Dua Mahasiswa Unika Jadi Narasumber Dalam Diskusi yang Diselenggarakan Suara Merdeka Network
Kamis, 14 Januari 2021 | 14:54 WIB

Pelaksanaan diskusi SM Network secara virtual

Sebuah refleksi yang diperlukan untuk bisa mencoba menata kembali peradaban kehidupan manusia pasca pandemi covid-19, telah coba dibahas dalam diskusi yang dilakukan dalam bentuk obrolan santai melalui ruang virtual zoom oleh Suara Merdeka Network  pada hari Kamis (14/1) dengan menghadirkan beberapa narasumber, diantaranya adalah dua mahasiswa Unika Soegijapranata yaitu Maria Kineta dan  Evangeline Eunike.

Dalam diskusi yang dipandu oleh Triyanto Triwikromo selaku Redaktur Pelaksana sastra harian umum Suara Merdeka, semakin menghipnotis para pemirsa acara diskusi yang mengikuti acara diskusi dan juga disiarkan melalui laman you tube.

Dalam pesan awal yang cukup menggelitik bagi para narasumber maupun pemirsa yang mencoba menebak arah isi diskusi yang bertemakan “Pandemi sebagai Titik Pijak Aksi dan Kreasi”, Triyanto Triwikromo mencoba membuka perbincangan dengan dua mahasiswa Unika dari Prodi Sistem Informasi Fakultas Ilmu Komputer Unika Soegijapranata, melalui pertanyaan korelasi antara pandemi covid-19 dengan kreativitas mahasiswa yang telah menulis buku bersama dengan 10 teman mahasiswa lainnya, dalam buku yang berjudul “Corona Asyik”.

“Apakah kreativitas para penulis atau mahasiswa ini muncul justru pada saat ada pandemi?” tanyanya kepada Maria dan Eva.

Merespon pertanyaan tersebut, Eva mencoba menganalogikan kreativitas sebagai sebuah kereta. “Kreativitas dapat dituangkan dalam bentuk apa saja salah satunya adalah menulis, dan melalui tulisan mungkin bisa memberikan motivasi kepada yang membaca. Tapi sebenarnya kreativitas itu bisa kita tuangkan kapan saja dengan bebas dalam bentuk apapun. Pandemi ini menjadi sebuah kereta bagi kita untuk lebih mengasah kreativitas diri kita, dan jangan sampai dengan pandemi berakhir, maka kreativitas kita juga akan berakhir,” paparnya.

Sedang Abigael Ati yang juga sebagai salah satu narasumber dalam acara diskusi tersebut menegaskan bahwa mengenai kreativitas biasanya orang menganggap sebagai trade, artinya orang sudah kreatif sebelum adanya pandemi, tetapi ketika ada pandemi ada masalah-masalah baru yang harus diselesaikan, sehingga harus ada problem solving untuk mengatasi masalah tersebut dengan kreativitas.

“Saya suka sekali dengan dosen Maria dan Eva yang memberikan project bagi para mahasiswa untuk membuat project sesuai dengan passion mereka selama pandemi tentang apa yang mereka alami. Kemudian ada juga peersnya yang membantu untuk saling memberikan masukan, sehingga dalam keadaan pandemi para mahasiswa itu bisa didorong untuk berpikir lebih lanjut apa yang harus lakukan selama pandemi,” ucap Abigael.

Sementara acara diskusi terus berlanjut dengan berbagai tanggapan dan pandangan mengenai pandemi sebagai pijakan kreativitas, selanjutnya pada sesi akhir diskusi  Triyanto Triwikromo sebagai pemandu diskusi menyimpulkan tentang topik diskusi, bahwa kita bisa meninjau ulang atau merefleksi siapa diri kita, karena begitu kita mengetahui siapa diri kita, maka situasi ini lebih bisa kita atasi dengan lebih baik, pungkasnya. (FAS)

Kategori: ,