Boraks Sering Disalahgunakan Pada Makanan, Begini Tanggapan Pakar Toxicology Unika Prof Budi
Senin, 1 Februari 2021 | 9:03 WIB

image

Penggunaan boraks pada makanan seringkali meresahkan masyarakat. Meski telah dilarang keras oleh pemerintah, masih saja ditemukan makanan yang mengandung boraks.

Zat kimia ini biasanya sengaja digunakan pedagang nakal agar bahan yang dijual tetap awet. Padahal zat kimia satu ini memiliki standar nol –tidak boleh ditemukan pada makanan. Selain itu boraks juga dapat membahayakan organ tubuh.

Terkait penyalahgunaan boraks ini, tim KUASAKATACOM mewawancarai Prof. Dr. Ir. Budi Widianarko, M.Sc yang merupakan pakar toxicology Unika Soegijapranata. Begini penjelasan  pria yang pernah menjabat sebagai rektor Unika Soegijapranata ini.

Otoritas Keamanan Pangan

Di Indonesia problem mengenai otoritas keamanan pangan masih jauh dari kata ideal. Terbukti dari masih banyak oknum yang menggunakan bahan pengawet terlarang ini.

Otoritas mengenai keamanan pangan atau pengawasan pangan Indonesia sendiri terbagi menjadi dua sektor. Untuk hasil produk industri dilakukan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

“Caranya mudah untuk mengetahui produk yang terdaftar BPOM, di kemasannya itu ada tulisan MD (Makanan Dalam Negeri) atau ML (Makanan Luar Negeri),” ucap dosen yang akrab disapa Prof Budi tersebut.

Sedangkan untuk produk yang dibuat usaha kecil dan mikro diawasi oleh pemerintah kota. Seperti di Kota Semarang melalui dinas ketahanan pangan juga bekerja sama dengan dinas kesehatan.

Tak bisa dipungkiri penggunaan boraks oleh usaha kecil tak lepas dari faktor otoritas keamanan makanan yang kurang baik. Hal ini yang kemudian menjadikan idealnya dengan realita menjadi berbeda.

“Misalnya seperti di Pasar Tiban, sayur ditaruh di jalan aspal sebenarnya nggak boleh. Itu seharusnya menjadi tanggung jawab dinas di unit level kota,” tuturnya.

Alternatif Lain

Efek dari boraks memang tidak langsung didapat setelah mengonsumsinya, tetapi dalam jangka pendek bisa membahayakan kesehatan. Maka perlu tindakan untuk menghilangkan kasus penggunaan boraks dan menggantinya ke pengawet alternatif lain.

“Itu sesuatu yang makin lama harus dikikis. Seperti berita ayam yang dicelup formalin, itu ciri dari sistem pengawasan pangan di negara yang masih miskin,” ucapnya.

Ia menjelaskan jika Indonesia ingin bergerak meninggalkan kemiskinan maka perlunya penggunaan bahan pengawet yang lebih baik dan tentunya dengan syarat pengawasan yang tepat.

Walaupun sebenarnya banyak alternatif pengawet makanan yang aman, tetapi selisih harga menjadi masalah. Mudah dan murah, menjadi alasan mengapa boraks banyak dipilih masyarakat.

Selain itu penggunaan pengawet yang hanya dibutuhkan sedikit, membuat masyarakat lebih memilih jalan pintas dan tidak mau repot untuk membayar lebih untuk barang bagus.

Melihat ini Prof. Budi mengungkapkan perlunya penyuluhan agar masyarakat lebih memahami bahaya dari boraks untuk makanan. Ia juga cukup yakin bahwa di masa depan kasus boraks ini tidak akan terjadi lagi.

Argumennya itu diperkuat melalui pernyaatan mengenai registrasi untuk industri makanan ke depannya. “Karena makanan-makanan industri kecil pun sekarang sudah mulai diregistrasi,” tutupnya.

*Tulisan di atas dibuat oleh Bela, reporter magang KUASAKATACOM

sumber: https://kuasakata.com/read/kiat/26187-boraks-sering-disalahgunakan-pada-makanan-begini-tanggapan-pakar-toxicology-unika-prof-budi

Kategori: