Mengelola Keuangan, Apakah Perlu? : Serial Pelatihan Pengembangan Soft Skills oleh SSCC bagi kelas Ilmu Komunikasi
Kamis, 17 Desember 2020 | 10:03 WIB

Keuangan Sehat, Pentingkah? 
Ini adalah tema terakhir dalam serial pelatihan siap kerja. Di saat semua materi tentang pengenalan diri sendiri dan hubungan interpersonal telah teratasi dengan baik, maka peserta seminar mendapatkan materi yang tidak terduga yaitu mengenai keuangan sehat.

Pengelolaan keuangan yang dimaksud adalah bagaimana diri sendiri mampu untuk dapat menggunakan gaji yang mereka dapatkan. Pengelolaan ini menekankan pada kebutuhan vs keinginan.  Di awal pelatihan, peserta ditanya akan beberapa hal yang menjadi kebutuhan, kemudian diarahkan ke penyusunan prioritas serta tabungan dan perencanaan investasi jangka panjang.

Materi pelatihan keuangan sehat ini diberikan dalam 2 kali pertemuan, yaitu simulasi keuangan sehat yang pada pertemuan pertama, kemudian pertemuan kedua adalah tentang teori inti. Saat simulasi, peserta memang peserta tidak diberikan materi apapun kecuali lembar kolom belanja. Mereka sendiri tidak tahu apa arti dari kolom tersebut sampai pada saatnya pak Alvon (fasilitator) mengajak peserta untuk mengikuti permainan simulasi.

Simulasi ini dibuat dengan tinjauan awal bahwa setelah menyelesaikan studi, maka peserta akan mencari kerja dan membelanjakan gajinya sedemikian rupa. Simulasi belanja dibagi menjadi 4 bagian, yaitu per minggu. Pada tiap minggu disajikan kasus yang berbeda, dimana ada kebutuhan utama yang harus dipenuhi, kemudian keperluan-keperluan lain yang menjadi “faktor pengganggu”. Artinya, tiap pribadi akan dapat mempunyai persepsi yang berbeda dalam memandang satu faktor yang ditampilkan.

Di akhir simulasi, peserta dapat melihat kondisi dana akhir, apakah masih ada uang di tangan atau malah minus dan harus utang ke pihak lain. Peserta ditanya penyebab terjadinya kondisi defisit, dengan mengulas pengeluaran-pengeluaran per minggu. Adakah pengeluaran yang kurang perlu, atau pengeluaran yang berlebih karena adanya persepsi berbeda. Ulasan-ulasan yang lucu, gayeng dan menyenangkan muncul dari peserta, karena rata-rata mereka belum memahami pengelolaan keuangan dengan baik.
Untuk lebih memahami benar tentang pengelelolaan gaji, fasilitator meminta peserta untuk membuat anggaran belanja selama 2 bulan berturut-turut dengan kondisi: jika berada di Semarang dan jika berada di Jakarta dengan gaji Rp.10.000.000 per bulan.

Memasuki pertemuan kedua, bu Yoel yang menyambung pertemuan akan keuangan sehat ini memulai dengan game tebak siapakah aku. Game ini bukan sekedar permainan, namun lebih menggiring tiap peserta untuk dapat mengetahui type diri, apakah introvert atau ekstrovert. Game yang dapat mencairkan suasana ini sangat penting dalam sebuah pelatihan ataupun perkuliahan dan pertemuan-pertemuan sejenis.
Seusai game, dilanjutkan dengan sedikit membahas tentang pertugasan anggaran belanja 2 bulan berturut-turut. Pembahasan menjadi semakin seru karena peserta berandai-andai memiliki gaji dan membelanjakannya sesuai kebutuhan dan keinginan mereka. Tugas disajikan dengan sangat kreatif pada 2 slide ppt. Ada peserta yang sangat rinci menuliskan anggaran belanja-tabungan, namun ada pula sangat singkat dalam menuliskan rinciaan belanjanya.

Setelah peserta diajak untuk dapat melihat dan praktik dalam membelanjakan uang, baik dalam simulasi maupun membuat anggaran, maka sebagai penegas dari itu semua fasilitator memberikan teori pengelolaan keuangan. Garis besar pengelolaan keuangan yang didasarkan pada: kebutuhan – prioritas & waktu – investasi.

Kategori: