‘Narimo Ing Pandum’ di Tengah Himpitan Pandemi
Jumat, 15 Januari 2021 | 12:54 WIB

TRB 15_01_2021 Narimo ing Pandum

Oleh: Maria Elisabeth Krisanti Cahyarini, S.Psi., Magister Psikologi Unika Soegijapranata

ISTILAH ‘narimo ing pandum’ tentu sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Jawa, baik orang Jawa asli maupun pendatang yang menetap di Jawa. Istilah ini kerap kali diucapkan ketika seseorang sedang mengalami musibah atau situasi yang tidak mengenakkan.

Namun, hingga saat ini ternyata masih banyak yang kurang tepat dalam memahami dan menggunakan istilah ini. Narimo ing pandum seringkali diartikan sebatas sikap menerima dan pasrah sepenuhnya terhadap situasi atau musibah yang tengah dialami.

Pengartian tersebut tidak sepenuhnya salah, melainkan kurang lengkap. Unsur penerimaan dan keberserahan memang merupakan komponen utama dalam narimo ing pandum, tetapi letaknya di belakang, alias dilakukan belakangan.

Menurut Koentjaraningrat, narimo ing pandum adalah sebuah sikap penerimaan secara penuh terhadap berbagai kejadian di masa lalu, masa sekarang, dan segala kemungkinan di masa depan. Menurut Endraswara, narimo ing pandum merupakan sebuah cara untuk menata hati dan mengurangi kekecewaan apabila yang didapatkan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan atau diusahakan.

Jadi, sebelum seseorang melakukan narimo ing pandum, ada sebentuk usaha atau ikhtiar yang harus dilakukan tersebih dahulu baru kemudian berserah kepada Sang Pencipta. Komponen usaha dan ikhtiar inilah yang sering terlewat ketika membicarakan narimo ing pandum, sehingga seolah-olah orang yang narimo hanya pasrah saja menerima nasib tanpa berbuat apa-apa.

Miskonsepsi ini seringkali menimbulkan kesan bahwa orang Jawa cenderung pasif ketika dihadapkan pada masalah atau cobaan. Endraswara mengatakan bahwa narimo tidak semestinya diartikan sebagai sesuatu yang bersifat pasif.

Menurutnya, narimo memang identik dengan pasrah dan berserah pada kehendak Sang Pencipta, tetapi bukan berarti berhenti atau diam. Sebelum narimo, ada prinsip "ana dina ana upa" (jika masih ada hari, tentu ada rejeki) dan "ora obah ora mamah" (jika tidak berusaha maka tidak akan beroleh rejeki).

Kedua peribahasa Jawa tersebut menunjukkan bahwa laku atau usaha merupakan suatu keharusan. Jika diibaratkan sebagai tangga, maka usaha adalah anak tangga untuk menuju nasib, sedangkan narimo adalah susuran untuk berpegangan agar tidak terjatuh. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa narimo ing pandum justru lebih bersifat aktif dibanding pasif.

Karakteristik orang Jawa yang cenderung tertutup dalam bersikap, bertutur, dan berkarya sepertinya turut menyumbang terjadinya miskonsepsi di atas. Pribadi orang Jawa memang umumnya lebih tertutup, dan bahkan cenderung merendah.

Hal ini mencakup cara berbicara, bertindak, dan ekspresi emosi, sehingga orang Jawa seringkali diidentikkan dengan sifat lemah lembut dan rendah hati. Karakteristik inilah yang kemudian membuat laku atau usaha orang Jawa menjadi tidak tampak di permukaan.

Bagi orang Jawa, laku atau usaha memang tidak ditujukan untuk dipamerkan kepada orang lain melainkan untuk dijalani dan dihayati prosesnya oleh orang yang bersangkutan (mawas diri).

Prasetyo dan Subandi dalam penelitiannya menyatakan bahwa narimo ing pandum merupakan cara pengendalian diri masyarakat Jawa, yang bertujuan untuk menjaga agar tidak bersikap secara berlebihan dan tetap tenang serta fokus mencari solusi permasalahan.

Pengelolaan emosi
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa narimo ing pandum merupakan strategi coping otentik milik masyarakat Jawa, yang menekankan pada pengelolaan emosi guna menunjang kelancaran proses kognisi. Dengan terkendalinya emosi, maka proses berpikir dapat menjadi lebih fokus dan terarah untuk mencapai solusi atas situasi yang tengah dihadapi.

Narimo ing pandum terdiri dari tiga komponen utama, yaitu sabar (kesabaran), sukur (kebersyukuran), dan narimo (penerimaan).  Ketiga komponen tersebut tidak berdiri secara terpisah, melainkan saling terhubung satu sama lain.

Kesabaran tercermin melalui sikap lapang dada dalam menerima nasib. Kebersyukuran muncul setelah penerimaan nasib baik maupun buruk: jika nasib baik maka bersyukur dengan sukacita, jika nasib buruk maka tetap harus bersyukur karena bisa saja lebih buruk lagi dari itu.

Di sini tampak bahwa  narimo ing pandum sangat erat kaitannya dengan penerimaan diri dan berdamai dengan keadaan, untuk kemudian dilakukan introspeksi diri guna menjadi lebih baik di masa yang akan datang. Dengan kata lain, narimo ing pandum merupakan sandaran psikologis orang Jawa untuk menuju mawas diri.

Lantas, apa hubungan narimo ing pandum dengan pandemi saat ini? Bencana pandemi covid-19 yang tengah kita hadapi saat ini tentu membawa berbagai cobaan, kemalangan, dan kekecewaan bagi banyak pihak. Situasi tidak mengenakkan semacam inilah yang menjadi latar belakang disebut-sebutnya istilah narimo ing pandum. Kembali ke awal 2020 lalu, kita semua tentu memiliki berbagai rencana dan ha-rapan-harapan untuk setahun ke depan.

Namun, semua berubah dan bahkan terhenti atau kandas ketika pandemi covid-19 melanda. Sedih dan kecewa itu pasti, tetapi di situasi tersebut kita dituntut untuk bisa beradaptasi dengan cepat.

Di sinilah narimo ing pandum masuk sebagai jembatan mental, yang membantu kita untuk berdamai dengan keadaan hingga mampu terns bergerak maju. Sikap sabar, sukur, dan narimo betul-betul diuji di masa pandemi ini.

Sabar, untuk terus berusaha dan berihktiar di masa sulit, di antaranya dengan tetap produktif dibarengi dengan upaya menjaga kesehatan dan taat protokol kesehatan.

Sukur, untuk lebih menghargai karunia Sang Pencipta yang masih dapat dinikmati, misalnya kesehatan, kesembuhan, keluarga, dan waktu ekstra untuk lebih dekat dengan orang-orang terkasih di rumah. Terakhir, narima, untuk dengan ikhlas menerima segala pemberian Sang Pencipta, termasuk virus corona dan segala kesulitan yang menyertainya.

Dengan demikian, ketiga komponen dalam narimo ing pandum dapat berperan besar dalam menunjang kesehatan mental, khususnya di masa pandemi int. Sekalipun narimo ing pandum berasal dari budaya Jawa, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya bersifat universal. Semua budaya tentu memiliki nilai-nilai tentang usaha dan kerja keras untuk mencapai kehidupan yang lebih balk.

Semua agama dan keyakinan tentu mengajarkan untuk berserah dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, serta untuk senantiasa bersyukur. Narimo ing pandum membawa kita untuk bisa berdamai dengan diri sendiri dan situasi, serta belajar ikhlas dan lebih rnempercayakan hidup kepada Sang Pencipta.

Nilai-nilai tersebut semuanya baik dan dapat diterapkan secara universal, oleh siapapun dan dalam kondisi apapun. Oleh karena itu, di awal tahun yang baru ini mari kita belajar menerapkan narimo ing pandum untuk kesehatan mental dan spiritualitas yang lebih balk, khususnya di masa pandemi ini.

Sumber: Tribun Jateng 15 Januari 2021 hal. 2 

Kategori: ,