Peneliti Unika Hasilkan Aplikasi Sistem Peringatan Dini Gempa dan Tsunami serta Model “Kota Cerdas Tahan Bencana”
Selasa, 9 Februari 2021 | 10:53 WIB

Dr RR MI Retno Susilorini ST MT saat memaparkan materinya dalam acara diseminasi

Menjadi salah satu pemateri yang presentasi dalam acara diseminasi penelitian dan pengabdian masyarakat yang diprakarsai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unika Soegijapranata, tiga peneliti yaitu Dr RR MI Retno Susilorini ST MT, Prof Dr F Ridwan Sanjaya MS IEC dan Andre Kurniawan Pamudji S Kom, pada hari Rabu (3/2) memaparkan materinya tentang “Sistem Peringatan Dini Gempa dan Tsunami Berbasis Partisipasi Masyarakat.”

Penelitian yang didanai oleh Ristek BRIN ini merupakan penelitian tesis magister 2020 yang fokus pada sistem peringatan dini terhadap resiko bencana khususnya bencana gempa dan tsunami, seperti yang dipaparkan oleh Dr RR MI Retno Susilorini sebagai ketua peneliti.

“Indonesia memang rawan gempa dan tsunami karena terletak diantara lempeng-lempeng tektonik dunia dan persis di batas lempeng-lempeng tersebut merupakan daerah yang sangat rawan. Khusus untuk daerah Sumatera, salah satunya adalah di daerah Bandar Lampung yang merupakan daerah yang sangat rawan mengalami gempa dan tsunami,” jelasnya.

Disamping itu di sisi teluk Lampung itu juga terdapat gunung Anak Krakatau yang beberapa tahun lalu juga menimbulkan tsunami, bukan karena gerakan lempeng tektonik tetapi karena longsoran letusan gunung di dalam laut tersebut.

Oleh sebab itu akan sangat penting adanya sistem peringatan dini untuk dapat memperingatkan masyarakat, bersiap-siap dan segera melakukan tindakan penyelamatan, mungkin mengungsi atau mencari tempat yang lebih aman dan kemudian menggerakkan para pemangku kepentingan pada saat darurat bencana tersebut.

Dengan demikian sistem peringatan dini harus dibangun dan memang sudah dibangun, hanya  saja dalam beberapa hal, sistem peringatan dini tersebut belum mencapai kepada lapisan masyarakat yang paling bawah.

Sehingga dengan melihat kerawanan Indonesia terhadap bencana gempa dan tsunami ini  maka masyarakat harus mendapat akses terhadap informasi secara lebih cepat untuk mengurangi korban jiwa dan harta benda, tegas Dr RR MI Retno Susilorini.

Pada saat ini ada peringatan dini dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) dengan melalui satelit telah memberikan informasi yang lebih baik, namun sebenarnya  informasi ini juga bisa dibangun melalui masyarakat sendiri, sehingga sistem peringatan dini yang berbasis pada masyarakat ini pada saat terjadi gawat darurat bencana, masyarakat merasa terlibat dan tahu betul apa yang harus dikerjakan.

“Untuk itu kami membuat suatu aplikasi android yang mudah digunakan (user friendly) dan sederhana, sehingga bisa dioperasikan oleh setiap orang, terutama para orang dewasa yang tidak terlalu faham teknologi informasi pun bisa menggunakan,” lanjutnya.

Adapun tahap penelitiannya mencakup tiga kegiatan yaitu (1) pengumpulan data, (2) analisis dan penyusunan laporan, (3) diseminasi dan publikasi. Dengan indikator capaiannya adalah data primer, data sekunder dan pembuatan aplikasinya itu sendiri serta melakukan penyusunan model “Kota Tahan Bencana”.

“Kita juga melakukan survei untuk mendapatkan informasi bagaimana kita akan membuat aplikasi yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat,” ucap Dr RR MI Retno Susilorini.

Dari hasil survei tersebut kita mengetahui bahwa ternyata penduduk di Bandar Lampung, khususnya di Kampung Nelayan yang menjadi area penelitian kami ini minim dengan pengetahuan akan sistem peringatan dini gempa dan tsunami. Mereka pada umumnya hanya tahu sistem peringatan dini melalui SMS dari BMKG atau kentongan yang secara tradisional dilakukan.

Penyuluhan dan juga hal-hal lain seperti TAGANA (Taruna Siaga Bencana) juga tidak dilakukan di sana, sehingga kita menjumpai adanya ketidaksesuaian informasi dan juga kurangnya sumber daya manusia yang menjadi garda terdepan saat penyelamatan diri pada saat kejadian bencana.

Akhirnya kita bisa membuat sebuah aplikasi android yang berbasis Progressive Web Apps (PWA) dan kita beri nama “Sistem Peringatan Dini Terpadu Lampung” dengan beberapa fitur didalamnya.

Dan juga kita berhasil menyusun suatu model “Kota Cerdas Tahan Bencana” yaitu “Smart Resilient City”, yang merupakan model yang komperhensif dan berkelanjutan untuk kota yang mengimplementasikan pengurangan resiko bencana yang dipadukan dengan strategi ketahanan bencana dan disertai dengan kecerdasan (IT).

“Kesimpulan dalam penelitian ini adalah (1) partisipasi masyarakat terutama dengan kearifan lokal ini sangat besar dan penting perannya dalam pengurangan resiko bencana, khususnya bencana gempa dan tsunami, (2) informasi digunakan dalam membangun sistem peringatan dini kebencanaan sehingga kelompok masyarakat bisa menjadi agen penyampaian informasi terutama dengan adanya TAGANA, (3) Aplikasi berbasis android ini bisa dikembangkan lebih lanjut menjadi lebih bagus dan bisa digunakan terkait dengan big data yang lebih baik karena sementara ini masih menggunakan data-data yang terbatas, (4) Model “Smart Resilient City” atau “Kota Cerdas Tahan Bencana” adalah suatu perwujudan dari strategi  ketahanan bencana yang berbasis partisipasi masyarakat,” urainya.

Kita berharap dengan adanya aplikasi ini bisa mendukung resiko pengurangan bencana gempa dan tsunami sehingga mengurangi korban jiwa dan harta benda, tutupnya. (FAS)

Kategori: ,