Angka Kehamilan Tinggi kala Pandemi
Senin, 11 Januari 2021 | 11:05 WIB

TRB 11_01_2021 Angka kehamilan

Oleh: Katarina Rizky, Mahasiswi Fakultas Psikologi Magister Sains Unika Soegijapranata

DI tengah merebaknya virus corona atau COVID-19, masyarakat dihimbau untuk tidak banyak melakukan aktivitas di kerumunan. Berbagai sektor perusahaan pun memilih ‘merumahkan’ karyawan dengan melaksanakan pekerjaan dari rumah atau yang biasa disebut Work From Home (WFH).

Hal tersebut pun menimbulkam sejumlah fenomena baru. Salah satu fenomena unik yang terjadi di masa pandemi COVID-19 adalah meningkatnya angka kehamilan.

Dilansir dari Kompas.com, meningkatnya angka kehamilan terjadi akibat terhambatnya layanan kontrasepsi selama pandemi Covid-19 yang disebabkan oleh pasien yang ragu untuk memeriksakan kesehatan reproduksi ke fasilitas yang ada dikarenakan terdapat risiko untuk terkena Covid-19 di pusat kesehatan.

Hal ini cukup berbahaya mengingat pemeriksaan kehamilan cenderung menurun dan dapat menurunkan kualitas dari kehamilan dan kelahiran di Indonesia.

Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Selasa 19/5/2020 ada lebih dari 400.000 kehamilan tidak direncanakan pada saat pandemi Covid-19. Dan peningkatan tersebut, diproyeksikan bahwa angka kelahiran akan meningkat pesat di tahun 2021, diperkirakan akan ada 420.000 bayi akan lahir pada tahun 2021.

Dilansir dari Tribun Jateng (29 Juni 2020) salah satu kota dengan jumlah kehamilan naik mencapai 15% di masa Pandemi Covid-19 adalah di Kota Semarang. Hal ini disebabkan karena beberapa berkurangnya layanan KB yang membutuhkan bantuan petugas untuk pemasangan, namun di masa pandemi seperti ini sangatlah berisiko untuk datang ke rumah sakit ataupun puskesmas terdekat, karena bisa meningkatkan wabah corona.

Untuk mengurangi dampak buruk dari peningkatan ini, kepala BKKBN juga sempat merekomendasikan masyarakat untuk menggunakan alat kontrasepsi mandiri di tengah pandemi saat ini. BKKBN juga memberikan alat-alat kontrasepsi berupa IUD dan sebagainya ke rumah-rumah

Salah satu yang menjadi fokus BKKBN adalah warga di kota-kota yang lebih besar dengan pertimbangan apabila potensi ledakan penduduk ini tidak segera diatasi, ada kemungkinan angka kehamilan yang dadakan ini bisa melambung semakin tinggi dari angka rata-rata nasional dan mengakibatkan kualitas hidup yang menurun dikarenakan adanya hambatan pandemi COVID-19 baik dari sisi ekonomi maupun sosial pada keluarga.

Dampak dari kebiasaan WFH yang merupakan hal baru di Indonesia, yakni masyarakat memang tidak punya pilihan lain selain menghabiskan waktunya di rumah. Bahkan muncul omongan yang menyebut bahwa para pasangan di masa pandemi ini sangat terbatasi dalam melakukan aktivitas diluar rumah sehingga meningkatkan potensi angka kehamilan.

Guna mematuhi imbauan pemerintah untuk tinggal di rumah kecuali ada keadaan darurat yang mengharuskan ke luar rumah mengakibatkan interaksi suami istri semakin intens dan akhirnya dapat berpotensi kehamilan dikarenakan keluarga sudah jarang menggunakan alat kontrasepsi dan akses kepada alat kontrasepsi yang sulit di masa pandemi ini.

Padahal, kehamilan pada pasangan suami-isteri yang tidak direncanakan sangat berdampak buruk bagi kondisi keluarga pada masa pandemi ini. Hal tersebut bisa dilihat dari berbagai aspek, bukan hanya aspek kesehatan semata. Misalnya dari segi finansial, banyak keuangan keluarga di masa pandemi ini sangat bermasalah dan belum tercukupi. Selain itu, masalah lainnya jarak anak yang sebelumnya dengan kehamilan baru yang cenderung dekat tentu menimbulkan masalah kesehatan bagi sang ibu juga.

Untuk itu, saat ini peran pemerintah sangatlah dibutuhkan bagi masyarakat. Pemerintah diharapkan segera punya solusi untuk lebih menekan angka kehamilan di tengah Pandemi.

Berbagai hal bisa dilakukan, salah satunya yakni memberikan edukasi melalui udara atau menggunakan fasilitas internet. Alih-alih berkeliling secara masif, menggunakan media sosial dinilai cukup efektif untuk memberikan edukasi ke masyarakat. Sebagaimana diketahui, pengguna media sosial di Indonesia mencapai 160 juta jiwa atau hampir 60 persen penduduk di Indonesia.

Kedua, pernerintah harus melakukan intervensi untuk mendukung fasilitas kesehatan dalam memberikan pelayanan di masa pandemi ini. Pemerataan pemeriksaan rapid sebagai langkah skrining di beberapa fasilitas kesehatan penting dilakukan. Selain itu, menggratiskan pemeriksaan rapid kepada ibu hamil.

Di sisi lain, baru-baru ini di dunia sedang gencar memproduksi vaksin Covid-19. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), vaksin dapat mengurangi risiko terkena penyakit dengan memberikan pertahanan alami untuk melindungi tubuh kita. Untuk itu, vaksin tersebut diharapkan juga bisa menjadi solusi terhadap keamanan kehamilan ibu di masa pandemi. Namun, apakah Vaksin ini bisa dberikan dan diprioritaskan untuk ibu hamil? Inilah yang belum kita ketahui, padahal pertanyaan ini sangat meresahkan para ibunda yang sedang hamil, karena pada dasarnya ibu hamil lebih berisiko tinggi mengalami sakit parah akibat Covid- 19.

sumber: Tribun Jateng 11 Januari 2021 hal.2

Kategori: ,