Mengenal Lebih Dekat Konstruksi Bangunan yang Tepat di Daerah Rawan Bencana Menurut Pakar Teknik Sipil Unika Ir Widija
Jumat, 5 Februari 2021 | 8:21 WIB

image

Berada di jalur cicin api atau yang biasa disebut The Ring of Fire, menjadi salah satu alasan kuat mengapa Indonesia sering menghadapi bencana alam. Mulai dari gempa bumi, gunung meletus, hingga banjir yang kerap kali melanda di beberapa daerah.

Tentu dari kejadian tersebut menyebabkan dampak yang cukup parah bagi masyarakat yang sedang tertimpa musibah bencana alam itu. Termasuk rusaknya tempat tinggal karena konstruksi yang kurang kuat. Di suatu sisi, masih banyak masyarakat yang kurang mengerti secara detail tentang bagaimana menentukan konstruksi bangunan yang baik dengan perawatan yang tepat. Tak jarang, hal tersebut baru disadari ketika musibah itu telah usai.

Berkaca dari hal itu, Tim KUASAKATACOM mewawancarai Ir. Widija Suseno, W., MT. selaku pakar Teknik Sipil. Berikut penjelasan pria yang juga menjabat sebagai dosen di Fakultas Teknik Unika Soegijapranata ini.

Konstruksi Bangunan di Daerah Rawan Gempa

Perlu dipahami bahwa masyarakat tak perlu khawatir dengan kondisi lingkungan yang saat ini ditinggali, apakah daerah itu rawan gempa atau tidak. Karena setiap daerah sudah ada pemetaannya masing-masing, yang menentukan apakah daerah tersebut rawan atau aman terhadap ancaman gempa—dapat datang kapan pun waktunya.

Menurut Widija, setiap tahun pemetaan wilayah rawan gempa pun juga terus ditinjau dan sekitar 20-30 tahun sekali akan diuji secara berkala. Hal itu wajib dilakukan dan diinformasikan pada masyarakat, terutama mengenai perubahan-perubahan yang terjadi seperti penurunan maupun pergeseran tanah yang ada di suatu wilayah.

Setiap daerah yang sudah diuji secara berkala, akan diberi warna-warna tersendiri pada peta khusus mengenai daerah rawan gempa. Warna hijau menunjukan daerah yang masih aman dari ancaman gempa, warna kuning sebagai simbol bahwa daerah tersebut harus berhati-hati terhadap ancaman gempa, dan warna merah sebagai tanda bahwa daerah tersebut perlu mendapat perhatian lebih lantaran ancaman gempa yang kemungkinan akan sering terjadi.

"Terkhusus wilayah Semarang sebagian besar masih berwarna hijau, tetapi belakangan ini sudah mulai menuju ke arah kuning. Masyarakat tak perlu khawatir, namun tetap harus waspada," tuturnya.

Berbicara mengenai konstruksi, Widija menuturkan bahwa ada dua tipe konstruksi bangunan yang direkomendasikan dan sudah banyak dipakai oleh masyarakat, khususnya yang berada di daerah rawan gempa. konstruksi yang dimaksud ialah beton dan rangka baja.

Masing-masing konstruksi, entah itu beton maupun baja, mempunyai tingkat perawatan yang berbeda. Seperti halnya konstruksi baja, yang harus diuji sekitar 10 tahun sekali, terutama untuk antisipasi karatan yang dapat terjadi pada besi-besinya. Begitu pula dengan perawatan pada konstruksi beton, dengan waktu uji sekitar 30 tahun sekali, hal itu dilakukan juga untuk antisipasi air yang meresap dan mencegah karatan pada besi yang ada di dalamnya. Setiap tipe konstruksi juga mempunyai kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Kelebihan pada konstruksi baja apabila terjadi gempa, bangunan tidak langsung ambruk dan masih ada waktu untuk menyelamatkan diri. Tetapi kelemahan konstruksi baja ialah harus sering diperiksa dan uji masih layak atau tidaknya, karena mudah berkarat. Sedangkan kelebihan konstruksi beton, perawatan berkalanya cukup lama tetapi punya kekurangan ketika terjadi gempa, yaitu bangunan akan langsung ambruk. 

Bangunan Panggung Hidrolis dan Solusi Abrasi di Daerah Pesisir

Mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan, tentu masyarakat juga perlu tahu tentang bagaimana konstruksi yang tepat untuk mendirikan bangunan untuk mengantisipasi dampak bencana, terutama bagi masyarakat pesisir.

Widija menjelaskan apabila konstruksi di daerah rawan gempa seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, tidak direkomendasikan bagi masyarakat yang ada di pesisir. Karena konstruksi baja maupun beton akan mudah berkarat dan tak tahan dengan air dalam jangka waktu yang lama.

Ada jenis konstruksi lain yang lebih direkomendasikan dan dianggap cukup aman bagi daerah pesisir yaitu bangunan panggung hidrolis. konstruksi bangunan panggung hidrolis sendiri juga pernah Widija terapkan ketika mengadakan suatu penelitian di daerah rob, seperti di Kemijen Semarang pada beberapa tahun lalu.

Adapun lapisan dari bangunan ini berupa fondasi yang diberi baja yang dilapisi galvanis, sehingga lebih kuat dan tahan terhadap karat. Pada lapisan atas diberi bambu, yang secara berkala di pernis agar air tak langsung masuk ke pori-pori dan bambu bisa lebih awet. Sebelum dipasang, bambu juga dapat direndam dalam air mengalir. Hal itu agar bubuk atau tepung dalam struktur bambu dapat cepat larut dan tak mempengaruhi kualitas.

"Mengingat bangunan panggung ini menggunakan sistem hidrolis yang efektif dapat diatur naik maupun turun untuk menyesuaikan tinggi air. konstruksi ini juga lebih ekonomis dibandingkan dengan konstruksi lainnya," jelasnya.

Selain harus mengantisipasi kenaikan volume air, masyarakat yang tinggal di pesisir pun juga harus waspada dengan adanya abrasi. Abrasi biasa diakibatkan oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak.

Ada beberapa solusi yang direkomendasikan oleh Widija untuk mengatasi abrasi, salah satunya yaitu dengan diberi pasangan batu belah agar tanah tidak mudah amblas. Selain itu, masyarakat juga dapat bergotong-royong meluruskan aliran sungai, karena abrasi juga dapat terjadi apabila struktur aliran sungai berkelok dengan arus air deras yang menghantam tanah di sekitarnya.

*Berita di atas ditulis oleh reporter magang KUASAKATACOM Carol

 

sumber: https://kuasakata.com/read/berita/26497-mengenal-lebih-dekat-konstruksi-bangunan-yang-tepat-di-daerah-rawan-bencana-menurut-pakar-teknik-sipil-unika-ir-widija

Kategori: