Meraup Rezeki lewat IT
Senin, 18 Januari 2021 | 9:40 WIB

SM 17_01_2021 Meraup Rejeki lewat IT

Di di tengah situasi pandemi Covid-19 sekarang ini dibutuhkan ide kreatif dan segar agar tetap bertahan dari berbagai gempuran himpitan ekonomi.

Termasuk yang tak kalah penting ialah kemampuan memanfaatkan informasi dan teknologi (IT)dalam meraup rezeki.

"Ketika Anda mulai bosan bekerja di dunia nyata, Anda dapat niencoba pekerjaan di dunia maya karena peluangnya besar, bisa menjadi ladang uang," kata Rini Febriani, penulis cerita sekaligus youtuber saat Ngobrol Virtual yang diselenggarakan Suara Merdeka Network(SMN) bersama Satgas Covid-19 melalui aplikasi Zoom Clouds Meeting, Kamis (14/1).

Selain Rini Febriani, Ngobrol Virtual bertajuk "Pandemi sebagai Titik Pijak Aksi dan Kreasi" yang dipndu Wapemred Suara Merdeka Triyanto Triwikromo dan Sekretaris Redaksi Suara Merdeka Setiawan Hendra Kelana itu menghadirkan sejumlah narasumber lainnya, seperti Ketua Komite Ekonomi Kreatif sekaligus Direktur Hysteria Adin Hysteria. Kemudian, Penyunting dan Penyusun Buku Corona Asyik Maria Kineta dan Evangeline Eunike, dan Psikolog dan penulis buku Abigael Wohing Ati.

Febriani melanjutkan, di saat pandemi Covid-19 seperti sekarang ini dibutuhkan suatu terobosan, misalnya membuat konten youtube. Konten youtube, kata dia, tidak boleh asal-asalan, harus unik dan menarik. Selain itu, kebaruan dari konten itu juga penting.

"Kemudian pandai melihat momen apa yang lagi hits saat ini. Kalau kita buat videonya buat biasanya langsung banyak penontonnya. Jangan lupa harus konsisten mengupload, karena sudah diamati penontonnya," jelas dia.

Ia mengaku keinginan bermain youtube sudah lama, namun karena belum bisa ngedit video akhirnya belum terlaksana. Bak gayung bersambut, di masa pandemi Covid-19 ini, temannya memberitahu ada bimbingan teknis (bimtek) secara daring dari Pusat Teknologi Komunikasi (Pustekkom) Kemendikbud tentang pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIk). Akhimya ia mengikuti pelatihan tersebut.

Empat Level
Dijelaskannya, ada empat level dalam pelatihan tersebut yang harus diikuti. Level pertama soal literasi, kedua soal implementasi, ketiga soal kreasi, dan level keempat soal berbagi. Dalam pelatihan tersebut, para peserta diajari cara mengedit video. "Misalnya soal implementasi, saya diberi tugas membuat vlog praktis, seperti cara mengajar pembelajaran jarak jauh dan harus di-upload di youtube. Di situ mulai muncul dilema, apakah saya bisa meng-upload video, menyelesaikan tugas ini," terangnya.

Ia mengaku awalnya tidak mengetahui soal editing video dan hal lain yang berkaitan dengannya. Berawal dari hal tersebut dan bertepatan saat pandemi, maka ia banyak memanfaatkan waktu luang belajar secara otodidak cara mengedit video melalui telepon seluler. Ternyata usaha tersebut membuahkan hasil. "Saya coba-coba iseng upload, temyata bisa. Setelah itu jadi kecanduan ngedit video sampai sekarang," ujarnya.

Setelah bisa meng-upload video di youtube, masalah lain muncul, yaitu soal ide konten. Ia mengaku sempat kebingungan terkait kontennya. Menurutnya, konten youtube harus unik, beda agar mampu menarik minat masyarakat untuk melihatnya. "Saya berpikir mau buat konten apa yang masih jarang dan unik, karena kalau tidak unik, orang tidak mau menonton video saya. Akhimya muncul ide tentang bahasa yang menjadi video pertama saya. Di sana terdapat informasi tentang bahasa. Yang kedua tentang sastra, karena keduanya belum terlalu banyak," ujamya.

Ia menjelaskan, khusus sastra diisi dialog dengan sastrawan muda, kemudian dokumentasi sejumlah kegiatan yang berhubungan dengan sastra seperti kemarin tawuran sastra di atelier cermai, dan lainnya. Ia melanjutkan, selain konten bahasa dan sastra, ada juga konten animasi. Konten animasi diisi dengan animasi pembacaan puisi. "Karena saya ingin masuk ke dunia anak-anak dan remaja supaya lebih mencintai puisi dengan segala keterbatasan yang saya miliki tersebut," terangnya.

Tak hanya itu, Febriani juga membuat film animasi dengan segmentasi kaum milenial sebagai penontonnya. Kemudian, ada juga konten edukasi yang berisi video-video pembelajaran dan kegiatannya di sekolah. Terakhir mengenai konten vlog yang diambil dari keseharian aktivitasnya, misalnya saat jalan-jalan ke tempat wisata atau saat bertemu dengan teman-temannya yang sekiranya obrolan tersebut berguna bagi masyarakat.

"Kebetulan saya pembina OSIS. Jadi saat proses pemilihan ketua OSIS, saya lakukan secara virtual. Pokoknya tentang pembelajaran, edukasi masuknya di situ," imbuhnya.

Ia mengatakan, sudah setahun terakhir ini tinggal di daerah terpencil sebagai abdi negara. Di daerah tersebut, kata dia, minim signal: Padahal ia sering mengikuti webinar. Karena itu, ia rela harus datang ke rumah temannya yang memiliki sinyal bagus.

sumber : Suara Merdeka 17 Januari 2021 hal. 16

Kategori: