(Tidak) Adakah Sumbangsih Milenial?
Jumat, 4 Desember 2020 | 10:06 WIB

TRB 3_12_2020 (Tidak) Adakah Sumbangsih Milenial

Oleh: LAUREL LIA NOLA, Mahasiswa Program Studi Rekayasa Infrastruktur dan Lingkungan

ANGGAPAN generasi senior yang menyepelekan kemampuan milenial untuk dapat, terlibat dalam pembangunan negara cukup membingungkan. Bahkan, salah satu tokoh bangsa dengan tajam menyentil sumbangsih milenial yang menurut beliau, hanya pintar berdemo (Megawati Tantang Milenial Debat: Apa Sumbangsih Kalian? Demo Saja Ngerusak, Tribun Jateng, 29/10/2020). Tidak ada kejelasan konteks dalam anggapan tersebut, jika kita berbicara tentang pembangunan negara, ada banyak unsur yang harus diperhatikan tidak melulu hanya tentang politik dan kebebasan berpendapat yang dianggap "terlalu" bebas.

Generasi milenial merupakan kelompok orang yang lahir antara tahun 1980 dan 1995. Sebagai kelompok, milenial dikatakan memiliki kesamaan lokasi dalam waktu sejarah yang dibentuk oleh peristiwa dan pengalaman yang terjadi pada saat itu (Eddy dan Johnson, 2015). Lingkungan tempat generasi milenial tumbuh selama bertahun-tahun mempengaruhi nilai, sikap dan perilaku mereka. Generasi milenial lahir pada zaman yang lebih sejahtera dari orang tua mereka hal inilah yang membuat generasi milenial dinilai malas, manja dan narsis.

Pelestarian Lingkungan
Pembangunan sebuah negara erat hubungannya dengan keberlanjutan atau sustainability. Secara umum, ada tiga aspek yang harus diperhatikan dalam tercapainya pembangunan yang berkelanjutan, yaitu aspek ekonomi, aspek sosial, dan aspek lingkungan. Ketiga aspek tersebut harus dicapai keberhasilannya untuk mewujudkan kehidupan negara yang baik secara khusus dan kelestarian bumi secara umum. Peran masyarakat, termasuk milenial, tidak diragukan lagi akan menjadi penentu kelestarian bumi.

Pelestarian lingkungan merupakan proses atau cara perlindungan yang dapat dilakukan untuk mencegah kemusnahan atau kerusakan lingkungan sekitar kita, pelestarian lingkungan juga ditujukan untuk meningkatkan sikap individu kita dalam melestarikan lingkungan. Harus ada upaya pelestarian yang dilakukan agar sumber daya. pada lingkungan hidup kita dapat bertahan selama mungkin yang bisa digunakan, dirasakan dan dinikmati oleh generasi-generasi yang akan datang atau berkelanjutan.

Stigma masyarakat tentang kurangnya peran milenial dalam membantu pengembangan pelestarian lingkungan sangat mencengangkan. Anggapan atas peran milenial yang diragukan kontribusinya dalam pembangunan Indonesia tidaklah sepenuhnya tepat, jika melihat pada lingkup terdekat pada keseimbangan ekosistem dan lingkungan, sumbangsih kaum milenial bukanlah hal yang nihil, bentuk partisipasi kaum milenial dalam menjaga kelestarian lingkungan dengan pengembangan teknologi dari campaign sederhana sampai dengan penciptaan teknologi mutakhir sudah ada dan harus diakui.

Peran Nyata Milenial
Ada banyak cara kaum milenial dalam berkontribusi dalam pelestarian lingkungan. Beberapa inovasi milenial telah menjadi bukti, antara lain inovasi alat yang dapat digunakan untuk membantu menjaga lingkungan seperti lampu seumur hidup yang dibuat dengan memanfaatkan bakteri dan tidak menggunakan listrik, lampu ini ditemukan dan diciptakan oleh tiga orang mahasiswa asal Universitas Brawijaya, penemuan lainnya adalah tempat sampah pintar yang diciptakan oleh mahasiswa asal Universitas Prasetiya Mulya yang dapat mengelompokkan jenis sampah menggunakan sensor. Selain penemuan inovasi alat menggunakan kecanggihan teknologi, kaum milenial juga mempunyai cara tersendiri untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan yaitu dengan membuat komunitas yang bergerak dalam lingkup lingkungan, baik dalam bidang konservasi lingkungan maupun komunitas yang mengajak masyarakat sekitar untuk peduli lingkungannya. Contoh komunitas-komunitas penggerak lingkungan yang ada di Semarang adalah komunitas Atmosphere, Kophi (Komunitas Pemuda Hijau), komunitas Lindungi Hutan, dan komunitas Bergerak.com.

Siapa Dirugikan?
Bicara tentang untung-rugi, kaum yang paling dirugikan saat ini adalah justru kami, generasi milenial dan generasi selanjutnya. Kami lahir di masa pembangunan yang telah massive dilakukan sehingga hutan yang hijau, gunung yang menjulang berpayung awan, sawah dan lautan biru dengan biota yang lengkap seperti yang sering kami gambarkan saat tugas menggambar kami saat TK nyaris menjadi imajinasi belaka. Sekarang, apa yang diwariskan generasi senior ke generasi milenial?

Alih-alih `rajin’ berdemo, generasi milenial sesungguhnya lebih peka mengenai isu-isu lingkungan yang ada di sekitar, bahkan gaya hidup anak muda sekarang sudah banyak berubah kebiasaan dan pola pikir mereka jauh lebih maju dad generasi-generasi sebelumnya. Sebagai contoh, kebiasaan bakar sampah yang masih sering dilakukan oleh orang tua yang hidup pada zaman sekarang tidak lagi oleh dilakukan kaum milenial karena dianggap sudah tidak relevan dan akan menganggu keseimbangan lingkungan, sebagai anak muda yang peduli lingkungan kita mencoba memberi penyuluhan akan tetapi yang didapatkan hanyalah omelan memang para milenial ini berbeda dalam memandang semua hal yang ada didunia. Pertanyaan yang perlu ditanyakan kepada semua generasi tidak hanya generasi milenial adalah sudahkah kamu berkontribusi?

Generasi milenial telah terbukti lebih peka dan mempunyai kesadaran yang tinggi, mereka dapat membuktikan dan mematahkan pendapat bahwa generasi milenial adalah generasi milenial yang tidak peduli dengan lingkungan. Generasi yang berbeda dan sangat kreatif yang memiliki berbagai cara menarik untuk menjaga lingkungan, melakukan upaya-upaya yang terkadang dianggap kecil namun ramah lingkungan yang diharapkan dapat berdampak besar bagi generasi-generasi selanjutnya. Kami, generasi milenial, cinta lingkungan, dan memberi sumbangsih nyata untuk tanah air. Bagaimana dengan anda?

►Tribun Jateng 3 Desember 2020 hal. 2

Kategori: