Diseminasi Penelitian Telemedecine di LPPM Unika
Kamis, 11 Februari 2021 | 15:31 WIB

Diseminasi penelitian tentang Telemedecine secara online di ruang virtual Unika

Penelitian yang dilakukan oleh peneliti ini sudah berlangsung sejak tahun 2019 hingga 2020, dan merupakan kelanjutan dari hibah sebelumnya di tahun 2014 sampai 2015.

Dengan judul penelitian “Medical Device Centered Security Protocol  in Telemedicine System”, peneliti mencoba memaparkan materinya dalam acara Diseminasi Penelitian dan Pengabdian Masyarakat yang dibiayai oleh Ristek-BRIN serta difasilitasi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unika Soegijapranata, pada hari Selasa (2/2) di ruang virtual Unika.

Dalam paparannya,  YB Dwi Setianto ST MCs selaku peneliti menyampaikan tentang materi penelitian yang dilakukannya selama dua tahun.

“Dalam penelitian ini saya mencoba membuat sebuah protokol pengamanan di bidang infrastruktur di informatika, serta untuk mengetahui bagaimana sebuah alat medis dapat terlindungi dengan baik, dalam hal ini dilindungi dalam arti keamanan alatnya secara fungsional dan keamanan datanya,” terang Dwi Setianto.

Riset telemedis ini dimulai sebelum pandemi covid-19, dan menjadi semakin meningkat urgensinya ketika terjadi pandemi covid-19. Yaitu saat orang mulai  malas untuk ke rumah sakit, dalam arti seandainya bisa dilakukan dari rumah maka lebih nyaman dilakukan dari rumah, sehingga saya seringkali diminta memaparkan penelitian saya justru tidak di bidang teknik informasi tetapi justru di bidang kesehatan, lanjutnya.

Berikutnya juga dampak dari kemajuan teknologi industri 4.0 ke bidang kesehatan. Dalam hal ini, dari majalah Forbes menyimpulkan akan ada tiga yang terdampak yaitu yang pertama adalah digitalisasi, tetapi justru yang kemudian paling penting ialah yang kedua yaitu engagement tentang bagaimana mempertahankan pasien untuk tetap mengakses layanan kesehatan kita.

Sesudah itu yang ketiga adalah diagnostic. Namun dalam bidang diagnostic belum banyak contoh-contohnya, karena disini masih banyak teknologi yang belum disempurnakan.

Trend Homecare

Hal lain, dewasa ini alat-alat medis banyak dijual dimana-mana, sementara dalam kondisi pandemi ini, orang jika sakit bila bisa dirawat di rumah maka mereka memilih dirawat di rumah. Dan kondisi ini bukan hanya dipicu oleh pandemi, tetapi trendnya mulai naik sejak tahun 2017-2018 dengan trend homecare.

Hal tersebut bisa terjadi karena kadang orang sakit bukan hanya disebabkan sakit biologis saja tetapi juga sakit psikis, sehingga kadang-kadang karena kondisi tersebut apabila di rumah tidak merasakan sakit atau sakitnya tidak begitu terasa karena dekat dengan keluarga atau di rumah sendiri, maka dengan kondisi ini mengakibatkan trend homecare jadi semakin meningkat.

Dampak dari trend homecare ini, tentu akan muncul problem-problem yang menyertainya terlabih dengan banyaknya alat-alat medis yang dijual di masyarakat.

Dan yang lebih mengejutkan lagi, ada data dari source: Business Insider yang menyatakan bahwa pada akhir tahun 2020 akan terdapat 161 juta unit alat kesehatan yang akan tersambung ke internet untuk keperluan homecare dan sebagainya.

Problem yang ada di negara kita bahkan di seluruh negara yaitu bahwa alat-alat kesehatan itu harus dicek secara rutin oleh otoritas yang namanya BPFK atau LPFK yang sekarang berada di bawah Kementerian Kesehatan, dan bertugas untuk mengecek atau mengkalibrasi alat kesehatan secara periodik.

Jadi tidak boleh alat kesehatan yang tidak dikalibrasi atau dicek digunakan untuk menegakan diagnosa, karena akan mengakibatkan kesalahan dalam penegakan diagnosa, paparnya.

Sementara itu alat kesehatan yang direkomendasikan untuk penegakan diagnosa oleh undang-undang adalah yang dikelola oleh fasilitas kesehatan, apabila alat kesehatan dimiliki oleh perorangan maka alat tersebut tidak bisa untuk penegakkan diagnosa karena tidak secara rutin dikalibrasi oleh BPFK.

Namun demikian dalam telemedecine tentu bukti kalibrasi alat kesehatan tidak bisa dilihat, dan peneliti memberikan solusi dengan menggunakan alat protokol kesehatan yang memungkinkan alat kesehatan itu jika disambungkan ke telemedecine,  ia akan punya tatacara untuk mengirimkan validitas dan itu terhubung langsung dengan eHealth Device Authority Server  di LPFK.

Jadi apabila ada alat kesehatan yang digunakan belum terregister di LPFK maka di telemedecine akan ada mekanisme yang memberitahu ke tenaga kesehatan bahwa alat kesehatan tersebut belum terregister atau sudah expired.

Informasi itu harus bisa dipertanggungjawabkan secara aman, mekanisme ini juga harus diuji supaya memastikan bahwa tidak tembus dengan serangan-serangan keamanan yang biasa dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak berkepentingan.

Jadi penelitian ini adalah mendesain sebuah protokol  untuk mengamankan alat kesehatan itu, dan menginformasi validitas alat, kemudian mengujinya menggunakan teknologi penetrasi-penetrasi serangan keamanan dan load koneksi yang besar, serta pengujian teknologi acceptence calon pengguna yaitu LPFK provinsi Jawa Tengah.

Sehingga kira-kira yang dikerjakan dalam penelitian ini adalah bagaimana besok ketika era telemedecine orang bisa percaya dengan alat yang digunakan oleh para dokter  dan tenaga kesehatan bahwa alat kesehatan tersebut telah terkalibrasi atau belum, dibawah otoritas LPFK atau tidak, akan teramati secara teknologi.

Hasil penelitian saya diminta untuk didiseminasi di bidang hukum kesehatan, juga didiseminasi di Kementerian Kesehatan pada perawat gigi, demikian pula didiseminasikan di NUNI.

Menghasilkan juga book chapter ber-ISBN, menghasilkan dua hak cipta, dua conference terindeks SCOPUS di Thailand, dan satu laporan studi kelayakan yang sudah diserahkan ke pemerintah, tutupnya. (FAS)

Kategori: ,