Peneliti FTP Unika Teliti Limbah Single Use Plastic di Convenience Store
Selasa, 16 Februari 2021 | 13:48 WIB

Prof Dr Ir Y Budi Widianarko MSc saat memaparkan penelitiannya di acara diseminasi penelitian dan pengabdian masyarakat melalui zoom.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh tiga peneliti dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Unika Soegijapranata, yaitu Prof Dr Ir Y Budi Widianarko MSc, Inneke Hantoro STP MSc dan Novita Ika Putri STP MS, pada Rabu (3/2) telah dipresentasikan dalam acara diseminasi penelitian dan pengabdian masyarakat yang diprakarsai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unika Soegijapranata.

Penelitian yang didanai oleh Ristek BRIN ini meneliti tentang “Pengembangan Model Reduksi Timbulan Limbah Single Use Plastic Dari Produk Siap Santap di Convenience Store Berbasis Carbon Footprint dan Product Design,” dan dipaparkan oleh Prof Dr Budi Widianarko MSc.

“Dalam penelitian kami, pada intinya adalah tentang reduksi limbah single use plastic. Dan ternyata kita ketahui bersama bahwa penggunaan plastic packaging itu paling banyak dijumpai pada produk Food and Beverage (F&B), hal tersebut karena banyaknya keunggulan dari penggunaan plastic packaging ini, antara lain seperti: murah, higienis, tahan lama dan ringan. Bahkan menurut Kemeterian Lingkungan dan Kehutanan di Indonesia ternyata pengguna terbesar memang di Industri F&B yaitu sekitar 60%,” ungkap Prof Budi.

Sedangkan fokus dalam penelitian kami ini adalah ingin merespon tentang fenomena yang relatif baru yaitu kebiasaan makan di  Convenience Store atau mini market.  Yang dalam hal ini kami memilih kelompok Indomaret Point (IP) dan Indomaret Hybrid (IH) yang selama dimulai penelitian berjumlah sekitar 90 buah baik untuk IP maupun IH di Indonesia, dan berjumlah 9 untuk IP dan  8 buah untuk IH di Kota Semarang, lanjutnya.

Salah satu komponen utama dari limbah plastik yang dihasilkan oleh Convenience Store atau supermarket ini adalah SUP (Single Use Plastic) ini. SUP biasanya diasosiasikan dengan penjualan makanan atau minuman yang siap saji atau siap santap. SUP yang biasanya dihasilkan oleh Convenience Store adalah packaging materials dan alat-alatnya (seperti garpu, sendok atau pisau plastik), juga cups, sedotan, dan tas.

Tujuan dan Metode Penelitian

“Penelitian yang kami lakukan juga memiliki beberapa tujuan, yaitu melakukan estimasi kuantitas total dari limbah SUP melalui konsumsi langsung di tempat untuk produk-produk F&B di Convenience Store. Kemudian juga mengestimasi kuantitas limbah SUP yang kemudian dikelompokkan berdasarkan polymer types-nya dan dari kategori makanannya. Selanjutnya juga untuk mengkuantifikasi beban lingkungan dari limbah SUP yang dinyatakan dalam carbon footprint. Serta tujuan berikutnya adalah mengidentifikasi peluang untuk mereduksi limbah SUP melalui packaging design khususnya pada satu produk beverage,” tutur Prof Budi.

Adapun metode dalam penelitian kami, adalah dengan menggunakan metode observasi dan pada tingkat tertentu ada wawancara terbatas pada tiga outlet di masing-masing Convenience Store, baik Indomaret Point (IP) dan Indomaret Hybrid (IH).

Sedangkan skema pengamatannya, untuk hari kerja dilakukan selama tiga hari dan untuk weekend diambil dua hari. Kemudian pada masing-masing pengamatannya itu terdiri dari dua observasi pada jam sibuk, satu observasi pada jam sepi, dan satu observasi pada tengah malam. Dan setiap observasi mengambil waktu satu jam. Hal tersebut dilakukan secara berulang selama tiga minggu.

Jadi prosesnya adalah meliputi, (pertama) pemilihan convenience store, (kedua) kategorisasi produk-produk apa saja yang menghasilkan SUP, (ketiga) mengidentifikasi dan mengkarakterisasi limbah SUP yang digunakan untuk packaging, (keempat) penentuan kuantitas produk yang dijual selama per jam pengamatan itu, kemudian (kelima) estimasi kuantitas limbahnya, selanjutnya (keenam) estimasi carbon footprint-nya, jelas Prof Budi.

Mengenai pemilihan convenience store-nya menggunakan purposive sampling, sedangkan untuk food categories-nya kita mengacu pada Rhodes et.al (2017), dan kemudian untuk spesies plastic SUP-nya menggunakan Giacovelli (2018).

Dilanjutkan case study khusus pada minuman teh dalam kemasan yang dijual dalam convenience store tersebut. Hal tersebut kami lakukan karena ternyata kemasan minuman adalah penyumbang terbesar pada SUP.

Step untuk pengembangan model reduksinya, penelitian kami melibatkan observasi terhadap produk dalam kemasan tertentu yang dijual dalam supermarket atau  convenience store, kemudian melibatkan suara konsumen melalui sesi focus group, selanjutnya ada sesi Delphi yang melibatkan pendapat para ahli yang terdiri dari mereka yang bekerja di industri minuman, kemudian hasilnya adalah apa yang didapatkan dari observasi, sesi focus group dan Delphi ini digabung, diinteraksikan atau dikombinasikan untuk mendapatkan kira-kira arah opsi improvement di dalam packaging pengemasan minuman yang bisa mereduksi limbah, jelasnya.

Hasilnya secara natural, IP menghasilkan lebih banyak item per minggu dua kali lipat dari IH. Dari sisi carbon footprint, PET yang digunakan untuk kemasan minuman adalah menjadi penyumbang SUP terbesar. Demikian pula carbon footprint juga terbanyak dihasilkan oleh Beverage Packaging khususnya jenis polymer PET.

Sedangkan opsi untuk mereduksi limbah  SUP melalui packaging design itu bisa diidentifikasi yaitu (1) penggunaan bahan-bahan yang eco-friendly dan biodegradable, (2) modified return-deposit dan skema EPR, (3) penggunaan teknologi yang berbeda, dan (4) in mold-labelling.

“Dari sisi output penelitian kami, yang pertama dari sisi conference telah dilakukan dua kali yaitu di Open University of the Netherlands dan Fu Jen University, Taipei. Kemudian menghasilkan satu buku, berikutnya adalah journal articles masih dalam tahap submission,” tutupnya. (FAS)

Kategori: ,