Di balik itu semua jika diulik secara cermat, gejala-gejala masyarakat yang sakit terpampang dengan jelas. Telah beredar luas berbagai informasi, baik dalam bentuk berita maupun gambar bahwa sebagian besar (jika tidak mau disebut semuanya) demonstran tidak mengerti apa yang diperjuangkan. Mereka mempercayai informasi-informasi liar yang jelas-jelas bertentangan dengan fakta tentang substansi dari UU tersebut.

Bahkan bisa jadi koordinatornya pun belum membaca, mempelajari, apalagi mencermati isi dari UU itu. Hal ini tentu saja tidak hanya memprihatinkan, namun juga sangat menyedihkan. Berikutnya adalah hilangnya kesadaran secara kolektif bahwa saat ini sedang terjadi pandemi covid-19 yang jelas-jelas melarang orang untuk berkerumun. Bahkan untuk sebuah bahaya yang mengancam dirinya sendiri saja mereka abai. Apalagi jika bahaya itu mengancam orang lain, tentu saja sama sekali tidak ada dalam pikiran mereka. Dan puncaknya ketika mereka secara beringas merusak berbagai fasilitas umum.

Dalam perspektif ilmu psikologi, khususnya pendekatan humanistik, oleh salah satu tokohnya yaitu Erich Fromm, perilaku-perilaku para demonstran tersebut menggambarkan masyarakat yang sedang sakit. Sebagai psikolog humanistik yang berlatar belakang ilmu sosiologi, Fromm menyatakan, bahwa kepribadian adalah produk kebudayaan masyarakatnya. Jika memang demikian maka perilaku-perilaku demonstran tersebut lahir dari sebuah masyarakat yang sedang sakit.

Dalam teorinya, Fromm menyatakan bahwa sesungguhnya setiap individu memiliki nature untuk hidup penuh dengan cinta, keharmonisan dan produktif. Namun masyarakat yang sakit menciptakan ketidakpercayaan, kecurigaan dan permusuhan yang menghambat pertumbuhan pribadi-pribadi di dalamnya untuk hidup penuh dengan cinta, keharmonisan dan produktif. Sebaliknya masyarakat yang sehat membiarkan anggota-anggotanya untuk hidup penuh dengan cinta, kreatif dan akhirnya produktif.

Masih relevankah konsep Fromm untuk dinamika saat ini? Menurut penulis masih sangat relevan. Jika merujuk hasil survei World Happines Report 2020, tentang tingkat kebahagiaan negara-negara di dunia, jelas terlihat bahwa teori Fromm masih relevan. Finlandia, Denmark, Swiss, Eslandia dan Norwegia menduduki ranking 5 teratas, sedangkan Indonesia berada di urutan ke 92. Salah satu kriteria penilaian dari survei tersebut adalah adanya dukungan sosial antaranggota masyarakat. Maka jika kita mau jujur, hasil survei tersebut benar adanya. Masyarakat kita semakin jauh dari hal itu.

Bagaimana dengan kajian individual? Fromm menjelaskan, bahwa terdapat 4 ciri kepribadian individu yang sehat. Cinta yang produktif, pikiran yang produktif, kebahagiaan, dan suara hati. Jika kita melihat perilaku secara individu dari para pelaku demonstran kemarin jelas mereka memiliki kepribadian yang jauh dari sehat. Sehat tidaknya kepribadian seseorang terbentuk dari bagaimana cara individu itu memenuhi kebutuhannya.

Fromm menyatakan bahwa manusia memiliki 5 kebutuhan: membangun ikatan, transendensi, membangun hubungan yang mengakar, identitas sebagai pribadi yang unik, dan memiliki cara pandang terhadap dunianya. Tiap orang dapat memilih bagaimana memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu, yang oleh Fromm disebut sebagai pilihan yang kontradiktif. Individu dengan kepribadian yang sehat akan memenuhi kelima kebutuhan tersebut dengan pilihan cara yang berbeda dengan individu dengan kepribadian yang sakit. Misalnya individu dengan kepribadian yang sehat akan memenuhi kebutuhan transendensi dengan cara mencipta, sedangkan individu dengan kepribadian yang sakit akan memenuhinya dengan cara yang destruktif.

Untuk memenuhi kebutuhan cara pandang terhadap dunia, individu yang sehat akan membangun persepsi yang obyektif terhadap segala sesuatu yang dihadapinya, sedangkan individu yang sakit akan membangun persepsi yang subyektif agar sesuai dengan keinginannya. Dari penjelasan tersebut, sangatlah jelas bahwa perilaku para demonstran kemarin adalah individu-individu yang sakit. Dan itu semua menurut Fromm adalah produk dari masyarakat yang sakit pula.

Lalu, kita harus bagaimana ketika hidup di tengah masyarakat yang sedang sakit seperti ini? Seharusnya negaralah yang harus mengelola semua ini. Pendidikan adalah cara terbaik untuk membentuk pribadi-pribadi yang sehat. Presiden Jokowi pada awal kepemimpinan periode kedua menyatakan bahwa akan fokus pada pembangunan manusia, yang dikenal dengan slogan revolusi mental. Untuk itulah ada menteri koordinator pembangunan manusia dan kebudayaan. Namun harus jujur diakui bahwa sampai saat ini kita belum melihat tanda-tanda yang jelas tentang pembangunan bidang ini. Menteri Pendidikan dan kebudayaan pun masih berkutat dengan kurikulum. Jika pun kurikulum dapat dibenahi untuk lebih fokus pada membangun karakter, jalan untuk implementasinya bukan soal yang mudah. Mengimplementasikan kurikulum pelaku utamanya adalah guru. Jika merujuk pada hasil penelitian yang dilakukan PPIM UIN Syarif Hidayatullah (2018) di 34 provinsi, ditemukan bahwa sebagian besar guru telah terpapar paham radikal dan intoleran. Maka sebaik apapun kurikulum yang akan dihasilkan nanti, tidaklah mudah untuk implementasinya.

Dalam situasi seperti ini, tidak ada cara lain kecuali berharap pada institusi keluarga. Di institusi inilah pribadi-pribadi yang secara nature memiliki potensi baik dapat dibentuk menjadi individu dengan kepribadian yang sehat. Anak-anak harus didampingi dalam proses memenuhi kebutuhannya, agar mampu memilih cara-cara yang sehat, sehingga akan menjadi individu dengan kepribadian yang sehat, meskipun mereka harus hidup di tengah masyarakat yang sedang sakit. Semoga.

sumber: https://jateng.tribunnews.com/2021/01/29/opini-sedang-sakitkah-masyarakat-kita.

Kategori: ,