Kenali Pandemic Fatigue dan Cara Mengantisipasinya
Jumat, 29 Januari 2021 | 14:41 WIB

Pelaksanaan acara bertemakan ‘Pandemic Fatigue’ di Instagram (IG) Live

Salah satu dosen Fakultas Psikologi yang juga seorang Psikolog Unika Soegijapranata, pada Rabu Malam (27/1) melalui Instagram (IG) Live bersama Host Unik Oke, telah menyelenggarakan acara  yang membahas topik tentang ‘Pandemic Fatigue’.

Dr Christine Wibhowo SPsi Msi Psikolog yang sejak awal pandemi covid-19, telah meng-upgrade kemampuannya dalam menggunakan berbagai media daring untuk melakukan kegiatan pembelajaran serta kegiatan sosialnya, tampaknya dalam sesi IG Live ini juga tidak ketinggalan untuk bisa sharing perihal pandemic fatigue.

Dalam wawancara singkat sebelum berlangsungnya IG Live, Dr Christine Wibhowo atau lebih sering disapa Ibu X-Tine, menjelaskan apa sebenarnya pandemic fatigue, yang istilah ini baru muncul semenjak pandemi covid-19.

“Pandemic fatigue itu gampangannya adalah kelelahan di masa pandemi covid-19,” ujar Ibu X-Tine.

Disebut lelah karena melakukan atau merasakan sesuatu tetapi tidak bisa mengetahui sampai kapan ujungnya.

Hal tersebut terjadi, karena pada awalnya kita menyangka pandemi ini tidak berlangsung lama, tetapi pada kenyataannya hingga kini kita belum tahu sampai kapan berakhirnya atau ujungnya.

Karena kondisi tersebut, maka banyak orang merasa lelah karena pandemic itu. Dan karena kelelahan itu, maka kesiagaan kita menurun, lanjutnya.

“Wujud kelelahan atau disebut kesiagaan menurun itu dalam hal seperti misalnya, mulai mengesampingkan protokol kesehatan yang sebenarnya pada awal pandemi sudah dipatuhi, yaitu 3M (menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak),” jelasnya.

Untuk mengantisipasi kondisi pandemic fatigue tersebut, maka kita perlu membuat ujungnya. Artinya, dalam pandemi ini kita membuat semacam lingkaran masa, yaitu pada saat awal pandemi covid-19 itu kita memasuki yang namanya lingkaran stres.

Nah, harusnya setelah masa itu kita langsung melangkah ke lingkaran berikutnya yaitu masa belajar, misalnya dengan memunculkan kebiasaan baru selain 3M yang dikampanyekan pemerintah, yaitu inovasi baru untuk mengantisipasi pembatasan karena pandemi, seperti contohnya adalah mau belajar dan bertanya penggunaan media komunikasi daring kepada orang yang berkompeten untuk keperluan perkuliahan, pertemuan, bisnis dan hal lainnya.

Karena hal tersebut adalah keniscayaan. Sebab apabila kita tidak mau melakukan inovasi baru atau istilahnya kita masih ‘berendam’ dalam masa stres, maka kita akan mengalami kelelahan akibat pandemi covid-19.

Selanjutnya setelah melewati masa belajar, maka kita akan memasuki masa memiliki kemampuan baru atau keterampilan baru, yaitu misalnya mengembangkan usaha yang tadinya dilakukan secara offline menjadi bisnis online, sehingga dengan demikian kita tidak akan bosan dan tidak lelah, tutur Ibu X-Tine.

Hal yang perlu disadari juga adalah pemanfaatan teknologi informasi dengan benar perlu kita lakukan, yaitu untuk membantu kita dalam mencapai prestasi baru.

Atau aktifitas pekerjaan dan hobi kita, tetap kita lakukan namun dengan format baru. Jadi tetap melakukan kegiatan yang sama seperti sebelum terjadi covid, tetapi dengan format yang baru sehingga ada ‘greget’nya, pungkasnya. (FAS)

Kategori: ,